Jumat, 23 Agustus 2013

Celoteh Perempuan

Celoteh Perempuan
Penulis: Angly, Anita Dhewayani, Asita Suryanto, Citra R. Teresa, Daveena, Ervina Savitri, Indah Juli, Irma Amir, Lusyana Muljono, Nastiti Denny, Rahma Utami, Rengsina Suryati, Rina Sipa, Theresia Tristanti, Tristi, Vivi Abdurachman
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8665-6
Cetakan pertama, Juli 2012
200 halaman
Pinjem @tezarnet


Siapa bilang menulis itu sulit? Tekad, kemauan belajar, dan latihan tanpa henti bisa jadi membuka bakat terpendam kita. Kumpulan cerita ini adalah karya para penulis perempuan yang boleh dibilang pemula, namun mereka bisa melihat sudut pandang yang tak biasa. Menyuguhkan apa yang dilihat dan dirasakan, dalam setting khayalan. Imajinasi terlihat didorong-dorong keluar, dibentuk, disajikan dengan rapi dalam rangkaian cerita.

Semua karya yang ada di sini adalah presentasi dari beragam rasa perempuan usia matang. Cara pikir dan menyikapi perasaan terpapar dengan jelas. Dan ini semua bisa jadi mewakili kita semua. Segala galau dan bahagia itu.


Kumpulan cerpen Celoteh Perempuan ini adalah hasil dari writing course yang diadakan oleh majalah MORE Indonesia, yang merupakan bagian dari program school of life. Writing course diikuti oleh 25 peserta perempuan berusia matang (kurang lebih berusia 40 tahunan) selama empat minggu penuh. Setiap minggu setiap peserta diminta untuk menulis satu cerpen untuk di review pada minggu depannya. Dan akhirnya, terpilihlah enam belas cerpen dari para perempuan yang hampir semuanya baru pertama kali belajar menulis.

Berikut daftar keenam belas cerpen tersebut:

Jadha - Angly
Kembang Sang Janda - Trisi
Untuk Ariqa - Irma Amir
Air Mata Mamak - Indah Juli
Bibi Tua - Rina Sipa
(Not) The First Wives Club - Daveena
Cinta Dalam Pasungan - Rahma Utami
Mata Hati, Matahari - Anita Dhewayani
My High Heels Life - Citra R. Teresa
Peri Hujan - Nastiti Denny
Viola - Vivi Abdurachman
Pulang - Asita Suryanto
Misteri Cinta Maghali - Ervina Savitri
Seto - Lusyana Muljono
Kotak Air Mata - Rengsina Suryati
I Will Always Love You - Theresia Tristanti

Tidak semua cerpen akan saya ulas, akan sangat panjangggg sekali. Saya ulas cerpen-cerpen yang menjadi favorit saya aja ya, lagian saya juga udah agak lupa sama cerpen yang lainnya :p

Peri Hujan

Sebagai putri Raja Langit, di usianya yang ke-17, Marta di turunkan ke Bumi untuk melewati ujian demi ujian. Setiap putri dan putra Raja mendapat tugas yang berbeda menurut kemampuan masing-masing. Albert, kakak tertua Marta pada usia ke-17 mendapatkan tugas memastikan cahaya Matahari yang sampai ke Bumi tidak bertambah dari waktu ke waktu, dengan dibekali serbuk beserta mantranya, dia bisa mencegah jilatan panas matahari ketika Sang Surya sedang naik pitam. Sebagai anak sulung, tugas Albert adalah yang terberat. Lucas, kakak kedua Marta bertugas menemani Sang Bulan melaksanakan tugasnya di keheneningan malam. Bukan perkara mudah, Bulan dipuja banyak Bintang yang mengitarinya mereka berebut untuk mengajak Bulan keluar dari orbitnya dan itu tidak boleh terjadi.

Lalu apa tugas Marta? Menurut seluruh anggota Kerajaan Langit tugasnya sagatlah menyenangkan yaitu mendatangkan hujan ke Bumi. Tapi bagi Marta itu adalah tugas yang sangat berat, sudah seminggu tinggal di Bumi dia belum bisa mendatangkan hujan. Dia dibekali tongkat sihir yang diwariskan oleh Peri Hujan, bibi Jennie yang sebelumnya mengemban tugas Marta, yang sudah meninggal dan menjadi peri. Ketika sedang mencoba mendatangkan hujan untuk kesekian kalinya, tanpa disadari Marta ada seorang pemuda seusianya yang sedari tadi tersenyum sendiri memperhatikan Marta. Kemudian pemuda itu mendatangi Marta dan mengajak berkenalan, Andrew namanya. Dengan mudah pemuda itu bisa mendatangkan hujan dan langsung membuat Marta terpesona. Sayangnya, dia adalah putra mahkota Kerajaan Bumi. Musuh utama Kerajaan Langit tempat Marta tinggal, dan dia mempunyai pasangan tongkat sihir Marta.

Viola
Wow, itulah kesan saya ketika selesai membaca cerpen ini, saya bingung menuliskan ringkasan ceritanya karena takut spoiler, baiklkah intinya saja ya. Sudut pandangnya orang pertama (semoga tidak salah) Viola, dia menceritakan aktivitas suaminya di dapur, yang akan membuat roti gandum, dia menceritakan dengan rinci. Pada proses itulah semua teka teki di cerpen ini terungkap, kesedihan yang amat dalam yang dialami Arman sedikit terobati dengan membuat roti, kebiasaan yang dulu sering dilakukan istrinya, yang sangat dirindukannya. Superb!

Seto

Kehidupan Seto kecil jauh dari kebahagiaan. Bersama ibu dan Winda, kakak perempuannya, mereka menumpang hidup pada Pakde Kusno, kakak dari almarhum ayahnya. Seto sering mengalami perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan Budhenya, hanya menambah beban saja. Winda sangat sayang pada Seto kecil, dia rela memberikan ikan asinnya untuk bisa dinikmati adiknya yang kala itu berusia tiga tahun, dia mau melakukan apa saja agar ibu dan adiknya tidak mendapatkan perlakuan kasar dari Budhenya. Namun, harga yang sangat mahal harus dibayar oleh Winda dan Ibunya demi mendapatkan perlindungan dari Pakde, dan Seto besar akan membalasnya.

Dimulai dari cerpen pertama, saya rasa penulis punya modal yang sangat baik dalam menulis cerita fantasy, ketika selesai membaca buku ini saya berharap akan ada lanjutannya. Idenya sebenarnya cukup klise, Romeo & Juliet, kedua keluarga yang bermusuhan tetapi anak mereka saling jatuh cinta, penulis meramunya dengan sangat memikat dengan menghadirkan sihir. Cerpen kedua, wow wow wow dan wow! Sukaaaaaaa banget penulis menuliskan jalan ceritanya, saya rasa belum ada yang menulis seperti ini, membuat roti untuk melepas rindu, dan selama prosesnya, Arman kembali ke kenangan yang tidak pernah ingin dia alami selama dia membuat roti, walau efek kejutnya sudah dibocorkan di wal-awal, tetap saja endingnya masih memiliki twist yang super keren. Cerpen ketiga, mungkin ceritanya sudah banyak diangkat ke sinetron, tetep saja penulis bisa membuat saya ikut sakit hati dengan kelakuan keluarga Pakde Kusno, walau sedikit kejam, saya cukup puas dengan edingnya. Cerita ini berbau balas dendam.

Mayoritas cerpen dibuku ini bercerita tentang perempuan, ada beberapa cerpen menghadirkan sebuah adat untuk menghadirkan tema yang sedikit berbeda, banyak yang bercerita tentang sosok ibu dan permasalahan rumah tangga. Untuk pertama kalinya menulis dengan hasil yang tidak mengecewakan, saya rasa perempuan-perempuan yang berkontribusi di buku ini memiliki bakat terpendam dalam dunia literatur, semoga saja tidak berhenti sampe di sini, dan untuk ketiga penulis yang cerpennya saya favoritkan semoga saja akan ada karya selanjutnya, sayang sekali kalau disia-siakan :D. Oh ya, kalau nggak salah majalah MORE akan menerbitkan 'seri kedua', kita tunggu saja semoga banyak penulis baru yang bermunculan dengan karya yang menakjubkan :D

Buku ini saya rekomendasikan bagi semua perempuan, lelaki juga tentunya :p

3 sayap untuk Peri Hujan

6 komentar:

  1. Untung aja judul Peri Hujan nggak salah tulis jadi Peri Hutan, mbak. *eh :>)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, aku masih berharap semoga ada cerita tentang Peri Hutan yang keren :p

      Hapus
  2. Wah kumpulan cerpen nya kayanya menarik .... jangan2 peri hujan masih sodaraan sm peri hutan ya ^^

    BalasHapus
  3. Suka sama cerita yang peri hujan, seru dan menarik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ngarep ada lanjutannya nih :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...