Kamis, 11 Juli 2013

Katarsis

17786536

Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Editor: Hetih Rusli
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-9466-8
Cetakan pertama, April 2013
264 halaman
Pinjem @ndarow


Sinopsis:

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.

Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?


My Review:


Sinting. Sinting. Sinting.
Itulah yang saya rasakan ketika memahami hampir semua karakter tokoh yang ada di buku ini. Jujur saja, saya bukan pecinta thriller terlebih buku ini masuk kedalam ketegori genre psychology thriller, di mana masih agak asing ditelinga saya karena saya tidak bisa menginggat apakah ada buku dari penulis Indonesia yang pernah mengambil tema yang sama. Biasanya saya lebih suka menikmati versi visualnya, lebih mudah bagi saya untuk menebak siapa dalang semua kejadian. Tapi, melihat cover buku ini yang simple memudahkan saya mengetahui siapa pelaku sebenarnya dari awal saya membaca.

Seorang pemuda ditemukan tubuhnya termutilasi dan potongan tubuhnya berceceran di sekitar rumahnya, ibunya Sasi Johandi dan pamannya Bara Johandi tewas dengan banyak luka tusukan di tubuh mereka. Suami Sasi, Arif Johandi masih dalam keadaan kritis. Hanya satu orang yang ditemukan hidup walau dalam keadaan dehidrasi dan syok berat karena ditemukan di dalam kotak perkakas, dia adalah keponakan dari Sasi dan Arif, sepupu Moses, anak Bara, dia gadis berumur 18 tahun yang sekarang tinggal di Rumah Sakit Jiwa, dia bernama Tara Johandi.

Cerita tidak berhenti akan misteri pembunuhan keluarga Johandi dan siapa yang menaruh Tara di kotak perkakas selama dua hari sampai ditemukan pihak berwajib, muncul kembali psikopat yang menaruh korbannya di kotak perkakas beserta koin lima rupiah setalah bertahun-tahun absen.

Awalnya saya mengira kalau pelakunya hanya 'dia' ternyata semakin kebelakang semakin tak terduga, cerita mleber kemana- mana, tapi, karena penulis mengambil sudut pandang orang pertama dan ada dua orang yang menceritakannya secara langsung, cerita di buku ini mudah sekali diprediksi ditambah dengan adanya alur flashback yang sangat memperjelas. Mungkin tujuan utama penulis bukanlah memberi kejutan siapa pelakunya tapi lebih menampilkan sisi psikologis para tokohnya. Tara hidup dengan keluarga yang broken home, sejak kecil dia sudah melihat perlakuan keji ayahnya yang sering memukul ibunya dan selingkuh dengan orang lain, menyebabkan dari kecil Tara tidak mau dipanggil dengan namanya dan tidak mau memanggil kedua orang tuanya dengan ayah dan ibu, membenci kedua orang tuanya.

Kekurangan buku ini atau yang disayangkan dari buku ini adalah minimnya kisah cinta, hahahaha tetep ya. Sebenarnya saya berharap banyak dengan Alfons -dokter jiwa yang merawat Tara- hanya saja sejak kemunculan Ello, teman masa kecil Tara tiba-tiba datang kembali dan membuat saya bingung akan perasaan Tara. Di satu sisi, Alfons adalah satu-satunya orang yang bisa dipercaya Tara, yang bisa membuatnya tenang, di sisi lain, dengan kemisteriusan Ello, Tara dibuat klepek-klepek, inginnya sih Tara lebih konsisten siapa yang dia suka, yasudahlah, namanya juga buka novel romance, Lis.

Saya baru kali pertama ini membaca novel dari Anastasia Aemilia, sebelumnya saya pernah membaca cerpennya di buku antologi Autumn Once More, ternyata selain piawai menulis kisah cinta, buku pertamanya yang bergenre psycology thriller ini sama sekali tidak mengecewakan, ide pembunuhan yang meletakkan para korban di kotak perkakas itu jenius dan sinting sinting sinting!

Buat kamu yang ingin mencoba membaca genre pcycology thriller dalam negeri, coba di mulai dari buku ini, kalau selanjutnya ketagihan, bukan tanggung jawab saya loh dan yang ngaku thriller freak, buku ini pantes kok untuk nambah koleksi buku bergenre thrillermu :D

4 sayap untuk daun mint.

5 komentar:

  1. jadi penasaran *suka misteri dan dark story* takut tapi penasaran #efekscorpiomoon

    BalasHapus
  2. hahaha, nggak mencekam kok :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo genre thriller dan horror yang kubaca itu RL Stine pas jaman sekolah dulu ^^ sekarang baru nyobain Stephen King Carrie, lumayan mencekam...

      Hapus
  3. Kalo menurut kak Sulis lebih serem nonton filn psycho thriller atau baca bukunya? Saya tertarik pengen baca buku psycho killer, tapi saya takut ntar pas baca bukunya muntah-muntah atau gak kuat ditengah jalan

    BalasHapus
  4. Serem cerita mutilasinya
    Aku lebih milih cerita horror daripada mutilasi dll
    Gak suka aja

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...