Rabu, 17 Juli 2013

Haru Syndrome’s Waiting Room

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan email dari Penerbit Haru yang berisi ajakan kerja sama untuk para reviewer. Tiga bulan ini saya menjadi salah satu anggota BBI yang berkesempatan mendapatkan buku-buku terbaru dari Haru dan mereviewnya, yah walau kadang sedikit terlambat posting saya berusaha menyelesaikannya ^^. Haru Syndrome's Waiting Room adalah ruang tunggu yang dibuat khusus buat semua pembaca novel Haru yang sudah terkena Haru Syndrome. Haru Syndrome sendiri berarti sebutan bagi para pecinta buku Haru (kalau tidak salah :p), mulai tahun 2013 kemaren di setiap pembatas buku Haru ada sebuah material atau kupon yang bila dikumpulkan akan mendapatkan placebo dari Haru, untuk lebih lengkapnya tentang Haru Syndrome ini silahkan kunjungi penerbitharu.com.

Nah, blogger yang bisa masuk ke Haru Syndrome's Waitng Room ini adalah blogger yang Haru undang (tidak menutup kemungkinan nanti akan ada pendaftaran) yang sudah mereview novel Haru untuk diajak bercakap-cakap tentang buku yang sudah direview. Asiknya, kita nggak hanya menjawab pertanyaan dari Haru tapi kita juga boleh bertanya tentang Haru, tentang buku yang sudah diterjemahkan dan tentang profil penerbit Haru sendiri. Berikut isi wawancara saya dengan Haru kemaren, wawancaranya saya copas dari note fb penerbit Haru: 


 [Haru Syndrome’s Waiting Room] Peri Hutan: Explicit Love Story: Novel Dewasa yang Kocak
Pertanyaan untuk Sulis


1. Bisa ceritain sedikit dong, biasanya genre bacaan kamu apa aja? Dan sejak kapan mulai rutin menuliskan review buku?

Awalnya bacaan saya cuma romance, romance dan romance. Kemudian mengenal fantasy dan tersihir akan dunianya sehingga menjadika dua genre itu menjadi yang paling favorit. Mulai rutin nulis review saat bergabung dengan BBI (Blogger Buku Indonesia) pada tahun 2011. Mulanya hanya nulis komentar singkat di Goodreads, masuk BBI menjadikan saya untuk lebih rajin dan belajar mereview buku.

Sejak masuk BBI bacaan saya lebih berwarna, yang tadinya hanya seputar romance dan fantasy, sekarang mulai merambah genre lain seperti; buku-buku yang beraroma dark, historical fiction, thriller, children book, bahkan buku sastra yang 'berat' pun berani saya coba. Perluasan genre, tantangan untuk diri saya sendiri, mencoba keluar dari zona nyaman demi mendapatkan pengalaman yang lebih :)

2. Secara keseluruhan, menurut kamu Explicit Love Story itu bagaimana?

Kocak banget! Walau konteksnya termasuk novel dewasa, Explicit Love Story tidak susah dicerna bagi yang pengetahuannya nol besar tantang seks, bahkan bisa untuk pelajaran masa depan, ehehehe, tentunya bagi yang sudah halal soalnya penulis sering banget di tengah-tengah adegan panas menyisipkan humor atau adegan yang konyol banget.

Saya juga suka tema terbesar yang diangkat penulis yaitu tentang kepercayaan. Kepercayaan menurut saya salah satu fondasi yang paling dasar dalam sebuah hubungan pria dan wanita, kalau tidak ada rasa saling percaya jadinya akan kayak Lee Seon yang curiga dan berpikir negatif tentang jati diri Gyu Jin sebenarnya, padahal mungkin Gyu Jin membutuhkan timing yang tepat untuk berkata yang sebenarnya. Rasa nggak percaya ini menyebabkan Lee Seon mempertanyakan Gyu Jin beneran cinta nggak sih sama dia.

3. Menurutmu, apa yang membedakan novelini dengan novel-novel lainnya?


Label novel dewasanya. Setahu saya baru kali ini ya Haru menerjemahkan novel dewasa? Karena sejak awal membuka buku ini kita sudah disuguhkan sesuatu yang 'panas'. Tapi serunya, penulis membuat pembaca merasa enjoy ketika membacanya, dia menggunakan kelakuan konyol sang tokoh, bukannya jijik kita malah akan tertawa terpingkal-pingkal. Mungkin itu yang menjadi kekhasan penulis dan yang membedakannya dengan yang lain. Tema dewasa dan humor didalamnya.

4. Dalam review, kamu menyebutkan bahwa terjemahan ini tidak terasa kaku. Bisa tolong jelaskan bagaimana sih menurutmu terjemahan yang kaku dan yang enak dibaca?


Agak sulit jelasinnya, kayak kalau ditanya cerita yang mengalir itu yang kayak gimana :D. Maksudnya kaku dan enak dibaca itu ketika saya membaca sebuah novel terjemahan saya merasa ada yang aneh, ada kata-kata yang kurang pas. Kalau kata temen saya, kadang bahasa asing yang diterjemahkan ke bahasa Indonedia itu bisa memiliki arti yang berbeda dengan yang dimaksud. Jadi, diksi atau pemilihan katanya menjadi rancu, tidak pas.

Saya tidak pernah membaca versi asli sebuah buku yang diterjemahkan, tapi saya selalu merasakan bila ada sesuatu yang aneh, karena membuat saya binggung mencerna kata-katanya dan membuat saya harus membacanya berkali-kali agar mengerti kalimat yang dimaksud.

5. Jika ada terjemahan Haru lagi, ingin baca yang genre-nya (atau terjemahan mana) seperti apa nih? Share your opinion ya :)

Yang bertema dewasa lagi, hahahaha. Lha kan baru sedikit *dikeplak*. Pengennya membaca cerita yang nggak melulu tentang cinta jadi benci. Saya lagi nyari cerita romance yang berbau masakan dan tentang cinta terlarang. Pengen Haru menemukan dan menerjemahkan buku-buku yang bertema seperti itu karena saya agak kesusahan mencarinya dan baru dapat beberapa :D


PERTANYAAN UNTUK HARU

1.      Banyak yang mengenal Haru kalau khusus menerbitkan buku-buku berbau Korea dan Jepang. Menurut saya, buku-buku tersebut memang sedang tren beberapa tahun belakangan ini dan sebuah tren pasti akan memasuki masa kejenuhan dan akan berganti dengan tren yang lain. Menurut Haru bagaimana? Apakah akan konsisten atau terus mengikuti perkembangan pasar atau tren yang sedang panas?

Sebenarnya, lebih tepatnya… Haru memfokuskan diri untuk menerbitkan buku-buku berkonten Asia. Kebetulan beberapa tahun terakhir ini Korea dan Jepang yang sedang ngetren, sehingga dua negara itu yang lebih dahulu di-push sementara mencari novel lokal bersetting Indonesia dan novel terjemahan yang lain.

Sayangnya, justru gara-gara itu, pembaca mengira Haru HANYA menerbitkan novel berlatar Korea dan Jepang. Padahal nih, Haru juga ingin mengembangkan novel lokal dan sampai saat ini justru kesulitan mendapatkan naskah yang menggunakan latar Indonesia. Oleh karena itu, Haru mengadakan lomba menulis novel 100 Days of Romance terutama untuk mencari naskah-naskah yang bisa memenuhi keperluan kami.

2.      Kalau melihat para penulis di Haru kebanyakan dari luar, kalau nggak Korea ya Jepang. Apakah syarat utama mengirimkan naskah harus bertema Korea atau Jepang? Atau apakah ada kriteria khusus?

Tidak ada keharusan. Haru menerima novel dengan latar di manapun, termasuk fantasy selama cerita yang diusung masih menitikberatkan di genre ‘romance’. Untuk tata cara mengirimkan naskah bisa cek kewebsite penerbitharu.com.
3.      Apakah Haru tidak berkeinginan menerbitkan buku-buku dari Barat seperti buku-buku yang bergenre Young Adult dan New Adult? Padahal genre tersebut lagi banyak diminati dan di Indonesia pun baru sedikit yang menerjemahkannya. Dan apakah Haru tidak tertarik dengan genre fantasy?

Ke depannya, Haru juga ingin mencoba novel barat, apalagi kalau ada orang-orang yang mau memberikan rekomendasi novel seperti apa yang diinginkan. Sedangkan untuk fantasy, jelas tertarik sekali, namun sekali lagi, kami masih memfokuskan ke novel-novel Asia.

4.      Explicit Love Story kan bertema dewasa, apa yang membuat Haru berani mengambil tema tersebut untuk diterjemahkan? Padahal pembaca Haru mayoritas masih remaja.

Pertimbangan utama adalah nama besar penulisnya yang terkenal melalui Personal Taste. Kemudian sinopsis dan ide ceritanya yang kocak juga menjadi pertimbangan penting.

Selain itu, setelah dibaca, meski Explicit LoveStory adalah novel dewasa, ada banyak pengetahuan yang bisa didapatkan dan diambil nilai positifnya (Sulis pun menuliskan poin ini di review yang dibuat, kan?). Namun tetap saja, sebelum menerbitkan novel ini, Haru banyak mencari informasi dan membaca novel-novel yang sudah ada di pasaran Indonesia sebagai perbandingan mengenai konten dewasanya.

Pelabelan ‘novel dewasa’ juga dilakukan untuk mengingatkan para remaja bahwa target utama novel ini bukanlah mereka, tapi pembaca yang sudah cukup umur. Untung saja, para pembaca juga bertanya dan menyebutkan umur mereka di twitter apakah mereka buku ini bisa mereka baca, sehingga kami bisa memberikan arahan.

Meski sudah diberi label ‘dewasa’, novel ini juga tidak begitu saja terbit. Haru memberikan perhatian yang lebih ketat. Salah satunya… kalau dihitung-hitung, hampir ada 15 halaman yang dipotong karena kami melakukan ‘sensor’ pada naskah. Jadi sebenarnya, adegan dewasa di novel ini banyak yang dihilangkan :)


5.   Ada keinginan lagi nggak menerjemahkan novel dewasa yang berasal dari Korea atau Jepang? :p

Niat itu selalu ada. Tapi harus menunggu respon pasar dulu dari Explicit Love Story. Semoga banyak yang menyukai novel ini, ya!

Sekian perbincangan Haru dan Sulis. Sampai jumpa di 'ruang tunggu' berikutnya! Bye-bye!!!

Mengenai nara sumber
Hai hoo, nama saya Sulis kalau di social media lebih dikenal dengan PeriHutan. Bershio naga dan berzodiak sagitarius. Sehari-hari bekerja sebagai full time 'Juru Rawat' jadi waktu baca dan ngreviewnya kalau ada waktu senggang atau pas libur. Suka banget sama genre romance dan fantasy.

Punya dua blog buku; Kutu Bokek (http://blogperihutan.wordpress.com) yang berisi review buku berbagai genre sedangkan Kubikel Romance (http://kubikelromance.blogspot.com) adalah blog khusus buku romance. Punya obsesi mengumpulkan berbagai macam kisah cinta.

Nah, itulah hasil bincang-bicang saya dengan Haru, saya merasa tersanjung season tujuh! XD. Terimakasih atas kesempatan yang diberikan oleh Haru, semoga saja dengan wawancara ini membuka kesempatan saya dilirik sama majalah People (?)

Buat yang penasaran sama novel Explicit Love Story bisa dilihat reviewnya di sini, eitssss yang boleh baca yang udah punya KTP loh ya :D

11 komentar:

  1. kaget jg ternyata Explicit Love Story di-cut 15 halaman.. pdhl yg terbit aja udh termasuk bnyak adegan 'itu'-nya xD

    BalasHapus
  2. Aku (entah kenapa) justru lebih pengen Haru fokus ke buku-buku konten Asia aja (kalo bisa sih coba terjemahin buku dari negara Asia lain juga) jadi semacam spesialisasi gituu, hehe
    Belakangan ini jg kualitas terbitan haru makin bagus, terjemahan makin enak dibaca dan kertas+font udah lebih baik, jadi makin suka ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalo dari segi cover dan terjemahan udah bagus, tapi lama-lama bosen kalau Korea dan Jepang melulu :)

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Aaak, haru mau nerbitin fantasi? terbitin Starry River of the Sky , donk Haruuuuu. itu latar dan penulisnya orang Asia, lhoh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah bagus ya mbak? baru denger kali ini :-?

      Hapus
  5. dipotong 15 halaman???? aw, mau dong yang edisi un-cut. bwihihi.

    BalasHapus
  6. pertanyaan dari haru buat mbak sulis yang nomer 5 bikin ngakak =))
    tapi setujuh siih, kan masih sedikit xDD #eh

    belum baca novel inii >,< jadinya belum tahu seberapa panas novelnya hahaha =))

    BalasHapus
  7. Memang sih awal-awal aku kira haru itu penerbit spesialis Jepang & Korea, hal itu terlihat dari novel-novel yg mendominasi dari dua negara tersebut.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...