Rabu, 10 April 2013

The Final Note

The Final Note
Penulis: Kevin Alan Milne
Penerjemah: Riana Irawati
Penyunting: Prisca Primasari
Cover: A. M. Wantoro
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-602-9225-47-1
Cetakan I, Juni 2012
484 halaman
Pinjem mbak Saptorini


Sinopsis:
Bagi Ethan Bright, Wina adalah kota kesayangannya. Di sanalah dia menempuh pendidikan musik yang dia cita-citakan, bertualang di Schonbrunn Palace, The Basilisk House, rumah Mozart, dan menikmati es krim gelato yang lezat. Lebih dari itu, di sanalah dia bertemu Annaliese, wanita cantik yang akhirnya menjadi istrinya.

Namun, cinta yang bersemi di Wina itu memudar setelah Ethan dan Annaliese menikah. Cobaan yang datang silih berganti membuat Ethan tanpa sadar berpaling. Dia menjadi sangat sibuk bekerja dan nyaris melupakan Annaliese, mengabaikan janji-janjinya, termasuk janji menciptakan sebuah lagu untuknya. Pertengkaran demi pertengkaran muncul, rumah tangga mereka pun semakin berantakan.

Sampai akhirnya terjadi sebuah kecelakaan yang mengancam nyawa Annaliese. Akankah peristiwa itu menyadarkan Ethan tentang cinta antara dirinya dan Annaliese? Dan apakah masih mungkin bagi Ethan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya, juga untuk menepati janjinya, menciptakan lagu untuk Annaliese, sebelum semuanya terlambat...?




Sebelumnya saya tidak kepikiran untuk membaca buku ini, baca beberapa review dari teman-teman mereka berpendapat kalau buku ini recomended banget terlebih buat yang suka cerita sedih. Karna alasan itulah saya enggan membacanya, saya lagi kepengen baca cerita yang happy. Kemudian saya melihat mbak Prisca Primasari merekomendasikan buku ini di Goodreads kepada saya, dia bilang bukunya sedih. Bikin saya penasaran. Kalau sudah begitu maka saya harus benar-benar membacanya. Beruntung sekali ketika mau kopdar Goodreads Solo ada teman yang menawarkan buku ini, tidak membuang kesempatan saya bilang PINJAMMMMMM :p. Buku ini membuat saya mrebes mili ketika membacanya.

Garis besar ceritanya tidak jauh berbeda dari sinopsis di atas, hanya saja menurut saya ada dua cerita yang dominan di buku ini, kisah cinta Ethan-Annaliese dan kenangan  Grandpa Bright dengan Karl, gitar kesayangannya.

Apa yang kualami ini benar-benar jarang terjadi kepadaku -sakit cinta dengan dosis sehebat ini hanya terjadi sekali dalam hidupku.
Aku pun tahu bahwa penyebab dan obatnya hanya satu: Annaliese Burke.


Kisah cinta Ethan dan Annalise tergolong biasa, sudah banyak kisah cinta seperti mereka, yang membuat berbeda adalah perubahan-perubahan yang mulai muncul setelah pernikahan mereka. Ethan pertama kali bertemu dengan Anna di Winna. Ketika itu Ethan sedang menyelesaikan studi S2 jurusan musik, Ethan dibesarkan oleh Granpa Bright, ayah kandungnya melupakannya setelah ditinggal istrinya sehingga Granpa sudah seperti ayah bagi Ethan, dia juga yang membiayai semua keperluan Ethan, hanya saja Ethan harus lebih berusaha lebih keras agar tidak bergantung terus-menerus, Granpa memberikan gitar kesayangannya, Karl yang bisa digunakan Ethan mencari nafkah, yaitu dengan mengamen di kota Wina. Saat itulah dia melihat Anna yang sedang liburan, Ethan langsung terpikat dan dia menawarkan diri untuk menjadi pemandu wisata, kebersamaan mereka yang baru seumur jagung tidak membuat Ethan lama-lama melamar Anna.

"Apa kau ingat hal apa yang kau tanyakan kepadaku sebelum naik kereta ke Venesia?"
Ia memiringkan kepalanya dan tersenyum. "tentu saja. Aku bertanya seberapa jauh kau akan pergi untuk menemuiku lagi."
"Dan jawabanku?"
"Bergantung di mana kau berada."
"Tepat. Dan aku masih merasakan itu. Dan perasaan itu kini terasa lebih kuat."


Ethan bercita-cita sebagai pembuat lagu sedangkan Anna ingin sekali menjadi ilustrator buku anak, dan semua itu hilang ketika mereka menikah. Awal pernikahan mereka indah walau hidup dalam kesederhanaan. Ethan menolak semua fasilitas yang ingin diberikan ayah Anna yang kaya raya, dia juga sedikit iri dengan kesuksesan saudara-saudara Anna tapi dia ingin mandiri, dia ingin memberikan yang terbaik untuk Anna dari hasil jerih payahnya. Menjadi pembuat lagu bukanlah profesi yang mendatangkan banyak uang belum lagi tidak ada yang berniat pada lagu ciptaan Ethan. Cobaan tak henti-hentinya menghadang mereka, selain masalah finansial, mereka juga kehilangan rumah yang kebakaran karena ulah ceroboh Anna, Anna pun sibuk menjadi istri, dia ingin sekali punya anak, berkali-kali mencoba hasilnya selalu keguguran bahkan dia divonis rahimnya tidak kuat untuk mengandung. Mereka tidak pantang menyerah, Ethan diterima di perusahan pembuat jigle iklan sedangkan Anna bahagian akhirnya mereka mendapatkan anak juga, kembar, yang sayangnya hanya bertahan satu dan diberinama Hope.

Perubahan mulai terlihat ketika Ethan bekerja tanpa kenal waktu, dia menjadi gila kerja demi mengejar materi, sedikit sekali waktu yang diluangkan untuk keluarganya. Alasannya adalah untuk mencukupi kebutuhan mereka yang tidak sedikit. Anna ingin membantu keadaan finansial mereka dengan bekerja tapi Ethan tidak membolehkan, tugasnya adalah mengurus rumah dan anak. Yang paling parah adalah Ethan melupakan janji setiap ulang tahun pernikahan mereka yaitu menyanyinkan lagu cinptaannya bersama Karl dan Anna akan mengiriminya surat cinta. Ethan melupakan semua itu, tapi Anna tidak pernah ingkar janji dia selalu menyelipkan surat cinta itu di tubuh Karl, dan yang paling tidak bisa dimaafkan Anna adalah ketika hari ulang tahun Hope, tidak hanya lupa memberikan kado yang sudah di pesan Anna, dia tidak datang, Anna muak dengan semua janji-janji yang Ethan lontarkan. Kekecewaan itu berbuah tragis, Anna kecelakaan, ditabrak oleh remaja yang sedang mengirim sms kepada pacarnya ketika sedang menyetir mobil. Dia koma.

"Aku senang kau memiliki pekerjaan yang bagus. Aku benar-benar senang. Dan aku sangat bersyukur kau dapat menanggung biaya hidup kami seperti yang telah kau lakukan. Tapi uang hanya sebagian dari keperluan kita, dan kita bisa bertahan hidup dengan jumlah uang yang jauh lebih sedikit dari yang kau hasilkan sekarang. Ketika aku menikahimu, aku menikah denganmu, bukan dengan uangmu." Anna berhenti bicara untuk mengambil kantong plastik berwarna putih yang snagat familier dari meja dan melemparkannya ke pangkuanku. "Kau pasti akan terkejut saat mengetahui seberapa seringnya aku mengeluarkan dan membacanya, Ethan. Di saat miksin atau kaya, kau ingat? Kau hidup kaya berarti aku memiliki uangmu tapi tidak memiliki dirimu, maka mulai sekarang aku memilih miskin."


Semua kejadian itu menyadarkan Ethan, apa yang sebenarnya lebih penting dalam keluarga yang dibentuknya bersama Anna.

Cerita kedua adalah tentang masa lalu Grandpa Bright dan Karl. Bercerita pada masa holocaust, tapi saya tidak akan menceritakannya, sangat mengharukan, membuat saya mrebes mili, kebetulan saya lagi suka membaca hisfic tentang kegilaan Hitler jadi ketika membaca bagian itu sangat menyentuh sekali, terlebih riwayat kenapa gitar tua itu diberi nama Karl, nama seorang anak dari kaki tangan Hitler yang tidak bisa beberbuat kejam seperti ayahnya.

Buku ini saya baca tahun lalu, dalam rangka mengurangi hutang review dan pas sekali karena beberapa waktu yang lalu saya diceramahi teman kerja saya tentang pernikahan. Saya adalah satu-satunya yang belum menikah (sebenernya ada dua sih tapi yang satu katanya mau menikah) sehingga tidak jarang teman-teman usil menggoda saya. Ada tips yang diberikan oleh teman saya yang sekarang memiliki dua anak yang beranjak remaja. Pertama, lima tahun awal pernikahan adalah waktu yang sangat sangat penuh godaan, kalau sudah melewati masa itu maka selanjutnya akan lebih lancar. Masa itu adalah masa dimana kesetiaan, kejujuran, menoleransi segala perbedaan diuji, banyak yang gagal melewati masa itu. Kedua adalah pentingnya seorang wanita menjadi materialistis. Uang memang menjadi salah satu retaknya sebuah rumah tangga dan tidak salah kalau seorang wanita matre, bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk masa depannya, masa depan anaknya. Semua pelajaran itu saya tampung, tidak langsung saya benarkan, mungkin poin pertama bisa.

Menurut saya hal yang paling penting dalam sebuah hubungan adalah komitmen, jujur dan saling percaya. Kemudian kita harus membuat prioritas dalam tujuan yang ingin kita capai bersama. Tidak salah teman saya mempunyai prinsip seperti itu tidak salah juga Anna lebih baik miskin daripada dia kehilangan keberadaan Ethan. Ayah saya pernah berkata, sebelum umur 30 tahun dan sebelum mempunyai anak, ada baiknya sebuah keluarga sudah memiliki rumah pribadi, karena ketika kita mempunyai anak, penghasilan kita akan tersedot dengan berbagai hal kebutuhan anak dan pendidikannya. Materi memang menjadi salah satu pondasi penting dalam sebuah keluarga. Aduh, kenapa saya jadi nyrocos ngomongin keluarga di sini *jodoh mana jodoh*.

Letak masalahnya adalah Ethan melupakan semua komitmen dan priorotas yang pernah ia janjikan kepada Anna, dia selalu merasa tidak cukup, dia ingin memberikan lebih kepada Anna. Itu bagus, siapa sih yang nggak ingin dimanja, apalagi oleh suami kita sendiri, Ethan sangat mencintai Anna dan dia ingin yang terbaik untuknya, hanya saja dia keblabasan, waktu yang dia punya tersedot oleh pekerjaan sehingga walau bergelimang harta, seseorang yang mencintai dengan tulus pasangannya akan tetap merasa kehilangan, lebih baik mereka serba kekurangan seperti ketika awal-awal pernikahan, lebih baik cukup daripada berlebih asal keluarga bahagia sentosa.

Buku ini penuh dengan pesan moral, terlebih tentang pernikahan. Jadi, yang belum menikah atau yang sudah menikah saya rekomendasikan membaca buku ini, sebagai pelajaran kalau dunia pernikahan itu tidaklah sesederhana yang kita bayangkan.

Mungkin ada alasan mengapa aku tidak bisa menjadi pencipta lagu profesional -barangkali karena aku tak benar-benar berbakat menulis lagu, atau setidaknya tak sesempurna yang kuinginkan. Tak seorang pun yang membeli lagu ciptaanku. Tak pernah ada yang mendengar lagu rock yang kunyanyikan di radio ataupun mengunduh salah satu lagu country-ku dari iTunes. Tapi saat kau tulis sebuah lagu untuk belahan jiwamu, maka kau takkan lagi memikirkan itu semua.


4 sayap untuk perjuangan Ethan Bright dan gitarnya.

6 komentar:

  1. Udah pernah baca novel ini,tp gak sempat bikin review-nya :)

    Selain yg disampaikan di review ini, The Final Note punya kelebihan lain. Penulisnya laki-laki tapi mampu menulis novel spt ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kayaknya dia saingannya Nicholas Spark deh, cuman kalo NS suka tega bikin endingnya :p

      Hapus
    2. Iya mba Nicholas Spark selalu bikin nangis.... kalo ga cowo nya sakit, klo ga amnesia atau pisah.... coba cari ah pengarang di atas ^^

      Hapus
  2. Aku pas baca buku ini juga kersa sedihnya. Soalnya makin besar tanggung jawab, makin besar juga komitmen yg harus dibuat. Ceritanya bagus buat dijadikan pelajaran

    BalasHapus
  3. Setuju banget dg pernyataan ini: hal yang paling penting dalam sebuah hubungan adalah komitmen, jujur dan saling percaya.
    Btw, quote terakhirnya gombal parah. hihi

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...