Senin, 22 April 2013

Blue Romance

Blue Romance
Penulis: Sheva
Penyunting: Donna Widjajanto
Desain sampul dan ilustrasi: Diani Apsari, Teguh Pandirian
Penerbit: PlotPoint Publishing
ISBN: 978-602-9481-16-7
216 halaman
Harga: 23k (beli di SCB)


Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.

Blue Romance menyediakan kopi ternikmat dan sahabat saat kau dituntut untuk terus terjaga. Blue Romance juga punya banyak cerita. Ada kisah jatuh cinta dan patah hati, perpisahan dan pertemuan kembali. Kisah-kisah ini berbalut kafein dan aroma kopi, berderai tawa dan tangis, di sela desis coffee maker.

Seperti Latte, Affogato, Americano, dan Espresso, setiap kisah punya kopinya sendiri.

Kisah mana yang cocok dengan kopimu?




Setiap kisah punya kopinya sendiri, tagline buku ini menginggatkan saya akan tagline blog buku ini, di setiap cerita selalu ada cinta :D. Ada tujuh jenis kopi di buku kumcer ini dan ada tujuh cerita di dalamnya. Buku ini merupakan omnibook, seri buku kumpulan kisah dengan satu benang merah, dan benang merah yang menghubungkan satu cerita dengan cerita lainnya yaitu coffee shop Blue Romance.

Rainy Saturday

Seharusnya, hari-hari tidak selalu penuh kejutan. Terlalu banyak kejutan hanya akan membuat hari-hari tidak ada kejutan sama sekali. Bahkan bisa berakhir tidak menyenangkan.

Bercerita tentang seorang cewek yang selalu menghabiskan sabtu paginya sarapan bersama affogato, 'me time' di Blue Romance. Hanya saja sabtu pagi itu berbeda, hujan  sepertinya sedang marah dan tak mau berhenti sehingga memaksa orang untuk berada di dalam cafe, membuat area indoor menjadi ramai. Kemudian datanglah seorang cowok yang tidak kebagian tempat duduk permisi untuk menempati kursi di depan meja si cewek. Pembicaraan yang awalnya hanya basa basi makin lama makin melebar, dan mereka ternyata memiliki kesamaan seperti sama-sama suka film Before Sunset. Ketika si cewek kembali dari kamar kecil dia tidak menemuakn keberadaan si cowok, dia hanya menemukan lembar-lembar post-it yang menjadi kode.

Buku ini menceritakan tentang strangers yang mulai merasakan benih-benih cinta di waktu dan tempat yang tak terduga, benar-benar menjadi pembuka yang manis, saya suka sekali terlebih bagaimana si cowok memberikan kode kapan mereka bertemu lagi, romantis sekali :D

1997-2002
Pernah waktu kecil kita menyukai seseorang dan awet sampai besar? Rika bertemu kembali dengan sahabatnya waktu kecil, Nico yang juga tetangganya yang sering memanggilnya Gendut dan Rika membalas dengan sebutan Kemoceng karena rambutnya ikal ke arah luar, dulu waktu kecil mereka suka sekali bermain dan nonton tivi bersama. Kebersamaan mereka harus dipisah karena Nico akan pindah ke Jerman, sebelum pindah Rika melakukan kesalahan sepele yang membuat mereka berantem, sampai pindah pun mereka tidak saling bertegur sapa. Sepuluh tahun kemudian, ditemani secangkir mochaccino, Rika bertemu Nico di Blue Romance dan menyusuri kenangan masa kecil.

"We've lost each other. So let's found ourselve by being together."

Bagian ini menginggatkan saya akan kenangan di masa kecil, sesekali saya menonton Lupus juga, menghabiskan waktu menonton kartun dan mengagumi Takuya Kimura di Long Vacation! Dorama itu adalah awal saya menyukai drama Jepang, saya jadi kangen waktu dulu stasiun lain ikutan gagap menayangkan drama sejenis dan saya bersyukur sekali. Bisa dibilang cerpen ini banyak mengandung unsur #Generasi90an :D

Blue Moon
Bercerita tentang Edi, seorang barista di Blue Romance. Tengah malam dia mendapati pelanggan seorang perempuan yang terlihat sedih dan mulutnya berbau alkohol memesan caffee latte. Tanpa disadarinya si perempuan curhat kalau dia menyesal tidak bertemu ayahnya dua hari yang lalu. Mendengar cerita si perempuan membuat Edi kembali teringan oleh ayahnya, yang selalu dia rindukan.

Blue Moon... You know just what I was there for... You heard me saying a prayer for someone I could really care for...

Cerpen yang bertema keluarga, menggingatkan kita akan besarnya jasa orangtua kita, yang kalau kita menginggatkan pasti akan membuat mata kita berkaca-kaca, terlebih seorang ayah. Dan bila punya kesalahan segeralah meminta maaf, jangan sampai terlambat.

A Farewall to A Dream
Ditemani americano, Bima menunggu kedatangan Anjani di Blue Romance. Dia pun menginggat pertemuan pertama mereka. Sejak pertama kali diperkenalkan temannya, Bram, Bima langsung jatuh hati pada Anjani yang selalu detail terhadap sesuatu. Perempuan itu menjadi penyemanggat Bima untuk tetap menulis, mendorongnya terus dan terus menulis, sifatnya yang introvert membuat Bima  tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Dan dia sempat berhenti menulis ketika Anjani dan Bram berpacaran, dia tidak ingin menghancurkan pertemanan mereka, maka dari itu dia menjaga jarak. Di depannya sekarang Bima melihat Anjani menangis, kedua kalinya, pertama ketika tahu Bima berhenti menulis dan sekarang ketika Bima membujuk Anjani untuk rujuk dengan Bram, dan di sanalah Anjani berkata jujur kalau sudah lama dia mencintai Bima.

Ada satu titik ketika terkadang setiap orang merasa tidak mampu melakukan hal-hal yang ia tahu ia bisa lakukan dengan sempurna. Mereka bisa sampai pada titik itu karena banyak hal. banyak penulis, sineas, maupun pekerja kreatif yang kehilangan muse untuk berkarya, dan berakhir antiklimak.

Cinta yang terpendam, cinta segitiga. Tema ini memang umum tapi penulis membuat karakter cowok yang akan membuat kita ingin 'manamparnya', kita akan terbawa emosi yang dirasakan Bima, bagaimana dia merasa hancur ketika dua sahabatnya pacaran, tidak mempunyai daya lagi untuk menulis karena penyemangatnya bahagia dengan orang lain. Dan saya ketawa ketika Anjani selalu salah menyebutkan nama terakhir Seno Gumira Ajidarma menjadi Seno Gumira Anjasmara, sedikit senyum ditengah cerita yang sendu.

Happy Days
Cerpen ini awalnya membingungkan bagi saya, memahami maksudnya setelah selesai membaca sampai akhir. Intinya adalah seorang wanita yang mencintai laki-laki, tapi ternyata laki-laki tersebut punya niat terselubung, untuk mendekati orang terdekat si wanita. Blue Romance, buku Kafka on the Shore dan secangkir coffee macchiato menjadi saksi siapa yang digandeng laki-laki yang dicintainya.

 "You could be happy, I hope you are... You're made me happier that I'd been by far..."

Apakah perlu kita menghapus sebuah memori yang paling menyakitkan di hidup kita?
Cerpen ini bercerita tentang rasa kecewa, rasa sakit dan bagaimana cara si tokoh utama menghadapi semuanya.

The Coffee & Cream Book Club
Bersama temannya Anya, Bening mendirikan book club yang diberi nama The Coffee & Cream Book Club. Kali ini mereka akan mengulas buku berjudul The Fault In Our Stars karya John Green bersama empat teman lainnya di Blue Romance. Syarat menjadi anggota tersebut adalah suka membaca, suka membahas buku, dan suka kopi dicampur dengan krimer atau coffee and cream. Book club yang eksklusif itu kedatangan seorang tamu yang tak diundang oleh salah satu anggotanya. Bening sangat terganggu dengan pendatang baru yang bernama Jeff, berumur lima puluh sembilan tahun, memesan frech toast, dan membawa anak kecil bernama Nina yang ternyata adalah cucunya. Diskusi yang seru dan seharusnya membahas buku yang ceritanya ringan dengan topik yang berat itu, dia malah menawarkan untuk membahas buku Matilda, buku favorit anaknya. Bening menjadi satu-satunya orang yang menolak usul tersebut. Matilda menginggatkan Bening akan kenangan pahit yang ingin disimpannya rapat-rapat.

 "Kadang orang tidak selalu bilang terang-terangan apa yang terjadi. Orang yang bahagia selalu menutupi kesedihan mereka dengan wajah tersenyum. Tapi mereka tidak tahu bahwa dengan melakukan itu, mereka hanya menjatuhkan diri mereka ke dalam jurang rasa sakit."
"Kayak dari cara kamu minum kopi. Kopi itu, kan, sebenarnya pahit, dan punya rasanya sendiri. Tapi kamu nggak mau merasakan rasa yang sebenarnya. Kamu menutupi semuanya dengan gula, dengan krimer yang banyak, supaya rasanya terasa sangat manis. You could't cover the bitterness of life, young girl... You just nee to let it go..."

Bercerita tentang kenangan yang menyakitkan, kesedihan yang sangat menyakitkan, kadang kita ingin memendam dan menutupinya tapi kadang kala cara terbaik untuk mengatasinya adalah menghadapinya. Bertema tentang keluarga juga.

A Tale about One Day
Kai Moreau, French-Javanese man, seorang guru bahasa Prancis di sebuah sekolah internasional di Jakarta sedang bingung memberikan nilai untuk salah satu muridnya yang menuliskan kalimat "Saya tidak pintar!" di lembar ujiannya ditemani secangkir espresso. Ketika kembali dari toilet dia menemukan gadis kecil yang berusia sekitar dua belas tahun duduk di meja yang ia tempati tadi. Anak kecil itu berkata kalau suka melihat pemandangan dari posisi itu. Karena enggan pindah, Kai membiarkan gadis kecil itu duduk di depannya. Tak lama setelah itu mereka bercakap-cakap, Kai pun mengetes gadis yang bernama Chantal Kharisma dengan bahasa Prancis dan gadis itu langsung fasih menjawabnya. Chantal bercerita kalau ayahnya orang Prancis, ibunyalah yang mengajari bahasa itu karena ayahnya pergi setelah mereka bercerai, sebelum Chantal lahir. Kai pun menceritakan gagalnya perkawinannya dulu karena merasa tidak mampu menafkai istrinya, mereka saling curhat akan masalah yang mereka alami. Dia pun tidak mampu menolak untuk menemani gadis kecil itu mencari tempat tinggal ayahnya.

Bercerita tentang kesempatan kedua, walau saya bisa menebak akhir ceritanya, saya sangat menikmati percakapan dua orang berbeda usia, mereka saling lepas mengeluarkan beban yang sebelumnya enggan mereka bagi. Cerpen ini juga bertema tentang keluarga.

***

Ketika saya menutup buku ini saya merasa puas sekali. Sukaaaaa, penulis ini punya potensi besar, ide ceritanya nggak biasa dan cara berceritanya nggak bisa ketebak, mengginggatkan saya akan Farida Susanty, salah satu penulis muda Indonesia yang saya sukai hanya saja tulisan dia lebih dark, sedangkan tulisan Sheva lebih sweet, menunggu karya selanjutnya siapa tahu Sheva bisa seperti Farida Susanty, penulis muda Indonesia favorit saya selanjutnya.

pembatasnya bisa buat ngaduk kopi :p
Di mulai dari covernya, suka banget, model cover jaman sekarang yaitu bolong :D trus ilustrasi yang mewarnai isi buku ini juga keren, yang paling dasyat itu bookmark-nya, yaitu sebuah sendok, di ujung yang cekung berbentuk oval ada quote yang berbunyi, "Adventure in life is good; consistency in coffee even better." - Justin Chen Headley, North of Beautiful, kreatif banget yang buat. Selain pembatas bukunya yang saya suka, di bawah judul cerpen akan ada penjelasan tentang macam-macam jenis kopi dan di atasnya akan ada gambar secangkir kopi dengan takaran yang sesuai dengan jenis kopi yang dimaksud, contohnya adalah kopi jenis mochaccino, yaitu espresso dengan cokelat, susu panas, biasanya bagian atasnya diberi whipped cream. Nah, gambar cangkir kopinya di dalamnya ada urutan/komposisinya, pertama whipped cream, di bawahnya ada steamed milk, chocholate dan yang paling dasar espresso. Mempermudah kita memahami jenis-jenis kopi, sangat informatif sekali.

Selain cerita yang menarik, buku ini diwarnai tentang musik (Ella Fitzgerald, Nat "King" Cole, Snow Patrol), film (filmnya Woody Allen, Before Sunset, Eternal Sunshine of The Spotless Mind), serial televisi (How I Met Your Mother), buku (The Great Gatsby, Kafka on the Shore, The Fault in Our Stars, The Museum of Innocence) yang sepertinya sangat disukai penulis. Membuat saya ingin merasakan keindahannya juga.

Ada beberapa typo namun tidak mengurangi keasikan membaca. Selain itu ada bagian yang menurut saya tidak ada penjelasan secara singkat dari penulis, seperti di cerpen A Farwell to A Dream yang menyebutkan kalau Andy Warhol punya Edie Sedgwick yang memberinya banyak ide untuk berkarya, siapa mereka? tidak semua orang tahu tentang mereka. Saya berharap penulis menceritakan sedikit tentang mereka seperti ketika dia bercerita tentang karyanya Orhan Pamuk di The Coffee & Cream Book Club, membuat saya ingin membaca The Museum of Innocence. Dan sepertinya Haruki Murakami menjadi salah satu penulis favorit Sheva dengan dua kali kemunculan buku Kafka on the Shore di dua cerpen, Blue Moon dan Happy Days. Ketika membaca kedua cerpen itu saya menemukan satu kesamaan, yaitu novel tersebut, saya berharap tidak hanya Blue Romance saja yang menjadi benang merah tetapi mempunyai alur yang sama. Edi menemukan buku Kafka on the Shore, milik salah satu penggunjung yang tertinggal dan tak pernah kembali untuk menggambilnya, sedangkan si cewek di cerpen Happy Days meninggalkan novel yang sedang dibacanya ketika melihat siapa yang digandeng pacarnya. Saya rasa akan jauh lebih menarik bila kedua atau kesemua cerpen ini mempuyai alur yang sama.

Walau begitu, saya tetap bisa menikmati semua ceritanya, saya sudah terhipnotis dengan gaya tulisan Sheva yang detail akan karakter, setting, semuanya, dan saya akan menunggu karya selanjutnya :D

Blue Romance terinspirasi kesukaan Sheva pada sebuah coffeeshop di film 'My Blueberry Nights' karena tidak menemukannya di Jakarta, Sheva membuat sendiri coffeeshop impiannya. Sebuah coffeeshop dengan nama yang sedih tapi cantik. Tempat dengan nama yang punya ironi, seperti padanan kopi yang pahit dengan gula yang manis, maka lahirlah Blue Romance, begitu penjelasan penulis di bagian Sesapan Terakhir. Selain itu, cerpen The Coffee and Cream Book Club juga terinspirasi dari bookclub yang diikuti penulis, salah satu tempat diskusi di Goodreads, Indonesians Who Love English Books.

Recomended buat yang ingin mencoba karya penulis baru, cerita yang sedih tapi indah dan semuanya memiliki benang merah.

Empat sayap untuk Affogato, jenis kopi yang kayaknya bakalan saya suka :D
 

14 komentar:

  1. salam kenal, kak peri hutan...
    eh, aku punya bukunya. beli karena suka liyat covernya. tapi belum dibaca #ngumpet

    BalasHapus
    Balasan
    1. lah kita kan udah kenal mbak :))

      Hapus
  2. aku punya bukunyaaa... sama kayak Teh Peni. Masih di timbunan, :p

    BalasHapus
  3. Halo mbak.. abis baca review ini aku jadi pengen baca. beberapa kali ke toko buku, udah pegang buku ini tapi ragu2. Hehe.

    Salam kenal.. =]

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo herlin, salam kenal juga, bagus kok bukunya ayo dibaca :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. Kalau rumah kamu deket denganku aku pinjemin deh :)

      Hapus
  5. Ahhhh aku juga suka buku ini :D Btw Affokato enak banget lho, es krim vanilla disiram kopi panas gitu... Kalau dimakan di atas wafel enak banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akkkk, jadi pingin nyobain, semoga jodoh deh :)

      Hapus
  6. Mendengar kata kopi teringat blog http://www.minumkopi.com/ >> isinya all about coffee
    Quote yg ini, aku banget loh mbak -->"Kadang orang tidak selalu bilang terang-terangan apa yang terjadi. Orang yang bahagia selalu menutupi kesedihan mereka dengan wajah tersenyum. Tapi mereka tidak tahu bahwa dengan melakukan itu, mereka hanya menjatuhkan diri mereka ke dalam jurang rasa sakit."
    "Kayak dari cara kamu minum kopi. Kopi itu, kan, sebenarnya pahit, dan punya rasanya sendiri. Tapi kamu nggak mau merasakan rasa yang sebenarnya. Kamu menutupi semuanya dengan gula, dengan krimer yang banyak, supaya rasanya terasa sangat manis. You could't cover the bitterness of life, young girl... You just nee to let it go..."

    Btw, coklat sudah, kopi juga sudah. Nah, kalo es krim, susu, teh, juice ada novelnya gak yah? #ngawur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang sering diangkat emang kopi, tapi teh kayaknya ada juga walau nggak spesifik :)

      Hapus
  7. Bookmarknya lucu banget...aaaa pengennnn baca buku ini.... makasih reviewnya Mba sulis ^^

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...