Senin, 11 Maret 2013

Momo

2189720

Momo
Penulis: Michael Ende
Alih bahasa: Hendarto Setiadi
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 979-22-0943-3
Cetakan pertama, Juli 2004
320 halaman
Pinjam @pippopu

Anak perempuan kecil itu bernama Momo, penampilannya aneh dan selalu kotor, ia pendek dan kurus sehingga tidak ada yang tahu dia berusia delapan atau sudah dua belas tahun. Dia tinggal di reruntuhan amfiteater. Dia tidak tahu siapa orangtuanya, tidak tahu tentang asal usulnya tapi dia bersahabat dengan banyak orang, orang-orang dari lingkungan sekitar yang tidak jauh dari  tempat tinggalnya. Momo mempunyai bakat, sebuah bakat yang amat dibutuhkan. Kalau mereka tidak bisa menemui Momo maka dengan baik hati Momo akan datang membantu memecahkan masalah mereka, "Coba cari Momo!". Bukan sebuah bakat yang luar biasa, sebuah bakat yang sebenarnya dimiliki setiap orang, kalau mereka sadar. Bakat yang dimiliki Momo kecil adalah: mendengarkan. Di mana hanya sedikit orang yang sanggup mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dan kemampuan Momo mendengarkan tidak ada tandingannya.

Begitu pandainya Momo mendengarkan, sehingga orang bodoh pun mendadak bisa mendapatkan ide gemilang. Bukan karena Momo mengatakan atau menanyakan sesuatu yang bisa mengarahkan pikiran orang lain, bukan, ia hanya duduk mendengarkan orang itu dengan segenap perhatian dan dengan sepenuh hati. Ia akan menatap orang tersebut dengan matanya yang besar dan berwarna gelap, dan orang yang bersangkutan akan merasa bagaimana berbagai ide yang tak pernah disangka-sangka muncul dalam kepalanya.

Begitu pandainya Momo mendengarkan, sehingga orang yang semula bingung atau ragu-ragu mendadak tahu persis apa yang ia inginkan, orang yang pemalu menjadi bebas dan berani, dan orang yang tidak bahagia dan tertekan pun berbesar hati dan merasa gembira. Jika ada orang yang merasa hidupnya sia-sia dan tak berani dan bahwa ia hanya satu di antara sekian juta orang, bahwa ia tidak penting dan dapat diagantikan semudah mengganti panci yang rusak, dan ia mencari Momo kecil untuk mencurahkan isi hatinya, maka sambil berbicara ia akan sadar sendiri bahwa ia keliru, bahwa ia, sebagaimana adanya, tak ada duanya, dan bahwa karena itu ia pun penting bagi dunia.

Begitu pandainya Momo mendengarkan!
Momo mempunyai banyak teman, baik itu orang dewasa atau anak-anak. Momo juga menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan permainan baru, bukan, bukan dia yang memberikan usul, dia hanya datang dan ikut bermain, justru itulah yang menjadikan anak-anak menjadi kreatif. Walau mempunyai banyak teman, Momo mempunyai dua sahabat karib yang setiap hari berkunjung dan berbagi segala hal. Yang satu masih muda dan yang satunya lagi sudah tua, Momo sangat menyanyangi keduanya. Sahabatnya yang tua bernama Beppo Tukangsapujalanan, dia dipanggil seperti itu karena pekerjaannya adalah tukang sapu jalanan, ia sangat pendek, agak bungkuk, kepalanya besar agak miring, dipenuhi uban dan memakai kacamata, dia tinggal di sebuah gubuk yang tidak jauh dari amfiteater. Dia dianggap kurang waras karena dia tidak pernah menjawab jika ditanya dan hanya tersenyum, hanya Momo yang sabar dan mengerti, Beppo hanya membutuhkan waktu agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak benar. Menurut Beppo, seluruh kemalangan di dunia disebabkan oleh banyaknya kebohongan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, yang timbul semata-mata karena orang terburu-buru atau kurang teliti. Sahabat yang satu lagi masih muda dan sangat berlawanan dengan Beppo Tukangsapujalanan, ia tampan tapi tidak bisa diam, dia suka sekali tertawa dan bercerita. Ia tidak mempunyai pekerjaan tetap. Namanya Girolamo, tetapi semua orang memanggilnya Gigi Pemanduwisata, sama seperti Beppo, bedanya namanya diambil dari salah satu pekerjaan tidak tetapnya. Dari ocehannya, Gigi bermimpi menjadi terkenal dan kaya raya.
Ada suatu rahasia besar yang sangat misterius, namun sekaligus sangat dikenal. Semua orang terlibat, semua orang mengetahuinya, tetapi jarang sekali ada yang pernah memikirkannya. Sebagian besar orang menerimanya begitu saja, tanpa merasa heran sedikit pun. Rahasia itu adalah waktu.

Kita mempunyai penanggalan dan jam untuk mengukur waktu, namun itu tidak berarti banyak, sebab kita semua tahu bahwa satu jam bisa terasa seakan-akan tanpa akhir, tetapi bisa juga terasa bagaikan sekejap mata -tergantung apa yang kita alami selama satu jam itu. Sebab waktu adalah kehidupan. Dan kehidupan berpusat di dalam hati.
Tua kelabu sangat paham nilai satu jam, satu menit, bahkan satu detik kehidupan, mereka seperti lintah darat. Mereka sudah mempunyai rencana untuk waktu yang dimiliki semua orang, tak seorang pun tahu tentang keberadaan tuan kelabu, mereka sering berkeliaran tanpa menarik perhatian sehingga tujuan mereka tidak diketahui siapa pun. Mereka akan mendekati orang-orang yang boros waktu; orang yang suka mengobrol, tidur selama delapan jam, berbelanja, kegiatan yang selalu kita lakukan setiap hari dengan berlama-lama dianggap terlalu banyak membuang waktu dengan cara yang tidak bertanggung jawab. Tuan kelabu menghitung jumlah waktu yang terbuang yang sebenarnya bisa ditabung, begitulah cara mengelabuinya. Tuan kelabu adalah Bank Waktu, mereka menyimpan waktu dan membayar bunga, mereka membuat orang-orang berhemat dengan waktu yang mereka miliki, melakukan hal yang seperlunya saja tanpa berlama-lama mengerjakannya, membuat orang menghindari semua hal yang tidak perlu. Orang-orang kini menjadi anggota masyarakat penabung waktu, orang-orang kini tidak mengenal ungkapan, "Coba cari Momo!".
Sepertinya tak seorang pun sadar bahwa upaya menghemat waktu sekaligus menyebabkan penghematan dalam hal lain. Tak seorang pun mau mengakui bahwa hidupnya semakin miskin, semakin seragam, dan semakin dingin. Yang paling merasakan hal itu adalah anak-anak, sebab untuk mereka pun tak ada waktu lagi.

Tetapi waktu adalah kehidupan. Dan kehidupan berpusat di dalam hati.

Dan semakin getol orang-orang menghemat, semakin sedikit yang dapat mereka nikmati.
Lama-kelamaan orang-orang dewasa jarang menemui Momo, sebaliknya anak-anak jadi sering membawa mainan dan mengajak Momo dan kedua sahabatnya untuk bermain dan bercerita. Mereka bercerita kalau sekarang ayah mereka jarang mendongeng, ibu mereka pergi sepanjang hari, setibanya di rumah mereka kecapekan dan tidak ada waktu bagi anak-anak. Mereka juga berpesan kalau tidak boleh menemui Momo dan kedua sahabatnya lagi dikarenakan mereka mencuri waktu dari Tuhan, mereka selalu punya banyak waktu sedangkan orang lain semakin kehabisan waktu. Momo ingin membuktikan sendiri, dia pergi menemui beberapa teman yang dulu sering mengunjungi dan meminta pertolongannya. Mereka semua berubah, mereka seperti dikejar setan, tapi kedatangan Momo sedikit menyadarkan mereka dan berjanji akan menemui Momo lagi. Tanpa disadarinya, Momo menghalangi rencana tuan kelabu. Tuan kelabu tidak tinggal diam, dia langsung menemui Momo dan memberikan banyak boneka, memberikan barang-barang mewah, tapi mereka tidak bisa disayangi, tidak seperti teman-temannya. Momo tidak bisa dibohomgi dan dipengaruhi oleh tuan kelabu.

Kemudian Momo menceritakan kejadian itu kepada kedua sahabatnya, dan mereka mempunyai rencana memberitahu semua orang tentang keberadaan tuan kelabu yang kehadirannya tidak diketahui sehingga mereka bisa bekerja secara diam-diam. Mereka melakukan demonstrasi anak-anak secara besar-besaran, membuat poster dan spanduk untuk menarik perhatian warga kota dan menjelaskan duduk perkaranya. Tapi tidak ada yang datang, orang-orang dewasa yang sebenarnya paling berkepentingan tidak mendatangi undangan dan mengacuhkan pawai anak-anak.
"Anak-anak," sang hakim menjelaskan, "adalah musuh alami untuk kita. Andai kata tidak ada anak-anak, seluruh umat manusia sudah lama bisa kita kuasai. Anak-anak jauh lebih sulit diajak menghemat waktu daripada orang lain. Karena itu, salah satu peraturan kita yang paling penting berbunyi: Anak-anak selalu mendapat giliran terakhir...."
Suatu hari Momo kedatang tamu tak diundang, dia adalah seekor kura-kura bernama Kassiopeia di mana di atas cangkangnya akan muncul sebuah tulisan, perantara untuk berbicara dengan Momo. Kura-kura itu menyuruh Momo untuk mengikutinya, melalui jalan yang aneh dan berliku hingga akhirnya mereka sampai disebuah papan bertuliskan Gang Antah-Berantah yang bisa dilalui hanya dengan berjalan mundur. Setelah itu sampailah mereka di depan rumah yang melintang di ujung gang, rumah itu bernama Wisma Antah-Berantah, yang dipenuhi lilin dan berbagai macam jam. Momo tiba di sumber waktu dan orang yang tinggal di dalamnya bernama Empu Secundus Minutius Hora, Empu Hora, sang pengelola waktu, yang bertugas mengatur agar setiap orang memperoleh waktu yang menjadi haknya. Empu Hora menyuruh Kassiopeia menjemput Momo karena dia sedang dalam bahaya. Tuan kelabu ingin menangkap Momo karena dia melakukan hal terburuk, Momo ingin membeberkan keberadaan mereka ke semua orang. Tapi untungnya Kassiopeia memiliki kemampuan dapat melihat setengah jam ke masa depan, sehingga tuan kelabu tidak bisa menemukan Momo walaupun Momo sebenarnya ada di sekitar mereka. Momo tinggal sehari di Wisma Antah-Berantah yang berarti setahun di dunia nyata. Momo tidak tahu kalau segalanya telah berubah, kedua sahabatnya menghilang dan tidak ada lagi anak-anak yang bermain dengannya, amfiteater kiri sepi dan kosong dan dengan sia-sia momo menunggu kedatanganmereka semua. Kemudian Momo menyelidiki semua perubahan itu bersama dengan Kassiopeia, ada rumah yang bernama "Depot Anak-Anak" si seluruh bagian kota, yaitu rumah-rumah besar tempat anak-anak yang tidak sempat diurus bisa dititipkan, untuk kemudian dijemput lagi begitu ada kesempatan, sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk bermain di luar. Momo tidak pantang menyerah untuk menemukan sahabatnya yang sudah terpengaruh oleh tuan kelabu, tapi tidak akan mudah karena kali ini tuan kelabu berjanji tidak akan gagal lagi menangkap Momo.
"Kalau begitu, para tuan kelabu bukan manusia?"

"Bukan, mereka hanya tampil sebagai manusia."

"Tapi apa mereka sebenarnya?"

"Sebenarnya mereka bukan apa-apa."

"Dan darimana mereka datang?"

"Mereka muncul karena diberi kesempatan oleh orang-orang. Itu saja sudah cukup. Sekarang mereka bahkan diberi kesempatan untuk menguasai orang-orang. Itu juga sudah cukup untuk membuanya benar-benar terjadi."
Pertama tahu buku ini adalah ketika saya mebaca review mbak @annisa_anggiana di mana dia sampai rela jam dua pagi ingin mengulang membaca buku ini. Ada apa? apa specialnya buku ini? Saya pun menjadi sangat penasaran. Terimakasih sekali kepada mbak @pippopu yang sudah dengan baik hatinya meminjamkan buku ini, maaf kalau lama balikinnya :p

Mungkin bagi beberapa orang ketika membaca sinopsisnya sedikit absurd, "Kisah Momo berlangsung di negeri khayalan yang tidak terikat waktu dan tempat, di masa kini yang abadi. Namun ceritanya bukan mengenai pangeran, penyihir, dan peri. Kisah Momo diangkat dari kehidupan kita sehari-hari. Duanianya adalah sebuah kota besar modern di selatan Eropa." Itulah pertama kali yang saya rasakan, ini buku bercerita tentang apa sih? Membaca kata penutup pengarangnya semakin bingung, dia berkata, "saya ceritakan seakan-akan telah terjadi. Sebenarnya, saya juga bisa menceritakannya seolah-olah baru akan terjadi di masa depan. Bagi saya tidak banyak bedanya." Untuk menjawab semua penasaran saya, saya pun tidak bertanya lagi dan menemukan jawabannya sendiri, dan benar, ketika selesai membaca buku ini, kapan pun cerita ini muncul tidak akan ada bedanya.

Kapan kita benar-benar mendengarkan seseorang? kapan kita benar-benar punya waktu untuk orang terdekat kita? Keluarga, sahabat, teman? Itulah inti dari buku ini. Penulis mewakilinya dengan seorang sosok anak kecil yang sering sekali dirugikan dengan orang dewasa yang semakin hari semakin sibuk dengan urusannya sendiri. Penulis menciptakan tokoh anak kecil yang benar-benar mau mendegarkan dengan tulus segala persoalan mereka. Anak kecil yang polos, bahkan itu kekuatan yang dimiliki seorang anak kecil, kepolosannya, ketulusannya yang tanpa pamrih. Bahkan, tuan kelabu sebenarnya ada di diri kita masing-masing, kita menciptakan tuan kelabu versi kita sendiri sehingga kadang kita tidak punya waktu untuk saling mendengarkan, betegur sapa, bercerita selayaknya seorang anak kecil yang tanpa kesulitan mencurahkannya kesesama temannya.

Alurnya maju dan diceritakan oleh orang ketiga, saya cukup membutuhkan waktu untuk membaca buku ini, untuk mencerna apa pesan yang ingin penulis sampaikan, yang sebenarnya memang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari kita. Ketika membacanya, saya berharap sosok Momo beneran nyata, sosok yang sekarang sulit ditemukan. Dan ketika membaca buku ini saya agak sedikit bersukur dengan waktu yang saya buang, termasuk
malas
boros kalau bisa dibilang :p. Saya bisa tidur lebih dari delapan jam, bisa ngobrol sampai lupa waktu, suka berlama-lama di kamar mandi, lupa waktu kalau sudah membaca, dsb, kalau tuan kelabu melihat waktu yang saya buang, saya yakin mereka akan langsung menunjukkan kalau saya miskin tabungan waktu di bank, haha. Yang penting adalah saya menikmati setiap waktu yang saya buang, saya merasa tidak rugi.

Kekurangan buku ini apa ya? Buku ini bisa dikategorikan ke dalam fantasy dan Children Literature, nah, untuk children literatur tampaknya akan sulit dipahami tanpa didampingi orang yang lebih besar, mungkin itu saja, sejauhnya buku ini memiliki pesan moral yang dasyat :D.

ende
Michael Ende lahir pada tahun 1929 di Jerman Selatan. Dia putra pelukis surealis Edgar Ende. Dari tahun 1948-1950 dia bersekolah di Otto Falckenberg High School of Dramatic Art di Munich. Sejak tahun 1943 Michael Ende sudah menulis puisi dan cerita pendek. Suksesnya sebagai penulis bermula pada tahun 1961, ketika buku anak-anak keryanya Jim Button and Luke the Engine Driver, mendapatkan penghargaan Deutsche Jugendliteraturpreis (German Youth Literature Prize). Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1960 oleh Thienemann's Publishing House, setelah ditolak lebih dari 12 penerbit.


Sejak tahun 1970, Michael Endetinggal di Italia. Di sanalah dia menyelesaikan penulisan novel Momo pada tahun 1972. Momo juga mendapatkan penghargaan Deutsche Jugendliteraturpreis pada tahun 1974. Pada tahun 1979, buku The Never Ending Story diterbitkan. Melalui buku inilah Michael Ende mendapatkan penggemar di seluruh dunia. Buku ini diterjemahkan ke dalam 35 bahasa dan memantapkan reputasi Michael Ende sebagai salah satu penulis paling penting dan sukse. Selain menulis buku anak-anak, Michael Ende juga menulis buku-buku dewasa yang diterbitkan oleh Weitbrecht Verlag -The Mirror in the Mirror dan Prison of Freedom- serta naskah-naskah drama untuk teater, puisis, balada, dan lagu-lagu.

Pada tahun 1989 Michael Ende menerbitkan buku terakhirnya, The Wish Punch (The Night of Wishes) yang telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan dibuat serial kartun TV-nya. Michael Ende meninggal pada tahun 1995 di dekat Stuttgart. Pada tahun 1998, Michael Ende Museum dibuka di International Youth Library di Munich (Sumber: Gramedia).

Ada bagian yang paling saya suka, yaitu bagian Empu Hora memberi pertanyaan kepada Momo, menginggatkan saya akan buku The Hobbit yang juga ada tebak-tebakannya, saya kasih pertannyaannya ya :D
"Di suatu rumah tinggal tiga bersaudara, namun tapang mereka tiada serupa, ketika mau membedakan mereka bertiga, maka yang satu menjadi mirip yang dua. Si Sulung sedang tidak ada, dia baru mau pulang ke rumah. Si Tengah sedang tidak ada, rupanya dia pergi sudah. Di rumahnya hanya Si Bungsu yang ada, sebab tak kan ada yang dua tanpa dia. Tetapi si Bungsu yang dimaksud oleh kita, ada hanya karena si Sulung jadi nomor dua. Dan setiap kali kita memandangnya, yang tampak selalu salah satu kakak. Sekarang katakanlah: Apakah yang tiga hanya satu? Atau hanya dua? Atau malah sama sekali tidak ada? Jika kau sanggup menyebut nama mereka, kau akan mengenali tiga raja yang sangat berkuasa. Kerajaan besar mereka perintah bersama -yang sekaligus merupakan jati diri mereka."
Ada yang bisa jawab? Ada lima jawaban akan pertannyaan di atas. Ayo coba tebak, jawaban yang paling benar akan mendapatkan hadiah dari saya (khusus bagi yang belum pernah baca bukunya dan tidak punya bukunya, di mohon kejujurannya ya :D), giveaway terselubung ini berlangsung sampai ada yang menjawab dengan tepat. Dan hadiahnya apa? buku pilihamu sendiri dengan IDR 50k dan satu buku dari timbunan saya, The Fetch by Chris Humphreys hanya satu orang warga negara Indonesia yang bisa mendapatkannya :D

Selamat menebak teka-tekinya, oh ya lupa,

4 sayap untuk tuan kelabu yang abu-abu :D

11 komentar:

  1. Keren kan buku ini dek.. Hehe.. Dibaca berulang2 juga ngga bakalan bosen kalo aku.. :)

    BalasHapus
  2. iya mbak, pesannya dalem, terutama buat orang dewasa :D

    BalasHapus
  3. aku juga sukaaaa buku ini...btw aku udah lupa lho jawaban teka tekinya apaan, nanti mau baca ulang buku ini deh kapan2 =p

    BalasHapus
  4. hihihi tapi nggak boleh ikut giveawaynya *senyum malaikat*

    BalasHapus
  5. Teka-teki itu sepertinya saya pernah dengar, tapi dalam bahasa Inggris. Dan saya lupa pernah baca di mana. Tapi yg saya ingat kalau tiga bersaudara itu adalah waktu (time). Yang sulung itu masa lalu (past), yang tengah itu masa sekarang (present) dan yang bungsu itu masa depan (future). Yang bungsu tidak akan ada tanpa kedua saudaranya (jd masa depan ga ada tanpa masa lalu dan sekarang).

    btw, kalimat-kalimat dalam novel ini ribet ga sih?

    BalasHapus
  6. nggak sama sekali mbak, terjemahannya enak kok :)

    BalasHapus
  7. ini aku nebak aja sih.. kerajaannya itu "Jam (clocks)" ya?

    BalasHapus
  8. Jawaban pertama, rumah ketiga bersaudara itu adalah Kehidupan. Jawaban kedua, ketiga bersaudara itu emang bener Masa Lalu, Masa Sekarang, dan Masa Depan seperti jawaban di atas. Yang terakhir, kerajaannya adalah waktu. Bener nggak sih Kak Sulis? *ketahuan ngarangnya* x)))

    BalasHapus
  9. [...] pertama ada di review buku Momo by Michael Ende, pertannyaan giveaway saya ambil dari teka teki yang ada di dalam buku tersebut, [...]

    BalasHapus
  10. Kalau Momo mempunyai kelebihan dalam pendengaran. Lah aku malah sebaliknya. Sering budek. :((
    Btw, aku suka quote ini "kita mempunyai penanggalan dan jam untuk mengukur waktu, namun itu tidak berarti banyak, sebab kita semua tahu bahwa satu jam bisa terasa seakan-akan tanpa akhir, tetapi bisa juga terasa bagaikan sekejap mata -tergantung apa yang kita alami selama satu jam itu. Sebab waktu adalah kehidupan. Dan kehidupan berpusat di dalam hati".

    Jawaban pertanyaannya tentang waktu toh. Emang benar juga kata mbak Desty yg komen di atasku. Selain itu, review mbak sulis juga banyak cerita waktunya.

    BalasHapus
  11. salah satu buku favorit gua nih :)) pertama kali baca, pas bagian2 awal, alurnya berasa lambaaaat bangetss.. untung aja maksain baca sampai akhir and jadinya malah 'terpesona', hahahaha.. itu si tuan kelabu juga berasa masih ada sampai sekarang :D

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...