Rabu, 13 Maret 2013

Mafia Espresso



Sinopsis:
Dentuman suara Lady Gaga dari radio tetangga lantai atas, lamat-lamat tenggelam dalam otakku, lalu mengirim sinyal panik ke seluruh tubuh. Aku terduduk di ranjang. Jam berapa ini? Tanganku meraih telepon genggam di atas meja. Angka yang tertera di layar membuat rasa panik kembali mencengkeram.

Jam delapan? bagaimana mungkin?

Sophie Pieters mengira masalah terbesarnya pagi itu adalah datang tepat waktu ke kantor, memberi presentasi memukau, dan memenangkan hati kliennya agar dia dan timnya tidak kehilangan pekerjaan. Ternyata, salah besar! Masalah sebenarnya dimulai ketika mobilnya ditabrak dalam perjalanan ke kantor. Setelah menumpahkan kejengkelannya dan mengebut ke kantor, Sophie dibuat terkejut menemukan pria penabraknya itu ternyata adalah calon kliennya dari Italia, Antonio Azzaro. Situasi semakin diperburuk ketika Patricia, bos Sophie, membuka sesi presentasi dengan tanpa sadar mengutip ucapan Sophie bahwa dia baru saja ditabrak oleh "seorang idiot yang menjengkelkan."
Maka, Musim gugur di negeri Belanda yang berangin dan berhujan tidaklah lebih buruk dari hari-hari Sophie selanjutnya. Kepungan masalah datang beruntun di tengah aroma espresso yang menemani hari-harinya. Krisis ekonomi keluarga, Ray yang bertingkah, dan yang paling parah adalah jebakan masalah yang dibenamkan Antonio Azzaro. Siapa lelaki Italia perlente, bos perusahaan Eco Green yang gemar mengaduk-aduk hatinya itu?

Kepada siapa selayaknya Sophie melabuhkan hatinya?

Meh. Itulah tanggapan saya setelah membaca buku ini. Oke, reviewnya nggak akan panjang kali lebar seperti akhir-akhir ini, utang review saya masih banyak jadi saya akan langsung saja. Dari coverya dulu ya, oke deh, nggak terlalu masalah walau saya kurang suka dengan 'orang' sebagai cover sebuah buku, lebih suka gambar ilustrasi tapi cocok menggambarkan sosok Sophie yang sedikit galau dengan kehidupan pribadinya dan kesukaan dia pada espresso. Untuk jenis kertas dan tulisan nggak ada masalah juga, sedikit typo masih ada.

Tema utamanya adalah salah paham, gara-gara Antonio bilang dia dari Sisilia yang terkenal dengan sarang mafia, dan meng iyakan aja tuduhan Sophie kalau dia adalah keluarga mafia sehigga cap mafia langsung disandang Antonio tanpa terlebih dahulu Sophie mengkonfirmasi. Iya, kemungkinan kecil kalau ngaku tapi dari lagatnya aja udah ketauan kalu bercanda, lagian percaya aja. Akibat kecerobohan Sophie yang bilang Antonio seorang idiot yang menjengkelkan, laki-laki itu menghukum Sophie untuk menemani jalan-jalan selama di Belanda, bila menolak maka dia akan membatalkan kontrak kerja. Entah ya, sampai menutup buku ini pun saya tidak mendapatkan jalan-jalan yang harus dilakukan Sophie dan Antonio, yang ada malah disuguhi konflik keluarga Sophie, kakaknya yang mengabaikan kesehatannya demi memenuhi kebutuhan hidupnya karena suaminya selingkuh dan sekarang menjadi single parent, Ray, teman tapi mesranya, yang ternyata selingkuh dan hanya memanfatkan kebaikan Sophie, Sophie ternyata selama ini hanya dianggap sebagai 'babu' dannnnn Antonio sering sekali menghilang tanpa kabar gara-gara keluarganya dapet ancaman karena dulu Antonio pernah menggagalkan perusahaan kopi yang mempekerjakan anak kecil secara ilegal, katanya mau jalan-jalan, cuman naik speedboat doang >.<

Yang sara rasakan dari buku ini adalah serba nanggung, nggak ada chemistry dari kedua tokoh utamanya, terlalu banyak masalah yang sekadar tempelan saja. Hubungan Sophie dan kakaknya seharusnya lebih dalam, nggak hanya selalu titip anaknya ketika sibuk, kemudian pingsan karena kelelehan kerja, trus baikan setelah sadar. Hubungan dengan Ray pun juga klise, yang sangat jadi masalah adalah hubungan Sophie dengan Antonio, seharusnya Antonio jadi mafia beneran aja, ceritanya mungkin lebih menarik. Penggambaran karakternya juga kurang matang, saya masih belum bisa menggambarkan Antonio itu seperti apa, kalao Sophie bisa dilihat dari cover. Ini tokoh dan setting ceritanya di luar negeri, nggak ada unsur Indonesianya, tapi anehnya saya mendapatkan novel aura Indonesia, ehhhh gimana ya ngejelasinnya, yang jelas saya nggak ngrasain kalo novel ini berserita tentang bule, settingnya pun menurut saya hanya 'tempelan' aja, nggak kerasa juga aura Belandanya.

2 sayap untuk mafia gadungan.

Mafia Espresso
Penulis: Francisca Todi
Desain sampul" greenLight
Penerbit: Gradien Mediatama
ISBN: 978-602-208-041-1
Cetakan pertama, 2012
320 halaman
Harga: pinjem @okeyzz

1 komentar:

  1. Salah paham memang cerita yang gak pernah ada matinya. Karena dalam kenyataannya salah paham sering terjadi.
    Btw, rating-nya kecil banget mbak
    hmmm

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...