Jumat, 30 November 2012

Gadis Kretek


 “Romo sekarat. Berhari-hari dia mengigau-igau sebuah nama: Jeng Yah.”

Demi mengabulkan permintaan terakhir ayahnya, Lebas, Karim dan Tegar mencari orang yang sering diigaukan ayahnya itu. Selain mencoba menguak kisah cinta masa lalu ayahnya, tanpa sengaja mereka juga  menyusuri sejarah Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia.

“Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industry kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta.”

Idroes Moeria awalnya adalah pelinting klobot, hingga dia bertemu seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta, Roemaisa anak sang Juru Tulis, membuat dia bertekad memilikinya dan pantas untuknya. Kesempatan datang ketika ia mengambil alih usaha klobot dari majikannya, dia juga meminta Pak Trisno mengajarinya baca tulis. Dengan bekal kemampuan barunya dan usaha yang baru dirintisnya yaitu klobot produksinya sendiri: Klobot Djojoboyo, dia melamar Roemaisa, gayung pun bersambut, gadis pemalu itu juga jatuh cinta padanya. Sayangnya, ada orang yang tidak suka dengan hubungan mereka, Soedjagad, yang juga teman Idroes dari kecil, sangat mengagumi Roemaisa, dia patah hati ketika tahu mereka akan menikah, sejak saat itu Soudjagad menjadi saingan Idroes, terlebih dalam usaha kretek, dia pun juga memiliki usaha klobot dengan nama: Klobot Djagad.

Jepang menyerang Indonesia, sebagian besar pemuda dibawanya, tak ketinggalan Indroes Moeria. Roemaisa ketika itu sedang hamil karena kesedihannya kehilangan Idroes Moeria tanpa kabar membuat dia tak semangat hidup, janinnya keguguran. Lalu, ketika dia menganang suaminya dan mengepulkan kesedihannya lewat klobot yang dihisapnya, semangatnya bangkit, dia kembali merintis usaha yang telah susah payah suaminya bangun. Hilangnya Idroes Moeria menjadi kesempatan besar buat Soedjagat untuk mendekati Roemaisa, sayanganya tetap saja ditolak mentah-mentah karena Roemaisa sangat mencintai istrinya. Ketika Indonesia merdeka, para pemuda kembali ke kota kelahirannya, begitu pula dengan Idroes Moeria.

Ketika menjadi tawanan di Soerabaia, Idroes seperti mendapat inspirasi, ia melihat rokok-rokok yang beredar memiliki selubung kemasan yang bermacam-macam, dia ingin merubah bungkus kemasan Djojoboyo yang dia anggap bukan nama dagang yang baik. Karena masih dalam suasana kemerdekaan, Idroes Moria pun menganti klobotnya dengan nama ‘Roko Kretek Merdeka!’ dengan gambar seorang pejuang setengah badan dan kepalanya diikat dengan bendera merah putih dan membawa bambu runcing. Dengan kemasan yang baru ini, usaha klobot Idroes mulai melonjak tajam, dia juga memasarkan klobotnya tidak hanya Kota M yang kecil tapi juga kota disekitarnya. Usaha Idroes tidak semulus yang dia bayangkan, mantan temannya, Soedjagad juga memproduksi klobot baru: ‘Roko Kretek Proklamasi’.
Setelah sempat keguguran, Roemaisa hamil lagi. Proses lahirannya lancar hanya saja ada tragedi yang membuat Idroes dan Roemaisa berhati-hati karena ari-ari anaknya dicuri orang, dengan peuah dukun desan, Idroes mencari Kretek Mendak untuk menangkal semua hal yang tidak diinginkan pada anaknya, yang dia beri nama Dasiyah.

Kebahagiaan Idroes dan Roemaisa dirasakan juga oleh Soedjagad yang baru menikah dengan Lilis, perempuan kaya raya asal Madura. Dari pernikahannya, Soedjagad mendapatkan lima orang anak, yang pertama bernama Purwanti. Dasiyah juga mempunyai adik yang diberi nama oleh orangtuanya, Rukiyah.
Kretek Merdeka! dan Proklamasi kini menjadi dua merek dagang yang bersaing di kota M. Dari dulu sampai sekarang Idroes dan Soedjagat tidak lelah bersaing.

Semakin dewasa Dasiyah semakin kelihatan ‘bakat kreteknya’ dia bisa membuat kretek yang sangat enak, tingwe, yang isinya sari kretek yang hanya bisa didapat dari sisa melinting sehari kemudian mengelemnya dengan jilatan ludahnya yang seperti Roro Mendhut, ludahnya manis sehingga tingwe bikinannya lebih manis daripada tingwe yang lain.

Idroes gatal ingin mengembangkan usahanya lagi, setelah Roko Merdeka! dia memang membuat berbagai macam kretek tapi tidak ada yang sesukses Merdeka! Dia pun pergi untuk mencari wangsit dan tercetuslah ide itu: Kretek Gadis, salah satu inspirasinya adalah anak gadisnya yang suka membuatkannya tingwe. Tidak ketinggalan, Soedjagad selalu mengekor jika Idroes punya produk baru, dia pun menciptakan kretek: Garwo Kulo.

Dasiyah menjadi tangan kanan ayahnya, dia gencar mempromosikan kreteknya itu, tidak ketinggalan ke acara pasar malam yang sering didatangi pengunjung, di sanalah dia pertama kali bertemu dengan Soeraja.

“Gurih itu rasa puas yang membuat orang lain merasa cukup dengan yang itu saja, tak perlu mencoba yang lain, sehingga nantinya akan kembali lagi untuk mencicipi rasa gurih itu.”

Saya ngebut seharian untuk menuntaskan buku ini karena penasaran dengan masa lalu Soeraja dan Dasiyah atau sering disebut Jeng Yah. Penulis begitu runtut menceritakan sejarahnya sehingga mau tidak mau saya harus bersabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Dan endingnya begitu tak terduga.

Asing. Beda. Begitulah perasaan saya ketika membaca buku ini, nuansa tradisionalnya kental banget, Jawa banget. Saya jarang baca hisfic dalam negeri, bisa dibilang ini buku pertama yang saya cicipi dan aromanya benar-benar bikin nagih.

Alurnya  maju mundur, pertama kita akan dikenalkan oleh anak-anak dari Soeraja, sudut pandangnya pun dari Lebas, anak terakhir. Lebas digambarkan sebagai seorang lelaki yang bebas, memilih murtad dari usaha ayahnya yang malah menjadi sutradara film kacangan. Karim, anak kedua, tidak banyak disebutkan, peran dia adalah sebagai penengah antara adiknya yang sering cekcek dengan sang kakak. Tegar, anak tertua, dari kecil dia udah tercetak sebagai pewaris pabrik kretek ayahnya, meninggalkan masa bermain dengan mengigilingi pabrik dan belajar seluk beluknya, membuat dia menjadi pribadi yang serius.
Pencarian masa lalu orang tua mereka berbuah sejarah kretek dari masa ke masa. Kadang ngikik sendiri dengan tingkah laku Lebas, apalagi pas dia kesurupan Bob Marley, hahaha, ada-ada aja, dan juga ketika dia iseng berhenti di sebuah kota dia akan membeli kretek khas daerah tersebut untuk membuktikan kalau rata-rata menjiplak Kretek Djagad Raja milik keluargnya.

Yang agak menganjal dari buku ini adalah tidak adanya pemisah antara masa sekarang dan masa lalu. Karena, pas lagi seru-serunya ingin mengikuti pencarian Lebas, Karim, dan Tegar, tiba-tiba saya dilempar ke masa lalu tanpa aba-aba dulu. Bisa sih membedakan, terasa sekali kok nuasanya. Di awal pun ada tulisan [Lebas:] yang menandakan kalau dialah pov-nya, saya kira yang lainnya bakalan ikut bersuara juga, ternyata hanya dia dan sudut pandang orang ketiga untuk masa lalunya. Untuk pemisahnya, bisa saja menggunakan tahun kejadian :D.

Untuk cover, suka banget! Saya juga suka berbagai ilustrasi tentang kemasan kreteknya, tiap kali membaca tentang sejarah kreteknya, saya mencari-cari gambarnya yang mana ya? Dan semuanya ada, jadi saya tidak kesusahan membayangkan kemasannya, nyatanya ada.
Buat kamu yang pengen mencicipi Historical Fiction dalam negeri untuk pertama kalinya seperi saya, buku ini patut dibaca, nggak membuat bosan dengan sejarahnya malah bikin penasaran. Selain itu ada bumbu romancenya juga jadi ada penyemangat yang lain ketika membacanya :D.

4 sayap untuk Kretek Djagad Raja.


Penulis: Ratih Kumala
Editor: Mirna Yulistianti
Cover: Iksana Banu
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8141-5
Cetakan pertama, Maret 2012
275 halaman


NB: karena terburu-buru, niatnya mau saya cantumin gambar kemasan-kemasan yang ada di buku, lain kali aja yah :)
Posting bareng BBI dalam rangka membaca buku-buku yang pernah masuk nominasi KLA (Khatulistiwa Literary Award) 

8 komentar:

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...