Selasa, 25 September 2012

Prada & Prejudice


Sinopsis:
Sepasang sepatu bagus akan membawamu ke tempat yang tak pernah kaupikirkan sebelumnya! Callie percaya bahwa sepasang sepatu Prada akan menjadi kuncinya untuk menaklukkan London. Hanya dengan sepatu itu, keadaan akan berbalik. Dia akan menjadi populer dan teman-temannya akan mengaguminya. Dan siapa bilang mengubah keadaan tidak semudah membalikkan telapak tangan? Callie sudah membuktikannya. Gara-gara tersandung saat memakai sepatu barunya, dia terlempar ke tahun 1815! Untunglah ada Emily, yang menerimanya dengan penuh keramahan. Tetapi, dia juga harus menghadapi Alex, sang Duke muda yang tampan namun pongah dan menyebalkan. Di tengah kekalutannya di dunia yang sama sekali asing baginya, Callie harus menyelamatkan Emily dari perjodohan paksa, juga melawan Alex yang sepertinya sangat membencinya. Mampukah Callie melakukan tugasnya? Akankah dia berhasil kembali ke abad ini? Pakai sepatumu yang paling bagus dan ikutlah bertualang bersama Callie ke tempat yang tidak pernah kaupikirkan sebelumnya!

Yang suka baca Historical Romance pernah nggak sih kalian membayangkan suatu saat akan terlempar ke dunia yang penuh gelar kebangsaan itu? Well, saya cukup sering, apalagi kalau ada tokoh cowok favorit saya :p. Beberapa tahun terakhir ini genre Historical Romance mendominasi bacaan saya selain fantasi, mengalahkan Harlequin yang sekarang jarang saya baca kecuali pengarang favorit atau yang saya kira asik untuk diikuti, intinya lebih pemilih. Hubungannya dengan buku ini adalah, bisa dikata buku ini mirip Historical Romance tapi versi remaja, jangan harap ya ada adegan hotnya :D.

Callie Montgomery adalah cewek dari kalangan D-list, dia berharap perjalanan yang diadakan sekolahnya dalam rangka mengunjungi semua tempat bersejarah di London sebagai pendahuluan untuk mata pelajaran Sejarah Eropa dapat merubah keadaannya, menjadi kalangan A-list (cewek populer dan pemegang pom-pom di sekolah). Sayangnya dia malah dipermalukan oleh cewek populer itu, Angela, Summer dan Mindy. Untuk membuat dirinya kembali senang dan melupakan kejadian yang memalukan itu, dia melakukan terapi belanja. Tindakan darurat ia lakukan ketika melihat sepasang pumps merah dari bahan kulit paten mengkilap dengan hak setinggi langit dan gesper menggemaskan keluaran Prada. Sepatu itu harus menjadi miliknya.

Apakah Callie kemudian melenggang dengan sepatu mahalnya, memamerkan kepada A-list dan tampak mempesona dalam pesta klub yang ingin sekali didatanginya? Callie memang melenggang dengan sepatu Prada-nya tapi bukan di pesta klub, tapi dia terlempar di tahun 1815 dan dikenal sebagai Rebecca.

Awalnya kita akan merasakan seperti membaca chicklit, tetapi setelah memasuki era yang berbeda kita tidak akan asing dengan setting kerajaan bagi yang suka baca HisRom. Penulis mendiskripsikan settingnya dengan runtut dan jelas, malah saya merasa penulis terlalu memfokuskannya, dari pada konfliknya sendiri. Konfliknya ringan. Selain mencari jalan keluar agar kembali kedunianya sendiri, Callie yang terpaksa menyamar sebagai Rebecca harus membantu 'temannya' Emily yang dijodohkan dengan laki-laki tua pilihan ayahnya. Callie merasa berhutang akan kebaikan Emily, Callie merasa baru kali ini menemukan makna kawan sejati dan dia harus membantunya. Sayangnya niatnya itu ditentang oleh seorang duke, seorang yang tidak menyukai keberadaan Rebecca, Alex.

Saya suka banget dengan karakter Alex, karakternya nggak jauh beda dengan kebanyakan duke, yang cakep, berwibawa, keras kepala, arogan, keinginannya harus dipenuhi, otoriter. Pendapat Callie selalu bertentangan dengan Alex, sangat membenci perbedaan kasta, dimana harus menghormati orang yang lebih tua dan berkedudukan tinggi, bersikap sopan layaknya bangsawan, dan tingkatan gelar. Callie tidak suka perbedaan itu. Mereka saling membenci satu sama lain dan saling menyukai dalam waktu yang sama.

Kekurangan buku ini apa ya? sebenernya saya jauh lebih menyukai ketika Callie ada di era 1815, di era modern cerita cenderung biasa, biasa kayak teenlit cewek populer dan non populer, ingin masuk kedalam kalangan tersebut. Sedangkan di era lord, duke, viscount itu kita serasa mendapatkan suasana klasik yang jarang kita temui dikeseharian kita, seperti pesta dansa, berkuda, gaun dengan korset yang menyesakkan dada, dan alamnya yang belum tercemar, apalagi biasanya lahan seorang duke bisa mencapai satu desa :D. Mungkin endingnya kali ya yang berasa naggung, dan porsi Alex kurang banyakkkkkk, more Alex, moreeee.

Pesan moral yang saya tangkap ketika membaca buku ini adalah kita akan lebih baik ketika menjadi diri sendiri.

Buku ini asik, buat yang ingin merasakan teenlit yang sedikit berbeda dan bagi yang ingin berkuda dengan seorang duke, coba deh baca buku ini :D

3 sayap untuk Lord Alexander Thorton-Hawke. Duke of Harksburry.

Penulis: Mandy Hubbard
Penerjemah: Berlian M. Nugrahani
Penerbit: Atria
ISBN: 978-979-1411-95-0
Cetakan I: Juli 2010
306 halaman

8 komentar:

  1. Cerita buku ini secara keseluruhan kurang nendang menurutku. Bagus sih alurnya. Tapi datar2 ajah..

    BalasHapus
  2. di awal emang datar tapi aku suka ketika Callie ketemu Alex, aku sukaaaaaa Alex :)

    BalasHapus
  3. variasi baru di dunia teenlit... seneng pastinya kalo nemu buku yang ceritanya gak 'ikut-ikutan' dengan alur yang menarik

    BalasHapus
  4. yap setuju mb, akan jauh lebih menarik kalau alurnya nggak biasa :)

    BalasHapus
  5. Kayakny keren nih ceritanya.
    *masukin wishlist

    BalasHapus
  6. Sebenarnya cerita ini sederhana banget, cuman lumayan kocak, at least bisa bikin aq ketawa dengan kekonyolan si Callie :D

    BalasHapus
  7. Kayanya menarik ni.. aku suka yg berbau2 time traveler gt.... pengen baca jdnya:D

    BalasHapus
  8. Be yourself! Pesan moral yg sangat bagus dari buku ini

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...