Sabtu, 21 Juli 2012

The Virgin Suicides


The Virgin Suicides
Penulis: Jeffrey Eugenides
Penerjemah: Rien Chaerani
Penerbit: Dastan
ISBN: 978-979-3972-32-9
Cetakan pertama, Januari 2008
350 halaman

Sinopsis:
Michigan, awal 1970-an. Keluarga Lisbon adalah keluarga yang sangat religius, keluarga biasa dengan kehidupan yang juga biasa. Sampai ketika satu demi satu anak gadis keluarga itu melakukan bunuh diri. Kelima perawan misterius yang cantik itu mengakhiri hidup mereka sendiri secara misterius pula. Gadis-gadis keluarga Lisbon berumur tiga belas (Cecelia), empat belas (Lux), lima belas (Bonnie), enam belas (Mary), dan tujuh belas tahun (Threse).

Cecilia, si bungsu, menyayat pergelangan tangannya sambil berendam di bak mandi. Kedua tangannya mendekap gambar Perawan Suci. Percobaan pembunuhan pertamanya ini gagal. Namun, ia berhasil dalam percobaan keduanya. Tubuhnya meluncur dari lantai atas rumah. Keberhasilan Cecilia diikuti oleh keempat saudarinya, masing-masing dengan cara yang berbeda.

Gadis-gadis keluarga Lisbon begitu terosebsi dengan kematian. Tidak ada seorang pun yang tahu misteri di balik itu semua. tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah keluarga Lisbon...

The Winner of the Whiting Award & ALA Book of the Year.

My Review:

Tertarik membaca buku ini ketika membaca salah satu review dari @ndarow yang menyebutkan buku ini salah satu favoritnya, selain itu saya juga menaruh perhatian lebih pada buku bergenre psikologi atau lebih tepatnya ke tema bunuh diri. Isi kepala manusia itu sangat kompleks, kadang kita tidak tahu seberapa besar beban pikiran mereka, tiap orang berbeda-beda, cara mengatasinya pun juga berbeda-beda. Dan ketika mereka merasa buntu, bunuh diri kadang menjadi jawaban permasalahannya itu. Buku yang bertema bunuh diri yang pernah saya baca antara lain adalah Dan Hujan Pun Berhenti, After dan 13 Reasons Why, semuanya menjadi favorit, sayang tidak dengan buku ini.
Gara-gara halaman awal hilang sampai dengan halaman 11 saya sempet bingung dengan sudut pandangnya, kemudian saya tanya @ndarow dan dia bilang PoV adalah anak-anak laki-laki yang berada di lingkungan Lisbon bersaudara alias kami. Sama seperti pembaca, 'kami' juga menelusuri, mencari alasan kenapa anak-anak keluarga Lisbon mati bunuh diri semua, padahal 'kami' mengagumi dan menyukai mereka karena mereka cantik.
Bunuh dirin adalah tindakan angresi yang dipicu oleh dorongan libido seorang anak remaja.
Yang mati bunuh diri pertama kali adalah Cecilia, orang-orang menganggap dia mati bunuh diri karena patah hati, namun tidak banyak bukti yang membenarkan, hanya ada satu tulisan yang meyangkut laki-laki tersebut di buku hariannya. Awalnya dia mencuba menyilet pergelangan tangannya tapi berhasil diselamatkan, lalu dia kembali bunuh diri dengan jatuh dari atap kamarnya.

Saya suka ide ceritanya, saya suka penulis mengambil PoV dari orang yang sama-sama buta tentang kejadian itu kemudian berusaha mencari tahu bersama pembaca untuk menemukan alasan mereka kenapa bunuh diri, namun alurnya cukup membosankan, banyak penjabaran dari 'kami' yang menurut saya tidak penting, terlalu bertele-tele. Saya juga tidak bisa konsen baca buku ini dari awal karena hilangnya halaman tadi, saya tidak merasakan feel buku ini. Bahkan ada bagian yang saya skip lantaran tidak ada yang menyangkut kematian Lisbon bersaudara. Sampai akhir pun saya masih tidak menemukan jawabannya. Yang jelas, saya menangkap mungkin yang menjadikan penyebab Lisbon bersaudara adalah orangtua mereka terlalu keras mendidik, terlalu mengekang, terlalu banyak peraturan yang harus mereka laksanakan, padahal mereka memasuki usia di mana seseorang sedang tumbuh baik fisik maupun psikis. Keluarga Lisbon terasa amat jauh, susah untuk memahaminya. Dan satu lagi yang memicu semua ini adalah ketika Cecilia bunuh diri, ingin sekali tahu alasan dia bunuh diri sehingga memicu saudara lainnya untuk melakukan hal yang sama.
Para psikolog sepakat bahwa masa remaja jauh penuh tekanan dan keruwetan dibanding masa anak-anak. Kerap kali, saat ini, berkah perpanjangan masa kanak-kanak bagi kaum muda, dalam kehidupan bangsa Amerika ternyata sia-sia, karena kaum remaja merasa terputus dengan masa kanak-kanak dan kedewasaan. Ekspresi diri sering kali mengalami kebuntuan. terlebih-lebih, menurut para dokter, kebuntuan ini dapat mengarah pada tindakan kekerasan dan remaja yang tidak bisa memisahkan realitas ini dari drama yang dimaksud.
Terjemahannya lumayan sulit dimengerti, saya lebih suka cover aslinya.

2 sayap untuk Lisbon bersaudara.


5 komentar:

  1. I even didnt finish this book saking bosennya >,< only 1 star :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya aku mau baca buku ini jg. Temenku rekomen ktnya 2 jempol trmyt bosenin bgt ya ..x)

      Hapus
  2. Idem dengan Ana..Sampai ga sanggup bikin review-nya saking bingung :D

    BalasHapus
  3. @ana: ak juga sempet bosen cuman penasaran kalo nggak dibaca sampai akhir.@desty: awalnya ak juga bingung mb, ak aja masih bingung sama ceritanya, yah nulis yang dimengerti saja :)

    BalasHapus
  4. setuju dg kalimat ini "Para psikolog sepakat bahwa masa remaja jauh penuh tekanan dan keruwetan dibanding masa anak-anak. Kerap kali, saat ini, berkah perpanjangan masa kanak-kanak bagi kaum muda, dalam kehidupan bangsa Amerika ternyata sia-sia, karena kaum remaja merasa terputus dengan masa kanak-kanak dan kedewasaan. Ekspresi diri sering kali mengalami kebuntuan. terlebih-lebih, menurut para dokter, kebuntuan ini dapat mengarah pada tindakan kekerasan dan remaja yang tidak bisa memisahkan realitas ini dari drama yang dimaksud".

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...