Jumat, 20 Juli 2012

Manusia Setengah Salmon



Penulis: Raditya Dika
Editor: Windy Ariestanty
Desain cover & ilustrasi: Adriano Rudiman
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-531-x
Cetakan ketiga, 2011
258 halaman

Sebelumnya mau ngucapin selamat berpuasa bagi yang merayakan :)
Lumayan lama juga nggak baca tulisannya Raditya Dika baik buku ataupun blognya, kemaren sempet ngintip sebentar blognya dan menemukan tulisan yang cukup memotivasi, bulan puasa buat dia adalah bulan yang produktif buat nulis, dan saya ingin mengikuti jejaknya, hahaha. Kebetulan banyak sekali buku yang belum saya review karena ngebut baca, hampir 30an buku yang belum saya review dan cukup bingung mau memulai yang mana, maka dari itu saya mengikuti jejak Radit untuk produktif baik membaca ataupun menulis review di bulan yang penuh berkah ini, itung-itung nunggu buka puasa, terlebih yang menulis review. Karena jadwal kerja saya yang tak beraturan, saya berencana menulis kalau libur, biasanya sih juga gitu, untuk memaksimalkan waktu luang saya akan usahakan kalau nggak bisa onlen kompi saya akan menulis di kertas dulu, buat penggemar Kutu Bokek dan Kubikel Romance nantikan ya, ngabuburit baca review buku :)
Buku terakhir Raditya yang saya baca adalah Marmut Merah Jambu, buku komedi yang berisi tentang cinta, kalau buku ini bertema dengan pindah.
Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sebilan belas bab di dalam bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Simak juga bab berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat khas Raditya Dika.
Saya suka temannya, pindah. Kebetulan saya agak mempunyai masalah dengan kata itu. Dulu waktu kecil pas pindah rumah saya sempet sakit berhari-hari. Kemudian pas pindah dari SD ke SMP saya juga sakit, untungnya sudah bisa menyesuaikan ketika pindah ke SMA dan perguruan tinggi, hehe, mau nggak mau umur yang bekerja. Kemudian pas saya dapet panggilan kerja di Jakarta saya nggak krasan, padahal baru satu hari saya sudah homesick, nggak cocok jauh dari rumah.
Di buku ini kita akan menemui bentuk-bentuk pindah, walaupun nggak semuanya berisi tentang kepindahan. Di bab Sepotong Hati Di Dalam Kardus Coklat kita mendapatkan cerita ketika Radit putus cinta, pindah hati pada pertengahan 2009 dengan alasan tidak ada lagi kecocokan.
Di kehidupan nyata, pada umumnya ketika cowok diputusin sama ceweknya, dia pasti akan setengah mati berusaha untuk gak nangis. Si cowok akan sedapat mungkin stay cool, supaya gak kelihatan cemen. Harga diri lebih penting daripada sakit hati.
Hahaha, putusnya lempem aja gitu, nggak ada banyak kata, yah mungkin meminimalisir sakit hati kali ya. Tapi sakitnya setelah itu, kita akan kepikiran terus sama si mantan, apa-apa yang kita lakukan pasti teringan sama mantan, betul itu?
PUTUS cinta seperti disengat lebah. Awalnya, tidak terlalu berasa, tetapi lama-kelamaan bengkaknya mulai terlihat.
Di bab itu juga, ibunya Radit juga mengusulkan untuk pindah rumah karena rumah yang mereka tempati sepuluh tahun terakhir itu tidak cukup besar untuk saudara-saudara Radith yang sudah mulai dewasa.
Putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan.
Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. Ujung-ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong.
Cerita pindah selanjutnya saya temukan di bab Kasih Ibu Sepanjang Belanda. Bagian ini sebelumnya sudah pernah saya baca di novel The Journeys. Kalau sebelumnya tentang pindah hati dan pindah rumah, kali ini kita mendapatkan cerita tentang pindah hubungan keluarga. Semakin kita dewasa, seharusnya kita lebih mendekatkan diri ke orang tua kita, itulah pesan yang saya tanggap. Ceritanya ketika Radit umur 22 tahun mendapatkan beasiswa summer course ke Belanda selama dua minggu. Nyokapnya radit terkenal punya perhatian yang terlalu besar kepada anak-anaknya, dan itu cukup menganggu Radit, awalnya. Kemudian dia sadar, seharusnya bersyukur karena ada orang yang selalu mengkhawatirkannya.
Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.
Di bab Ledakan Paling Merdu kita juga mendapatkan pindahnya hubungan dengan bokapnya Radit, dulu mereka sering olahraga bareng untuk mengeluarkan kentut di pagi hari, tapi semenjak Radit mulai tenar, kebiasaan itu jarang mereka lakukan bersama. Cukup membuat saya ngakak.
Di bab Mencari Rumah Sempurna isninya nggak jauh beda dengan bab Sepotong Hati Di Dalam Kardus Coklat, bercerita tentang pindah rumah dan pindah hati. Akhirnya nyokap Radit menemukan rumah idaman namun Radit belum begitu nyaman dengan rumah barunya itu, dia masih nyaman dengan rumah lamanya.
Saat ini, gue jadi berpikir, proses pindah hati juga seperti pindah rumah. Terkadang, kita masih membanding-bandingkan siapa pun yang kita temui dengan mantan pacar. Ketika kenalan sama seseorang, kita membandingkan dengan kebiasaan mantan pacar kita. Kita membandingkan secara sadar ataupun tidak, cara mereka berjalan, cara mereka berbicara, bahkan cara mereka mengakhiri pembicaraan di telepon. Seperti lazimnya orang yang masih terjebak di dalam masa lalu. Orang yang lebih baru pasti kalah sama mantan pacar kita yang sudah lama itu.
Ini mungkin alasan kenapa susah banget buat gue untuk menemukan yang baru, karena perjuangan untuk pindah adalah perjuangan untuk melupakan.
Sebenernya bab di atas yang terasa sekali aura kepindahannya dan juga bagian terakhir dari review ini, bab lainnya lebih banyak bercerita tentang kacaunya hidup Radith, haha. Ada tulisan-tulisan singkat, contohnya di bab Akibat Bertanya ke Orang yang Salah Tentang Ujian, bab yang berisi pertanyaan-pertannyaan followers @radityadika pas musim ujian, tentu dijawab dengan ngasal. Hal-Hal yang Tidak Seharusnya Dipikirkan Tapi Entah Kenapa Kepikiran, hal absurb yang kok bisa-bisanya kepikiran? contohnya: Jika saya memasukkan Kalpanax ke dalam sup jamur, apakah sup tersebut akan lenyap? Trus ada percakapan yang lebih absurb lagi di bab Interview With The Hantus, hahaha saya suka tokoh Genderuwo atau biasa dipanggil Uwo, sekarang dia udah nggak gimbal lagi rambutnya, cocok untuk menjadi duta shampo selanjutnya XDD. Bab Emo...Emo...Emo...Emoticon! pasti udah nggak asing lagi bagi para alay. Terlentang Melihat Bintang adalah bab dimana kamu bisa menjadi atlet gulat internasional, tipsnya dijamin tokcer :D. Dan untuk yang suka galau pasti suka baca bab: Penggalauan. Kasih contoh lagi bagian yang saya suka:
"Jatuh cinta itu musuh akal sehat."
"Naksir diam-diam itu komedi putar. Seakan berjalan, tetapi sebenernya tidak kemana-mana."
Ada satu bab lagi bab yang mungkin nggak asing bagi yang suka twitteran: Serupa tapi Emang Beda.
Pacaran: beli baju sama pacarnya. LDR: dikirimin baju sama pacarnya. Jomblo: minjem baju tetangga.
Pacaran: pelukan pas nonton konser. LDR: telepon-teleponan pas nonton konser. Jomblo: jadi calo tiket.
Ngomongin soal jomblo, ada dua bab yang berkaitan dengan tema itu: Tarian Musim Kawin dan Jomblonology. Di t
arian Musim Kawin kita akan mendapat tips gimana caranya menarik perhatian orang.
Inilah sesungguhnya tujuan dari PDKT: agar kita bisa membedakan antara orang yang kita mau dengan orang yang kita butuhkan.
Prof. Dr. Raditya Dika, MBA., Msc., McD Delivery Service akan memperkenalkan Jomblonology, sebuah bidang keilmuan yang mempelajari segala sesuatu tentang jomblo. jadi untuk fakir asmara, jangan patah semangat dulu, kalian masih mempunyai harapan dengan adanya paper yang dibuat Prof. Dr. Raditya Dika, MBA., Msc., McD Delivery Service di buku ini. Semangat!
Dan bagian yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah Bakar Saja Keteknya dan Lebih Baik Sakit Gigi.
'Pak...'
'Ya, kenapa, bang?' tanya dia, sambil mengecilkan suara radio.
'Bapak tahu bunga bangkai nggak?'
'Bunga yang bau itu? Tahu.'
'Nah, gimana, sih caranya caranya supaya bunga itu enggak bau lagi?'
Gue berharap Pak Sugiman akan berkata bahwa harusnya bunganya disemprot dengan zat penghilang bau. Gak taunya, Pak Sugiman malah berkata mantap, 'Dibakar aja, Bang.!'
Kita sama-sama diam.
Ini berbeda sekali dengan jawaban yang sudah gue siapkan. Sekarang gimana? Masak gue harus bilang, 'Nah, bayangkan bunga bangkai itu ketek Bapak, sekarang silahkan bakar ketek Bapak.'
***
Gue mulai panik. Gue nyuruh pembantu nyariin dokter gigi di sekitar rumah yang masih buka, dia malah bilang, 'Bang, kalau aku dulu pas masih kecil, giginya akut iket benang trus aku tarik di pintu.'
'Mbak, itu kan gigi susu, yang gampang copot. Ini gigi bungsu, geraham pula. Pasti susah banget copotnya.'
Pembantu gue mikir sebentar, lalu entah becanda entah hilang akal. dia bilang, 'Kalau giginya keras dan susah, gini aja Bang... Iket pake benang terus ditarik aja pake mobil.'
'Mbak,' kata gue sambil menggeleng. 'Itu, sih giginya mungkin copot, tapi rahangnya juga ikutan copot.'
Gue jadi berpikir, tumbuh dewasa memang menyenangkan, tetapi tumbuh dewasa juga harus melalui rasa sakit-sakit ini. The pains of growing up. 'Pindah' menjadi dewasa berarti siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan itu sendiri: hadir di pemakaman nenek-kakek, rasa sakit karena gagal masuk ke sekolah yang kita mau, atau rasa sakit lantaram geraham bungsu yang tumbuh.
Atau kalau kata nyokap gue: salah satu tanda orang sudah dewasa adalah ketika dia sudah pernah patah hati.
Selain banyolannya yang khas, yang saya tunggu-tunggu dari karyanya Radit adalah ketika dia bercerita tentang keluarganya, tentang bagaimana dia berbuat semena-mena terhadap adik-adiknya, terlebih pada Edgar, adik yang pangkatnya paling rendah di rumah, haha. Satu hal yang paling seru dari karya-karyanya. Kita bisa mendapatkan semua itu di bab Pesan Moral Dari Sepiring Makanan.
The Power of Pindah kita temukan di bab terakhir: Manusia Setengah Salmon.
Setiap tahunnya ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Beberapa species, seperti Snake River Salmon bahkan berenang sepanjang 1148 kilometer lebih, dua kali lipat jarak Jakarta-Surabaya. Perjalanan salmon-salmon ini tidak gampang. Di tengah berenang, banyak yang mati kelelahan. banyak juga yang menjadi santapan beruang yang nunggu di daerah-daerah dangkal. Namun, salmon-salmon ini tetap pergi, tetap pindah, apa pun yang terjadi.
Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.
Di bab itu, kita akan dibawa ke suasana perubahan hidup Radit, merasakan tahap apa saja yang sudah dilaluinya, mulai dari pindah dari rahim ibunya, pindah sekolah, pindah pekerjaan, pindah cita-cita, pindah rumah, pindah hati, pindah hubungan dengan nyokapnya, walau nggak detail, kita serasa memahami perubahan tersebut karena kita juga mengalaminya, kita semua.
Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. Kita hidup diantaranya.
Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu yang pasti.

3,5 sayap untuk ikan salmon.

1 komentar:

  1. Karya Raditya Dika memang kocak-kocak semua. Ciri khasnya ada kisah percintaan dan jomblo. ckckck

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...