Selasa, 19 Juni 2012

Man of Ice: Gunung Es (Bighorn, Wyoming #2)


Sinopsis:

Sudah lima tahun julukan Gunung Es menempel pada sang peternak tampan dan kaya, Dawson Rutherford. Kenyataannya sudah selama itulah ia tak bisa berfungsi sebagai laki-laki sejati, sejak ia 'memaksa' saudara tirinya, Barrie Bess, bercinta dengannya karena suatu kesalahpahaman. Mereka kini sama-sama tak bisa menjalin hubungan dengan lawan jenis karena peristiwa yang traumatis itu.

Namun sekarang Dawson butuh bantua Barrie untuk berperan sebagai tungasnya guna menghindari rayuan wanita kaya pemilik peternakan yang bersebelahan dengan tanahnya. Ia butuh tanah itu tapi ia tak mau terjatuh ke dalam rayuan sang janda seksi. Saat terpaksa tinggal di bawah satu atap, baik Dawson maupun Barrie menyadari bahwa gairah mereka terhadap satu sama lain masih sama menggeloranya seperti lma tahun lalu.

Review:

Buku ini sebenernya cukup menguras emosi. Di awali dengan 'reuni' antara Dawson dan Barrie yang sejak lima tahun lalu selalu menghindari satu sama lain, sejak peristiwa 'itu'. Dengan berjalannya cerita, mereka berdua mengurai kembali kisah yang seperti benang kusut, kisah yang tidak bisa dienyahkan dalam kehidupan mereka.

Dawson dan Barrie adalah saudara tiri, namun di mata Barrie, Dawson tidak seperti kakaknya, dia sangat memujanya, Dawson tahu itu, namun dia malah mengacuhkan dan bahkan memanfaatkan rasa suka Barrie untuk menyakiti gadis tersebut. Dawson mengganggap Barrie seperti wanita penggoda lainnya, wanita yang sudah sangat berpengalaman, dia selalu mencoba menarik perhatian Dawson agar laki-laki itu meliriknya, dia memang meliriknya, tapi dendam akan apa yang dilakukan ibu Barrie kepada ayahnya membutakan matanya. Hingga terjadilah peristiwa 'itu', peristiwa ketika Barrie sangat-sangat terluka secara fisik dan psikis. Dawson juga sada, kalau ternyata Barrie tidak seperti wanita yang selama ini dia pikirkan, sejak itu, dia tidak bisa lagi menikmati kebersamaan dengan seorang wanita.

Lima tahun kemudian, Dawson sengaja bertemu dengan Barrie, meminta tolong padanya agar tinggal bersama lagi, mengatasi masalah mereka berdua, dan berbagi kesedihan bersama-sama.

Cukup menguras emosi, itulah perasaan saya ketika membacanya, buku pinjaman temen yang meminta saya untuk mengembalikannya pada si empunya, karena belum ketemu dan pelepas bosan setelah berhari-hari membaca fantasy, saya mencuri baca. Sudah banyak buku Diana Palmer yang saya baca, tapi tidak menjadikannya penulis Harlequin favorit saya, kenapa? Karena dia sering banget menulis cerita yang naggung. Selalu mengulur-ulur penyelesaian konflik antara kedua tokoh, udah ada getar-getar asmara, udah mau setuju, eh ada si pengganggu datang. Mungkin memang asiknya seperti itu, tapi buat saya nggak asik. Saya lebih suka konflik antara dua tokoh tapi tidak melibatkan orang ketiga, seperti di buku ini, dengan adanya wanita si pemilik yang peternakannya diincar Dawson, sebenarnya dengan luka masa lalu mereka itu sudah membuat cerita ini dramatis. Naggung lainnya adalah adegan romantisnya, nggak perlu digambarkan dengan jelas nggak pa-pa kok, tapi sis Diana ini seneng banget membuat saya nggak puas karena terlalu sedikit. Saya memang akan menambah point plus untuk adegan romantis, buat apa membaca novel romance kalau nggak ada adegan romantisnya? Adegan romantis bukan hanya dilihat dari berapa banyak ciuman dan adegan ranjang loh, tapi interaksi kedua tokoh, misalnya saja percakapan, ngak perlu yang mendayu-dayu, dialog yang lucu, yang bisa membuat wanita tersenyum pun kadang sangat menarik. Di sini kebanyakan usaha Dawson untuk membuat Barrie cemburu dengan wanita pemilik peternakan itu. Tapi yang saya suka adalah itikad Dawson untuk memperbaiki kesalahan di masa lalunya, lumayan mak nyess deh. Yang gampang ditebak, impoten Dawson langsung sembuh ketika bersentuhan dengan Barrie, hehehe.

3 sayap untuk si cowok dingin.



Penulis: Diana Palmer
Penerbit: Gramedia
ISBN: 9792226893
Cetakan: 2000
224 halaman

5 komentar:

  1. Ceritanya memang menguras emosi... Kalau kataku sih cukup makan hati bacanya... Karena gak tega gitu... Hehehe...

    Buku ini diterbitin ulang sama Gramedia dengan cover baru, aku suka si cover yang ini karena warnanya soft...

    BalasHapus
  2. iya, biasanya cover lama itu gambarnya jadul banget, kadang cewek cowok gitu, hehehe. Ini cuka udah cetakan keberapa tapi lupa :)

    BalasHapus
  3. sorry ikutan nimbrung...... gue cowo tapi entah kenapa sumpah mati senang banget dengan buku buku karangan DIANA PALMER.... membayangkan suasana peternakan yang damai dengan penduduk yang saling mengenal 1 sama lain... hmmm Jacobsville.... (yang pasti hampir semua buku2nya sudah habis aku baca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah hebat, jarang cowok suka romance, hehe

      Hapus
  4. Aku agak bingung loh kalo novel bisa mengilustrasikan adegan hot (ciuman, adegan ranjang dll)
    Kan novel cuma bacaan
    Kalau film baru bisa kelihatan adegan hotnya

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...