Jumat, 29 Juni 2012

Love Story


Apa yang dapat kita ceritakan mengenai gadis dua puluh lima tahun yang telah tiada? Bahwa ia cantik. Dan cemerlang. Bahwa ia ,mencintai Mozart dan Bach. Dan Beatles. Dan aku.

Oliver Barrett IV kuliah di Harvard dan Jenny Cavilleri di Radcliffe. Oliver kaya, Jenny miskin. Oliver atlet, Jenny bermain musik.

Tapi mereka jatuh cinta.

Ini kisah mereka.


Bisa dibilang ini bukan pertama kalinya saya membaca karya Erich Segal, sebelumnya saya membaca Doctors tapi berhenti, bukan karena jelek, saya suka cara berceritanya, tidak bertele-tele, hanya saja saya dikejar pinjaman buku yang tak terkira dan lama sekali belum dikembalikan ke si empunya *lirik kanan-kiri*. 

Tahu buku ini ketika salah satu editor penerbit Gramedia bercerita tentang buku-buku sad ending. Jujur, saya paling males baca buku sad ending, saya penyuka happy ending, tapi tak jarang ada beberapa buku sad ending yang saya suka, terlebih Romeo and Juliet. Saya menganggap kalau cerita sad ending itu percuma, jerih payah cerita yang dirangkai dari awal rusak di akhir, tapi sebenarnya ada kesan mendalam yang tersirat dari kisah yang sering membuat mewek itu. Seperti Love Story ini.

Sesuai halaman buku ini yang tidak banyak, alurnya mengalir cepat, pertemuan pertama Oliver dan Jenny di perpustakaan berlangsung cepat ke hubungan yang lebih serius. Masalah datang ketika Jenny diajak berkenalan dengan orang tua Oliver, tanggapan mereka baik tapi tidak untuk menikah. Jenny berasal dari keluarga menengah ke bawah, ibunya sudah meninggal dan ayahnya mempunyai toko kue. Oliver sudah kadung sangat mencintai Jenny, dia pun pergi dari rumah, melepas seluruh harta kekayaan orang tuanya dan hidup pas-pasan dengan Jenny, sambil menyelesaikan sekolah hukumnya di Harvard. Sampai ketika mereka ingin mempunyai anak, memeriksakan diri, dan mendapati ada yang salah dengan tubuh Jenny.

Saya suka dengan karakter kedua tokoh utama, bagaimana menggambarkannya ya? Mereka sama ceplas-ceplosnya, tidak ada basa basi dialog diantara mereka yang tidak berarti. Bahkan menurut saya ceritanya sangat cepat, kedekatan mereka pun seperti tidak terasa. Sudut pandangya dari Oliver sendiri yang membuat kita akan merasa dekat dengan perasaan Oliver, bagaimana dia sangat mencintai Jenny, membenci ayahnya. Lalu apa yang mengharukan dari buku ini? Perjuangan Oliver ketika dia harus hidup pas-pasan dengan Jenny, bahkan mau menonton film pun harus dipikir ulang, tidak bisa menonton pertandingan football favoritnya, bahkan Jenny menyarankan agar dia menonton sendiri, dan itu bukan masalah buat Jenny tapi Oliver bersikeras lebih baik untuk biaya hidup mereka, usahanya lulus dari Hukum dan mendapatkan peringkat pertama, mendapatkan pekerjaan yang bisa memperbaiki perekonomian rumah tangga mereka dan tidak sabar agar Jenny bisa berbelanja, memanjakan diri, mengetahui kenyataan tentang kesehatan Jenny, dan yang paling mengharukan dan membuat saya mrebes mili adalah ketika Oliver membuang harga dirinya, menemui ayahnya untuk meminta uang demi pengobatan Jenny.

Bagian favorit saya adalah:
"Hei, Oliver, apakah aku sudah bilang bahwa aku cinta padamu?" dia bertanya.
"Belum, Jen."
"Kenapa kau tidak tanya?"
"Terus terang, aku tidak berani."
"Tanyalah sekarang."
"Apakah kau mencintaiku, Jen?"
Ia menatapku dan tidak berusaha menghindar ketika menjawab, "Bagaimana menurutmu?"
"Yeah. Kurasa begitu. Mungkin."
Aku mencium lehernya.
"Oliver?"
"Yeah?"
"aku bukan sekedar mencintaimu..."
Ya ampun, ada apa ini?
"Aku sangat mencintaimu, Oliver.'

Dan
"Jenny, kita sudah sah menjadi suami isteri!"
"Yeah, mulai sekarang aku boleh bawel."

Yang saya rasakan ketika membaca buku ini adalah perjuangan Oliver untuk selalu mencintai Jenny, apa pun keadaannya.

Quote yang paling nendang di buku ini adalah:
"Cinta berarti tak perlu minta maaf."

3.5 sayap untuk "Oke".


Love Story (Kisah Cinta)
Penulis: Erich Segal
Alih Bahasa: Hendarto Setiadi
Penerbit: Gramedia
ISBN: 979-605-135-4
Cetakan kelima: Mei 2000
154 halaman

NB: Buku ini baru saja dicetak ulang, covernya lebih manis :)
cover baru Love Story
Dan kisah Oliver tidak hanyaberhenti di buku ini, masih ada lanjutannya di Oliver's Story, baru di cetak ulang juga, covernya tidak kalah manis :))
cover baru Oliver's Story


14 komentar:

  1. Hadoh... blom baca nih bukunya, tapi udah cari ebooknya >,<
    Btw, ending di buku 2 happy end ga? males kalo gak happy end juga, ada kekurangpuasan kalo gak happy end untuk cinta yang sudah diperjuangkan tapi gak berakhir bahagia...

    Bagusan mana kah dengan A Walk to Remember - Nicholas Sparks? Sedihan mana? Soalnya AWR baca dan nonton udah mewek-mewek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ceritanya hampir mirip, aku belum baca buku AWR sih, cuman nonton filmnya aja dan suka banget, dan sepertinya sama-sama bagus :)

      aku belum baca Oliver's Story, kayaknya happy end deh, hehehe. iya setuju, berasa sia-sia pengorbanan yang diperjuangkan.

      Hapus
  2. Ah... jadi penasaran. Saya juga bukan penyuka kisah sad ending, tapi membaca review di atas jadi kepingin tahu kisah perjuangan Oliver. Yang penting udah tau kalo ceritanya sad ending, jadi ga terlalu kecewa nantinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. di awal buku emang sudah dijelaskan kalau buku ini tidak berakhir bahagia, mungkin memang difokuskan untuk percajalan kisah Oliver dan Jenny :)

      Hapus
  3. Oliver's Story sih menurutku gak bisa dibilang happy end (wait...definisi happy end apa ya?)
    Tapi seenggaknya melegakan lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. minta spoilernya dooong,,, jujur aku gak rela Oliver kawin lagi.... Trus pas Jenny bilang supaya Oliver hidup bahagia, wahhh aku gak habis pikirr *sepertinya egoismeku tinggi - hadehh

      Hapus
    2. aku belum baca Oliver's Story jadi nggak bisa ngasih tau endingnya gmn :)

      Hapus
  4. suka dengan Oliver ({}) pengen diajak nikah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. minta sama pacarnya mei #eh :)

      Hapus
  5. Wah, buku lamaaaa banget. Dulu baca kayaknya pas SMP. Jadi lupa-lupa ingat.
    Hubungan Oliver dan Jenny sangat cute dan jujur. Ga ada tuh jaim ato ngegombal. Mereka bisa bertengkar hebat dan baikan lagi dengan manis. "Love means never have to say sorry".
    Filmnya juga layak tonton. Bikin nangis sekaligus senyum

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, hubungan mereka benar-benar 'terus terang' :)
      aku belum pernah nonton filmnya nih

      Hapus
  6. Wuah sama mbak
    Aku juga gak suka cerita sad ending
    nyesek banget
    Tapi sepertinya buku ini lumayan deh ceritanya

    BalasHapus
  7. Ini nih pas jaman smp nonton di TV filmnya... sedih sampe banjir... trus ada lagunya ngetrend pake gitar *Love Story

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...