Kamis, 24 Mei 2012

Chronicle (Ther Melian #2)


Setelah rahasia identitas Aelwen diungkap Rion, Vrey terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama menyakitkannya. Memaafkan Aelwen, walaupun dusta yang telah ditumpuknya dan membuat hati Vrey terluka, atau menyerahkan seseorang yang telah menjadi sahabatnya selama tiga tahun kembali pada nasib yang membuat Aelwen melarikan diri dari masa lalunya.

Sementara itu, Valadin bertekad menuntaskan misinya, apa pun akibatnya. Dia harus menaklukkan Templia-Templia yang tersisa untuk mendapatkan Relik Elemental sambil terus berupaya menghindari kecurigaan bangsanya sendiri. Tapi semua itu tidak sebanding dengan kenyataan pahit yang menanti Valadin. Dia harus kembali berhadapan dengan Vrey untuk merebut kembali Relik Safir.

Kali selanjutnya, mereka harus memilih; mengenang masa lalu yang manis, atau saling bertarung demi masa depan yang diimpikan masing-masing. Kejar-mengejar dan pertarungan kedua belah pihak tak terelakkan lagi, KISAH mereka pun berlanjut...

Editor’s Note
- Lanjutan dari buku pertama, Ther Melian: Revelation.
- Ceritanya semakin menarik dengan begitu banyak rahasia yang terkuak satu per satu. Alurnya yang menarik dan membuat penasaran membuat cerita ini sulit diletakkan sebelum halaman terakhir.

Penulis: Shienny M.S
Cover art: Shienny M.S
Comic art: Shienny M.S
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
ISBN: 978-602-00-0227-9
Cetakan pertama, 2011
461 halaman


ALLERT: tidak disarankan membaca review ini bagi yang belum membaca buku pertama dikarenakan mengandung spoiler buku pertama, jadi WASPADALAH!
Ini adalah sesuatu yang harus kulakukan! Apa kamu memiliki sesuatu yang seperti ini? Sesuatu yang harus kamu dapatkan, apa pun akibatnya?
Ending buku pertama sangat sangat menggantung sehingga menjadikan saya langsung melahap seri keduanya (untung udah ada :p). Di buku pertama diceritakan Valadin sudah mendapatkan bros bertahta permata berwarna indigo, permata itu memancarkan percikan cahaya perak bagaikan kilat. Di dalamnya, terukir Rune yang melambangkan halilintar, yab, Aether pertama yang mereka dapatkan adalah Voltres, Sang Aether Kilat. Untuk mendapatkan Aether kedua yang berada di gunung Ash, Valadin harus mempunyai amulet agar bisa bertahan di tempat yang sangat panas tersebut, sayangnya amulet itu sudah dicuri orang, dan di gua tersebut Valadin harus melawan orang yang pernah berarti di hidupnya demi mendapatkan amulet tersebut, dia harus melawan Vrey.

Valadin mendapatkan Aether kedua dengan ganjaran dia harus kehilangan Vrey, Eizen membuat Vrey, Aelwen dan Rion terjatuh di dasar jurang karena sihirnya. Sial bagi nasip Vrey dkk, tapi walaupun sangat merasa kehilangan Vrey, Valadin berhasil mendapatkan sebuah cicin, cincin emas bertahtakan sebutir batu Rubi yang menyala bagaikan api, Aether kedua adalah Vulcanus, Sang Aether Api. Tapi, Aether pertama yang sudah mereka dapatkan ternyata hilang!

Berkat sihir pelindung Aelwen, mereka bertiga selamat dari maut, dan mereka harus melarikan diri dari kejaran para Elvar. Rion merasa curiga dengan kekuatan Aelwen dan idenditas dia sebenarnya, tanpa sepengetahuan Aelwen, Rion menyelidikinya. Vrey sangat marah ketika tahu siapa sebenarnya Aelwen, yang sebenarnya adalah Pangeran Leighton Tanddeus Granville, pewaris tahkta kerajaan Granville yang menghilang tiga tahun yang lalu. Vrey sangat terluka dengan kebenaran ini, dia merasa dikhianati oleh temannya sendiri. Tapi, mau tidak mau Vrey harus menerima kehadiran Leighton, karena hanya dialah yang bisa membantu. Mereka sadar kalau para Elvar akan mengejar mereka, Vrey setuju dengan rencana Rion yang akan mengawal mereka sampai ke Istana Laguna Biru, menjelaskan segalanya kepada Raja Granville atas apa yang akan dilakukan para Elvar supaya ayah Leighton berembuk dengan Para Tetua Elvar atas hukuman apa yang pantas bagi mereka.

Untuk kembali ke Granville, mereka membutuhkan transportasi yang tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka mencarinya di Kerajaan Lavannya. Untungnya Leighton mengenal baik salah satu putri Ratu Lavanya, Putri Ashca Shela Lavanya yang sangat dilindungi oleh pengawalnya, seorang Bangsa Draeg, Desna. Sayangnya, sebelum mereka berhasil menumpangi kapal udara, mereka di serang oleh Karth dan Lauren! Leighton harus berpisah dengan Vrey dan Rion, dia harus membantu Desna melawan para Elvar tersebut.





Kelompok Valadin terpecah, Karth, Eizen dan Lauren pergi ke Kota Lavanya demi melanjutkan misi mereka. Sedangkan Valadin dan Ellanese pergi ke Granville untuk mengembalikan amulet dan mencegat Vrey dkk sebelum mengadu ke Lord Haldara.

Eizen memporakporandakan Kota Lavanya, bukan itu saja, dia juga menculik Putri Ascha, karena dia adalah satu dari sedikit orang yang tahu jalan rahasia bawah tanah untuk menuju Naian Mujdpir, Istana Kerajaan Lavanya, tempat di mana Templia Undina berada. Tidak mudah untuk mendapatkan Relik Elemental yang berupa sebuah anting yang bertahtakan permata berbentuk tetesan air berwarna biru jernih, Sang Aether Air, mereka harus melawan Sang Ular Biru atau Blue Serpent, Sang penjaga Templia Undina.


Lalu bagaimana nasip Vrey? ternyata dia dan Rion dipenjara di Menara Albina, sebuah benteng dan dijaga ketat oleh ratusan penjaga. Raja Granville tidak percaya begitu saja dengan cerita mereka walaupun sudah membawa surat dari Leighton, perbuatannya mencuri amulet dan membakar Rylith Lamire tidak bisa dimaafkan. Kali ini, Leighton membutuhkan Valadin untuk membebaskan Vrey. Loh, loh, kok Leighton tiba-tiba muncul? Leighton kembali ke Granville dengan bantuan kapal udara, Kamala, milik Putri Ascha. Putri Ascha dan Desna ikut ke Granveille, dia tidak bisa diam melihat kerajaannya dihancurkan oleh bangsa Elvar, dia ingin ikut menjelaskan kebenaran pada pimpinan tertinggi bangsa Elvar agar Valadin dkk dihukum seberat-beratnya.

Karena tidak ingin kehilangan Vrey sekali lagi, dia pun menyanggupi permintaan Leighton dengan syarat dia harus menyerahkan Relik Safir yang dicuri Vrey. Valadin sangat geram sekali ketika mengetahui Vrey disiksa dipenjara tersebut. Vrey harus menghindar dari gigitan Amphyvena. Dan Vrey sangat terkejut ketika Valadin datang menolongnya.


Apakah menolong Vrey ini merupakan jebakan dari Leighton? Petualangan mereka tidak berhenti sampai disitu saja, karena ada satu lagi Aether yang dicari Valadin di buku ini yaitu Aether Hamadryad. Kali ini tantangannya lebih sulit, untuk mendapatkan sebuah mahkota yang dililit oleh tangkai hijau yang lentur, sekelilingnya ditumbuhi bunga-bunga anggrek berwarna ungu dan putih, tepat ditengah-tengah mahkotanya terdapat sebuah permata bercahaya hijau cemerlang seperti batu emerald, mereka harus mampu meredakan kemarahan hutan, ya, kali ini tidak ada penjaga Templia Hamydryad.

Kalau Vrey mendapatkan sekutu Putri Ascha dan Desna, kali ini Valadin mendapatkan sekutu juga, seorang Gardian, Izahra. Valadin juga mendapatkan pengganti pedang Schalantir, yaitu pedang Zward Eldrich dimana pedang tersebut akan meningkatkan kekuatan pamaikanya, bahkan membuatnya mampu menggunakan sihir, walaupun dia bukan seorang Mangus. Pedang tersebut juga mempunyai aura gelap, menjadikan pemakainya tidak berperasaan. Kita akan menemui sosok Valadin yang berbeda di sini.


Tidak banyak komentar yang akan saya berikan di sini, karena tidak jauh beda dengan komentar saya di buku pertama, kali ini saya akan memberikan jempol Gajah! Di buku kedua ini kita akan mendapatkan jawaban dari teka teki di buku pertama, hubungan antara Vrey dan Valadin, masa lalu mereka. Selain itu, banyak sekali kejutan yang mewarnai buku ini, dimulai dari identitas asli Aelwen, rahasia Lauren, bahkan tokoh baru yang bermunculan. Konfliknya juga semakin seru, bagian pencarian Aether tetap tidak bisa dilewatkan.
Bagian favorit saya adalah ketika Vrey dan Valadin menikmati matahari senja, saya akan berikan cuplikannya :)
"Aku tahu satu hal yang membuat matahari terbenam ini terlihat lebih indah," kata Valadin.
Vrey menganggat sebelah alisnya. "Apa itu?"
"Kalau kamu duduk di sebelahku dan menikmatinya bersamaku," jawab Valadin.
Gombal banget :))
Oh ya, Valadin juga mendapatkan saingan nih soal hati Vrey, si Leighton.
Satu kekurangan buku ini, sama seperti kekurangan buku pertama, ENDING-nya ngantung banget, huhuhu, kali ini saya tidak bisa langsung melahap seri ketiga karena tidak punya lanjutannya *pecah celengan*.
Bagi pecinta fantasy pokoknya rugi kalau tidak mencoba membaca seri Ther Melian.

4 sayap untuk Hutan Kabut. 



  


10 komentar:

  1. Wah marathon nih review nya hehehe ^_^ makasih banyak sist *hugs*

    BalasHapus
  2. sama-sama mb :) btw nggak ada gambar untuk kapal udara, pedang Valadin dan relik aether ya mb? :))

    BalasHapus
  3. Duhh.. buku pertamanya saja saya belum baca makanya masih bingung dengan para pemeren-pemerannya dan alur cerita serial The Melian ini. Sebenarnya juga gak trlalu minat baca buku fantasy. Hmm klu endingnya di buku pertama dan kedua itu ngantung banget itu kan yg bikin pembaca penasaran untuk baca lagu buku selanjutnya:)

    BalasHapus
  4. Duhh.. buku pertamanya saja saya belum baca makanya masih bingung dengan para pemeren-pemerannya dan alur cerita serial The Melian ini. Sebenarnya juga gak trlalu minat baca buku fantasy. Hmm klu endingnya di buku pertama dan kedua itu ngantung banget itu kan yg bikin pembaca penasaran untuk baca lagu buku selanjutnya:)

    BalasHapus
  5. iya kak, sorry tadi saya koment lewat hape langsung buka yang ther melian 2, baru buka ther melian-1 nya, trus kembali lagi kesini deh baca ulang review yang ini baru mulai ngerti jalan ceritannya:)

    BalasHapus
  6. Coba aja kalo the merlian ini difilmkan, pengen liat banget visualisasinya

    BalasHapus
  7. Keren banget review dari buku ini.. apalagi fantasy genrenya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kutipan yg saya suka
      Aku tahu satu hal yang membuat matahari terbenam ini terlihat lebih indah," kata Valadin.Vrey menganggat sebelah alisnya. "Apa itu?""Kalau kamu duduk di sebelahku dan menikmatinya bersamaku," jawab Valadin.
      Walaupun gombal, tp kesengsem jg klo ada yg ngomong ginj ama kita... wkwkwk

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...