Rabu, 25 April 2012

The Imaginarium Geographica #1: Here, There Be Dragons


8758785

Penulis: James A. Owen
Penerjemah: Barliani M. Nugrahani
Penerbit: Matahati
ISBN: 602859018-5
Cetakan Pertama, Juli 2010
445 halaman

Sinopsis:
Tiga orang pemuda, seorang pria eksentrik, dan sepasukan monster Wendigo haus darah dipertemukan dalam sebuah malam kelam dan berkabut di London. Bersama kehadiran si pria eksentrik, terkuaklah rahasia Imaginarium Geographica, sebuah atlas yang menggambarkan seluruh negeri yang tersebar di dunia mitologi dan legenda, fabel dan dongeng.
Ketika keselamatan Imaginarium Geographica terancam, nasib dunia pun berada di ujung tanduk. Malam itu, John, Charles, dan Jack menerima tanggung jawab berat sebagai Juru Kunci Geographica, sebuah tugas yang mengharuskan mereka membelah Dunia menuju Kepulauan Mimpi.
Dengan detail-detail menawan, penuturan menakjubkan, dan humor yang menggelitik, James A. Owen membuktikan diri sebagai penulis kisah fantasi yang menjanjikan pada masa ini.

My Review
Pertama lihat covernya berharap banyak sama buku ini, tapi kok baca di awal-awal nggak seru dan datar, mandeg beberapa saat dulu eh keterusan. Baru dibaca kembali kemaren pas BBI ngadain baca bareng terbitan buku Matahati, lumayan lah ada penyemangatnya untuk menamatkan buku ini.

Sebenernya idenya seru, tiga laki-laki dipertemukan karena alasan yang sama, Profesor Sigurdsson yang mati dibunuh. Setelah bersaksi mereka berkumpul di Beker Street 221B untuk membahas kenapa Profesor meninggal dan mendekatkan diri, bagaimana mereka bisa mengenal Profesor, namun bincang santai mereka diganggu oleh seorang pria yang mirip dengan robekan ilustrasi dalam cerita karya Jacob dan Wilhelm Grimm. Pria yang bernama Bert itu menunjukkan sebuah buku yang berjudul Imaginarium Greographica atau Geografi Imajiner, sebuah atlas geografi imajiner untuk memandu seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya di sebuah dunia imajiner, tempat negeri-negeri dongeng yang disebut Kepulauan Mimpi. Dari situ mereka tahu kalau Prefesor mati dibunuh karena buku itu. Dan Bert berkata kalau John dan kedua temannya adalah Juru Kunci buku tersebut, orang yang bisa membaca altlas Kepulauan Mimpi tersebut. Setelah cukup terkejut mendengar kenyataan tersebut, mereka harus cepat melarikan diri karena dikejar Wendigo, Aven, anak Bert yang sudah menunggu dengan Kapal Indigo Dragon langsung mempercepat laju kapal. Menuju Kepulauan Mimpi.

Petualangan mereka pun dimulai...
Hah, kok sampe disitu aja sinopsis ceritanya? Hehe, biar penasaran aja soalnya petualangan mereka masih sangat panjang. Setelah berlayar kita akan berkenalan dengan para awak kapal Indigo Dragon yang ternyata adalah faun (makhluk setengah manusia setengah kambing), bertemu ksatria hijau, sang penjaga Avalon (sebuah pulau yang merupakan batas antara perairan dunia dengan perairan Kepulauan), bertemu dengan Kapten Nemo dan kapalnya Nautillus, bertempur dengan Black Dragon, kapal Raja Musim Dingin, musuh besar mereka yang tidak mempunyai bayangan, tangan kanannya berkait baja, yang memiliki pasukan Shadow-Born, menginjar Geographica. Bukan itu saja, masih ada kurcaci, Troll, Uruk Ko sang Raja Goblin, Raja Sekop, Ratu Hati. Mereka juga menerima undangan teh dari seorang leluhur naga, Samarath yang memberikan pilihan menerima undangan tersebut atau mati, pilihan yang mudah sekali bukan? yang nggak kalah seru, ketika mereka terdampar di Pulau Byblos, mereka bertemu dengan Ordo Maas, sang leluhur manusia yang meminjamkan salah satu kapal  Dragonship, White Dragon.

Bocoran dikit deh, berkat Samarath juga, John berhasil menguak sedikit peta dan mengetahui cara untuk menemukan kartografer Tempat-tempat yang Hilang dan mengetahui rencana sesungguhnya kenapa Raja Musim Dingin begitu mengingginkan Geographica, yaitu untuk memanggil naga.
Tetapi, terkadang, yang penting bukanlah menjaga sesuatu yang berharga namun menjadi seorang penjaga yang berharga, sehingga jika dikemudian hari sesuatu yang perlu dijaga tiba di sini, tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan.
Bingung ya sama reviewnya? Aku sendiri juga bingung kok sama ceritanya, hehe. Mungkin karena pernah mandeg dan dari awal baca udah nggak ada feel sama buku ini, ditambah disambi baca buku yang lain, bacanya pun jadi nggak konsen. Yang bikin seru buku ini adalah sama seperti seri Nicholas Flamel, banyak tokoh dunia, makhluk mitologi dan dongeng dunia yang nyelip di buku ini. Contohnya saja kematian Profesor, pembunuhan terjadi pada pertengahan Maret, sama persis dengan kematian Julius Caesar yang ditulis oleh Shakespeare, Baker Street 221B flat yang ditinggali Sherlock Holmes, Oxford, Charles Dickens, ada juga Juru Kunci sebelumnya diantaranya adalah Alexander Dumas, Hans Christian Anderson, Arthur Conan Doyle, Edgar Allan Poe, dan masih banyak lagi nama-nama terkenal. Bagian yang paling saya suka adalah Di Dalam Penjara Waktu, hoho permainan waktunya keren.

Sebenarnya saya berharap akan menjumpai petualangan berlayar seru seperti di komik One Piece dengan Geographica sebagai panduannya, tapi sampe akhir pun tidak ada yang berhasil membacanya, yah mungkin John mendapatkan petunjuk sedikit mengenai peta atau atlas tersebut tapi tidak terlalu di sorot, lebih ke pertempuran yang menurut saya tidak seru. Terlebih soal naga, hah masak cuman si Samarath sama yang dipanggil pas pertempuran itu saja? Intinya, jauh dari harapanku. yang udah baca Nicholas Flamel pasti bisa merasakan serunya dimana banyak tokoh dunia di dalam satu buku tersebut, sayangnya membaca buku ini saya tidak mengebu-ngebu seperti membaca Nicholas series. Tadinya pengen ngasih  dua sayap, tapi menilik cover, ilustrasi yang keren dan mengetahui nama asli John, Charles, dan Jack pada ending buku ini dan sukses membuat saya berkata "hah" jadilah saya memberi:
3 sayap untuk petualangan ke Kepulauan Mimpi.

5 komentar:

  1. hahaha.. iya, ending ceirtanya sanggup melonjakkan bintang ya Lis :D

    BalasHapus
  2. Eh, alur lambat apakah karena ini buku klasik?Hm, akhir2 ini memang kita terbiasa dg buku beralur cepat jadi kalau aku baca buku yg alurnya lambat malah gregetan.

    BalasHapus
  3. Covernya tampak menggoda, tapi sepertinya ngga begitu sesuai ekspektasi ya de?

    BalasHapus
  4. @alvina yub, kaget bener ak mb tau nama panjang mereka :))@oky: nggak buku klasik ky, ini buku fantasy yang settingnya emang di masa lalu, tepatnya Perang Dunia I, lumayan sih kalo menurutku, ya itu hanya saja kok kurang seru pertempurannya@nissa: iya mb, semoga saja buku lanjutannya lebih seru :)

    BalasHapus
  5. review-nya agak saklak
    btw suka dg naga di covernya

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...