Kamis, 26 April 2012

Daisyflo



Penulis: Yennie Hardiwidjaja
Cover: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, 2012
ISBN: 978-979-22-8024-1
254 halaman


Sinopsis

Di mata Junot, Tara adalah a miracle. Namun di mata Tora, Tara tidak lebih dari seseorang yang dapat digunakan dan ditinggalkan kapan pun dia mau. Tora telah menghancurkan sekaligus menguasai hidup Tara. Lalu kehidupan Tara yang abnormal pun dimulai. Dia mengorbankan Junot, manusia yang paling dicintainya di muka bumi ini. Ada yang bilang dia sakit jiwa, tapi hanya Tara yang tahu dia hampir menjadi pembunuh.

Sekarang tidak hanya Tara yang terlibat, tapi ada Alexander yang rela mengorbankan hidupnya yang cemerlang untuk menghitam di penjara karena Tara. Ada Junot, laki-laki yang rela menderita untuk mematri serbuk bintang di matanya. Ada Tora, manusia yang menjadi target bahwa Tara hanya akan bernapas untuk melihatnya mati. Juga Muli, sahabatnya sewaktu kuliah yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidup Junot.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Tara? Mengapa kisah cintanya bagaikan benang kusut? Mengapa dia begitu berambisi untuk membunuh Tora?


My Review

Saya acungin jempol cara penulisannya yang sejak awal menimbulkan banyak pertanyaan yang jawabannya akan kita temukan lembar demi lembar di halaman selanjutnya. Dengan alur maju mundur, kita akan mengetahui alasan sebenarnya kenapa Tara ingin membunuh Tora. Kita harus cermat membacanya, karena buku ini memang penuh misteri. Kayaknya dulu saya pernah membaca buku karya Yennie yang lain, kalau tidak salah yang judulnya To Love, tapi agak lupa sama ceritanya, hehehe. Yang jelas saya sangat menyukai buku terbarunya ini. Saya nggak suka covernya, mungkin kalau dilihat dari segi cerita memang pas tapi cover ini menginggatkan saya pada cover-cover bukunya Mira W, berasa jadul :D.
Saya akan mencoba mengurai benang kusut yang terjadi diantara mereka

Tara tertarik dengan Junot yang cerdas, pendiam dan tentu saja tampan, dia menjadi incaran teman-temannya, juga sahabatnya Muli. Ketika pas Ospek, Tara mengirimkan surat beserta bunga Daisy dan tulisan yang akhirnya membuat Junot meliriknya, yang waktu itu menjadi salah satu panitia Ospek. Hubungan mereka menjadi dekat ketika di pertemukan di kelas yang sama, perhatian Junot kepada Tara mulai terlihat jelas. Sayangnya, Junot pendiam, dia tipe cowok yang lebih menunjukkan perasaannya daripada mengungkapkannya dan itu membuat Tara merasa sangsi dengan perasaan Junot kepadanya. Junot kurang bisa mengatur kepala batu Tara, merasa lebih galak. Tara membutuhkan seseorang yang bisa mengontrolnya, pilihannya pun jatuh pada Tora, dengan segala pertimbangan dangkal, Tara membunuh perasaannya kepada Junot. Tapi ternyata pilihannya salah, pacarnya gila, matre, pencemburu dan posesif.
"Cinta tak seharusnya dimulai dari keinginan untuk mengubah seseorang demi mencapai kebahagiaan, tetapi keinginan untuk tetap bahagia walau dia nggak bisa berubah."
Pertanyaan terbesar saya adalah kenapa Tara tidak bisa lepas dari Tora padahal dia tidak mencintainya bahkan lebih membencinya? Tora sering kali memanfaatkan Tara, menyuruh membayar makanan ketika makan berdua, menentukan mobil mana yang harus di beli Tara, menyabotase mobilnya dan bercerita kepada teman-temannya kalau itu adalah mobil miliknya. Tara begitu bodoh! Itu adalah pendapat saya tentang Tara, tetapi ketika mengetahui alasan kenapa dia tidak bisa berkutik dan sangat bergantung kepada Tora, saya mengerti, mengerti luka yang dia dapat, apa yang telah Tora lakukan memang tidak bisa termaafkan. Terlebih karena perbuatannya Tara harus menjauhi Junot yang selalu mencarinya, menghindarinya padahal dia ingin selalu bertemu dengannya, melupakan cintanya.

Lalu apa peran Alexander dan Muli di buku ini? Tidak akan saya katakan, karena pengorbanan mereka begitu besar untuk orang yang mereka sangat cintai.

Lalu, bagaimana dengan Junot sendiri? Apakah dia hanya diam saja dan rela kehilangan Tara? Jangan salah, walau tampaknya dia lembek dia akan mencoba merebut kembali Tara dari tangan Tora bagaimana pun caranya, karena Junot lah, alasan kenapa Tara ingin membunuh Tora.

Buku ini benar-benar mengaduk emosi kita. Ceritanya memang benar kayak benang kusut. Awal-awal baca beneran pengen ikut Tara untuk membunuh Tora, tapi balik ke buku yang penuh misteri tadi, pendapat saya akan Tora juga berubah ketika membaca lembar demi lembar sampai ending buku ini. Kita memang harus mendengarkan alasan orang itu sendiri ketika melakukan kesalahan untuk dapat menghukumnya. Itulah yang tidak dilakukan Tara, emosi berkobar karena orang yang dicintainya menderita membuat dia tidak bisa berdiam diri, semua kemarahan masa lalunya ikut terbakar menjadi satu. Junot oh Junot, pengen banget bilang ke kamu kalo suka sama orang katakan! Menunjukkannya juga penting tapi kadang orang itu tidak bisa membaca pikiran kita, Tara butuh pengakuan. Untuk Tora, please deh jadi cowok itu jangan malah mengemis ke ceweknya, modal dikit kek, gentle dikit napa, masak apa-apa yang bayarin harus ceweknya, nanti gimana kalau mau jadi suami? Istri juga yang harus nyari nafkah? Muli, cinta itu nggak dapat dipaksa, apa pun tindakan nekat kita, bila orang itu nggak mencintai kamu dia nggak akan bisa memberikan hatinya lagi karena udah diserahkan ke orang yang benar-benar dia cintai. Untuk Alexander sang bisnisman dan psikolog kita, mau dong jadi pasien kamu :p

Bagian yang paling saya sukai adalah ketika Junot menggambar Tara dalam wujud peri, yang membuat dia mendapatkan ganjaran nilai D dan menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Gambar peri kecil yang sedang duduk di tepi danau sambil mencabuti kuntum-kuntum daisy, seolah mengatakan, "He loves me, he loves me not."

"Tara, knowing you is a gift. Holding you now is a miracle, Tara..."

4 sayap untuk bungai daisy yang sudah mengering.

4 komentar:

  1. Lis, yang pake huruf biru di reviewmu ini nggak keliatan hurufnya.. >_<

    eh, Tara sama Tora itu temen ya? Namanya agak mirip, aku pikir sodaraan.. :D

    BalasHapus
  2. Pinjem dooong, Lis *pasang muka memelas*

    Klo minat, ntar kupinjemin Cewek Jutek deh. Karya pertama Yenny (dan favoritku so far)

    BalasHapus
  3. @alvina bukan mb, mereka itu pacaran
    @dewi ak g punya wi, hasil pinjem rental :((

    BalasHapus
  4. wew yg ini dikasih 4 sayap
    tapi aku suka sih quotenya "Cinta tak seharusnya dimulai dari keinginan untuk mengubah seseorang demi mencapai kebahagiaan, tetapi keinginan untuk tetap bahagia walau dia nggak bisa berubah."

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...