Selasa, 19 November 2013

Rumah Cokelat

Rumah Cokelat
Penulis: Sitta Karina
Editor: Siti Nur Andini
Cover: Sitta Karina
Penerbit: Buah Hati
ISBN: 978-602-8663-74-8
Cetakan I, Desember 2011
223 halaman
JADI IBU MUDA DI JAKARTA TIDAK MUDAH!
Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa kini di kota besar; bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari ini adalah passion-nya!), memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.

Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuh yang sehari-hari selalu bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya dimulai sejak momen itu.

Kali ini penulis hadir dengan genre terbaru MomLit, novel yang menyajikan kisah-kisah yang dialami oleh para ibu sebagai sosok ibu, istri, wanita karier, ibu rumah tangga, atau kesemuanya. Selain sebagai tempat berbagi pengelaman dalam pengasuhan anak dan menjalani kehidupan berumah tangga, kisah-kisah dalam MomLit akan membuat anda tertawa, terharu, dan terinspirasi secara bersamaan, begitulah yang tertulis dalam buku ini tentang pengertian MomLit :D. Mungkin buku ini juga menjadi ajang curhat penulis kali ya, hehehe, menginggat setelah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak kesibukan untuk menulis sangat terbatas, bagaimanapun anak adalah prioritas, jadi maklumlah kalau lama banget buku barunya terbit.

Saya pernah mengalami masalah yang dihadapi Hannah, mungkin lebih tepatnya adalah adik saya. Dulu semasa kecil adik 'diasuh' oleh orang lain karena ibu saya bekerja, menjadikannya lebih dekat dengan pengasuh, yang dicari-cari bukan ibu saya, tapi si pengasuh tersebut, yeah agak miris memang tapi mau bagaimana lagi?

Kadang anak kecil bisa sangat dekat seseorang karena terbiasa, sering bertemu dan meluangkan waktu untuk bermain bersama. Tapi mau dipungkiri bagaimana pun ikatan anak dan ibu itu tidak bisa diputus, toh dengan berjalannya waktu ibu tetaplah seorang ibu, peran yang sangat penting bagi seorang anak, tinggal kita menemukan ritme kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Saya ingat pesan Abah waktu saya memilih jurusan kuliah, beliau membebaskan saya memilih sesuai dengan minat saya, hanya dia berpesan hendaknya ketika saya lulus dan bekerja sesuai dengan jurusan itu dan ketika saya berkeluarga nanti, tidak menganggu urusan rumah tangga, gampangannya profesi saya nantinya tidak membuat saya melupakan kewajiban saya sebagai ibu, tugas yang paling utama adalah mengurus suami dan anak. Bukannya melarang untuk bekerja, malah bapak sangat menyarankan, karena untuk berjaga-jaga suatu waktu hal yang tidak kita inginkan dan harapkan terjadi, selain itu juga biar nggak jenuh dengan rutinitas yang sama setiap harinya. Jadi ibu rumah tangga termasuk profesi nggak gampang loh, apalagi ketika kita mempunyai anak kecil, itulah yang saya temukan dari diri Hannah.

Bagi Hannah, Upik termasuk berkah, asisten rumah tangga yang mengurus Razsya. Hannah kerja kantoran dari Senin hingga Jumat, tidak jarang pulang malam, waktu untuk Razsya terasa sedikit sekali, Sabtu dan Minggu adalah hari yang sangat berharga untuk bisa menemani Razsya di playground kompleks. Sayangnya, karena tubuh diforsir bekerja, kadang selama wiken dihabiskan untuk istirahat dan melukis. Razsya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Upik. Untuk menebus kesalahannya, Hannah sering membelikan mainan, agar Razsya mempunyai 'teman kecil' yang dapat mengantikan dirinya. Semuaya berubah ketika Hannah mendengar Razsya mengigau "Razsya sayang Mbak Upik..." rasanya Hannah ingin muntah, dia tidak bisa membiarkan ini.
Aku nggak ingin Razsya mengenal kita hanya sebagai orang yang ngasih makan dan ngebeliin mainan saja, Wigra. Aku ingin Razsya tahu bahwa kita juga ada di situ karena sayang sama dia, karena ingin bermain bersama dia.
Sikap Hannah pada Razsya pun lebih menuntut, ingin memandikannya sendiri, ingin bermain dengannya. Dia ingin Razsya tidak mencari Upik. Tapi sewaktu bersama dengan Razsya, Hannah tidak bisa berkonsentrasi membaca majalah People, gagal membeli barang branded dengan harga murah hanya dengan sekali klik karena Razsya mencoba makan wortel mentah, tidak bisa kongkow dengan sahabatnya Smith seperti dulu, belum lagi Razsya sangat cerewet dan kalau bertannya tidak bisa berhenti, membuat pusing Hannah.
Memang susah, Sayang. Namanya juga jadi orangtua.
Ditambah, Razsya sangat dimanjakan oleh Eyang Yanni -ibu Hannah- yang cara mendidiknya agak tidak bisa diterima Hannah, hanya memanjakan dan tidak mengindahkan pesan-pesan Hannah dan Wigra demi mendidik dan mendisiplinkan Razsya sejak kecil. Contohnya memperbolehkan Razsya makan permen, nonton TV sambil makan cornflake, main drum menggunakan panci dan centong setelah itu tidak dibereskan lagi, memainkan alat-alat elektronik, sampai kalau sedang merengek minta sesuatu pasti langsung dikabulkan Eyang Yanni demi tidak berlama-lama tantrum. Hannah tidak bisa membiarkan itu, tidak ingin menjadi kebiasaan Razsya.
Ibu punya cara Ibu, begitu juga aku. I read many things, Mom. Time's Changed. Hal-hal yang dulu mungkin tidak apa-apa dilakukan -karena belum ditemukan dampak negatifnya- sekarang sudah tidak bisa lagi.
Cara sayang orang ternyata beda-beda, ya.
Hannah pun berusaha untuk menjauhkan Razsya dari kebiasaan Eyang yang tidak sejalan dengan pemikirannya, dia membawa Razsya ke kantor dan menitipkan ke nursery room, yang sayangnya juga bukan kegiatan sehari-hari yang 'sehat'.
Pelan-pelan, Razsya ikut mencomot batang kecil cokelat tersebut dan meneliti wajah ibunya. "Ibu kenapa kerja melulu? Razsya kan pengen main sama Ibu."
Melelehlah hati Hannah, lagi dan lagi, mendengar ungkapan sepolos ini. Ia langsung merangkul putranya erat-erat. Betapa jungkir baliknya perasaan seorang Ibu; dari kesal ke senang ke sedih ke gemas ke protektif, namun semua dapat diwakilkan hanya dengan satu kata, yaitu cinta.
Keputusan besar pun diambil Hannah, ia mengundurkan diri dari kantor dan memutuskan jadi ibu rumah tangga -dan freelance ilustrator. Dan kembali ke misi pertamanya: memenangkan perhatian Razsya atas Upik.
Ada pengalaman berharga yang tak bisa dirasakan pada kejadian apa pun, kecuali dengan berkeluarga dan punya anak.
Bagian yang paling saya sukai adalah ketika Wigra mengajak Razsya bermain ke playground komplek.
"Wow..."
Gumam pelan Razsya menunjukkan rasa kagumnya belum juga sirna.
"Razsya senang, ya?"
"Iya. Tapi kalau sama Ibu, pasti nggak boleh keluar malam-malam begini. Pasti dimarahin Ibu."
Wigra tertawa kecil. "Ibu biasanya marah karena khawatir - dan sayang sama Rasya."
Razsya diam, menelaah kalimat sederhana yang baginya berarti rumit itu.
"Raz..."
"Ya, Ayah."
"Jagain Ibu ya, nak. Hormati perempuan. Kalau nanti Razsya sudah besar dan mau berbuat seenaknya ke perempuan, ingat Ibu. Menyakiti mereka sama dengan menyakiti Ibu."
Kalimat rumit berikutnya dari sang ayah.
Ada nggak sih laki-laki kayak Wigra? Nikahi akuh! :))
Dan bagian yang bikin trenyuh selain di atas adalah ketika Hannah tanya sama Upik, "Dulu... waktu saya masih ngntor, Razsya nyariin saya, nggak?" Pengen meluk Hannah.
Jaman sekarang esensi keluarga sudah 'kopong'. In my humble opinion, kalau sudah berkeluarga tapi masih pergi sama temen-temen melulu berarti elo alien di antara keluarga elo sendiri. Atau elonya kesepian. Dan yang paling penting -paling menarik buat gue- adalah kalau elo nggak bisa bermain sama anak elo sendiri lebih dari sejam dan prefer untuk nyuruh nanny menggantikannya, you're not ready for family.
Yang saya tahu sejak dulu adalah nikah itu nggak gampang, apalagi punya anak, tanggung jawabnya besar. Jadi nggak sembarangan kalau kita mau melangkah ke arah sana. Harus siap secara materi dan hati. Rencana punya anak berapa, biaya melahirkan, biaya DP rumah, transportasi pribadi, bahkan biaya pendidikan perlu direncanakan. Itu juga yang saya temukan di buku ini, membuat saya mengerti bagaimana susahnya menjadi seorang Ibu dengan berbagai masalah yang menimpanya. Hannah ingin membuat keluarga kecilnya bahagia dan tidak kekurangan, terlebih dalam kasih sayang. Hannah orang yang tegas, berkemauan tinggi, dan kadang tidak bisa santai, lihat bagaimana dia mencoba mengambil hati Razsya, hanya saja di awal dia terlalu memaksakan, ingin instan padahal waktu yang diberikan lebih banyak ke urusan kerja daripada ke Razsya, sewaktu bermain dengan Razsya pun dia masih fokus ke gadget dan majalah daripada keanaknya sendiri.

Dia tidak ingin Razsya lebih menyukai pengasuhnya daripada dirinya, dia tidak ingin Razsya salah didik. Menemukan ritme kehidupan sebagai peran barunya, itulah langkah yang diambil Hannah. Berbeda dengan Wigra, dia santai menghadapi masalah, tenang dan penuh pemikiran, bertanggung jawab, suami idaman wanita deh pokoknya, hehehe. Suka bagaimana dia mengahadapi Hannah yang lagi stress, suka ketika dia menggendong Razsya, Wigra ini semacam obat penenang bagi sang istri, tugas sebagai kepala keluarga dia jabat dengan amat sangat baik. Selain jatuh cinta dengan Wigra, saya juga jatuh cinta dengan kepolosan Razsya, entah kenapa setiap ada tokoh anak kecil di konflik orang dewasa, membuat dia menjadi magnet buku tersebut, begitu pula dengan kehadiran Razsya dibuku ini.

Tulisannya masih khas Sitta Karina, karakter tokohnya yang tidak bisa dilupakan, yang membuat saya jatuh cinta kepada mereka, masih menyisipkan tentang fashion dan ilustrasi hasil karyanya (kalau di buku ini tidak tahu apakah karya penulis atau bukan, karena tidak ada namanya), saya membayangkan kalau Hannah ini mirip dengan kak Arie, hehehe. Buku ini bisa dibilang suara hati para Ibu yang sibuk bekerja dan sibuk menjadi Ibu rumah tangga, kita yang belum menikah pun bisa belajar, menjadi seorang Ibu, seorang istri, dan belajar bagaimana kita menyelesaikan masalah yang akan muncul ketika kita berkeluarga nanti.

4 sayap untuk Rumah Coklat


10 komentar:

  1. Buku yg harus dibaca oleh saya nih.. *kapan kapan aku pinjeeemmm :D

    BalasHapus
  2. Baca judulnya kirain ceritanya beneran tentang coklat dan cooking. Gak taunya tentang kisah-kisah yang dialami oleh para ibu sebagai sosok ibu, istri, wanita karier, ibu rumah tangga, atau kesemuanya.
    Bahaha ketipu

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya baca reviewnya dulu #eaaaa :)

      Hapus
  3. Seperti Hannah, setiap ibu pasti bakal cemburu kali yaa kalau buah hatinya lebih ngangenin orang lain atau pengasuhnya ketimbang ibunya sendiri. Salut sama Hannah yang akhirnya lebih memilih mengundurkan diri dari kantor demi Razsya. Yaa meskipun saya sendiri belum menikah dan belum jadi ibu hehe.. saya jadi tertarik pengen punya buku ini.. pesannya nangkep banget.. tugas utama seorang istri sekaligus seorang ibu kan musti mengurus rumah tangga.. dan ternyata berat juga kalau sambil kerja gitu... apalagi kalau anaknya seusia Raszya... harus lebih lah ngasih perhatian yang emang gak cukup dengan belikan mainan, makanan atau apa lah. Sepintas saya juga suka dengan sosok Wigra yang digambarkan dalam review ini memiliki sikap yang santai, tenang n bertanggung jawab. Apalagi pas Wigra sebagai Ayah nasehatin Razsya sakitin perempuan sama saja dengan nyakitin ibu. Jempol deh untuk kalimat yang satu ini. Suka dengan reviewnnya . Eh iya, udah baca reviewnya baru lirik judulnya.. ceritanya nyambung di mana yah dengan rumah coklat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku lupa apakah di dalam buku ada makna dari Rumah Cokelat --"

      Hapus
  4. Menurut aku covernya kurang novel banget deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih menggambarkan kehidupan keluarga sih kalau menurutku, emang beda dengan novel romance, lebih ke permasalahan keluarga, permasalahan seorang ibu dan tentang parenting :)

      Hapus
  5. Uda baca jugaaaa. Gara-gara baca sinopsisnya berasa aku banget, hehehe...
    Pas baca, malah nangis sesenggukan sampe' suami bingung, hahaha...
    Kalau dari segi cerita, yakin deh kalau banyak ibu-ibu muda yang juga ngalamin kayak Hannah (sambil ngacungin tangan)
    Kalau dari segi judul, mungkin agak kurang cocok emang yah dikasih judul Rumah Coklat ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kesannya emang nggak kayak buku MomLit, tapi malah bikin penasaran :D

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...