Rabu, 01 Februari 2012

The Magician (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #2)


The_magician


Sinopsis (Goodreads)
Nicholas Flamel, sang Alchemyst, manusia abadi, kembali ke tanah kelahirannya: Paris, Prancis. Bersama Scathach dan si kembar, Sophie dan Josh Newman, kedatangan mereka disambut oleh sang pakar kebohongan, manipulator handal, seorang lelaki Italia ambisius yang juga manusia abadi, Niccolò Machiavelli. Konon, ia jauh lebih berbahaya dari Dee. 
Sementara itu Perenelle Flamel ditawan di Alcatraz, dalam penjagaan ketat sphinx. Tapi jika Perenelle menyangka hanya sendirian di pulau kosong itu, ia salah. Alcatraz adalah pulau para hantu. Dan Perenelle bukan satu-satunya tahanan di sana. 
Di dua tempat terpisah, Paris dan Alcatraz, mereka harus berjuang mempertahankan dunia dari cengkeraman para Tetua Gelap. Dapatkah mereka berhasil melawan makhluk-makhluk yang hanya muncul dalam mimpi buruk, sementara Flamel semakin menua setiap harinya dan Dee tak kenal kata menyerah.

Review
"Aku pernah sekilas membaca mantra-mantra dalam kitab yang bisa meluluhlantakkan dunia ini jadi abu, manta yang bisa membuat gurun-gurun bersemi. Tapi Josh, bahkan jika aku bisa menggunakan mantra-mantra itu-dan aku tidak bisa- isi buku itu bukan milikku untuk dipakai."
"Perenelle dan aku hanyalah Penjaga Buku. kami hanya menyimpan buku itu sampai bisa menyerahkan pada pemilik yang sah. Mereka akan tahu bagaimana menggunakannya."
"Tapi, di mana pemilik sah buku itu? Di mana mereka?"
"Yah, aku berharap, mereka adalah kau dan Sophie." 

Seru. Seru. Seru.
Kalau di buku pertama kejadian pada hari Kamis, 31 Mei dan Jumat, 1 Juni, di buku ini tidak berselang lama, yaitu Sabtu, 2 Juni, Minggu, 3 Juni dan Senin, 4 Juni. Buku setebal 574 halaman ini hanya berlangsung selama tiga hari dan tak terasa secepat itu.

Setelah bertempur melawan mayat hidup di Ojai, rombongan Flamel, Scatty, Jobs dan Sophie terbang ke Paris melalui Gerbang ley. Masih merasakan jetlag, mereka tidak bisa berleha-leha karena Dee tidak buang awaktu, dia meminta bantuan sekutunya untuk menahan mereka, Niccolo Marchiavelli -makhluk abadi paling berbahaya di Eropa- mengerahkan seluruh kekuasaannya sebagai kepala DGSE, badan inteligen di Prancis untuk mengepung mereka dan menciptakan Tulpa -moster lilin yang dihidupkan dengan kekuatan imaginasi- untuk menahan mereka. Sayangnya usaha Marchiavellie tidak membuahkan hasil, Sophie berhasil menciptakan kabut gelap sehingga nyaris tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka.

Kalau Dee punya Marchiavellie sebagai sekutu, maka Flamel pun juga punya, atas bantuan penyihir Endor, mereka dibantu oleh Comte de Saint-Germain, mantan murid Flamel, yang mempunyai spesialis menciptakan batu permata, seorang musisi kenamaan di Prancis dan sang penguasa api. Oh, ditambah satu lagi, istri Saint-Germain, Jeanne d'Arc, Perawan dari Orleans, atau Joan of Arc, sahabat Scatty. Jeanne adalah humani terakhir yang juga mempunyai aura perak seperti Sophie walau tidak sekuat milik Sophie, dia mengajarinya mengontrol aura dan memilah antara ingatannya dengan ingatan penyihir Endor. Selain itu, Flamel meminta Saint-Germain untuk melatih Sophie menguasai elemen api. Lalu bagaimana dengan Josh? Flamel tahu kalau dia sudah dihasut oleh Dee sewaktu di Ojai sehingga membenci dan tidak mempercayai Flamel, tapi Flamel malah memberi dia dua lembar terangkir Codex untuk menjaganya dan memberinya pedang legendaris, Clarent.

Ada empat pedang berkekuatan besar, masing-masing dihubungkan dengan suatu elemen: tanah, udara, air, api. Konon, pedang-pedang ini ada sebelum munculnya para Tetua. Pedang-pedang itu mempunyai banyak julukan, Excalibur (pedang es yang dimiliki Dee yang pernah digunakan untuk menghancurkan Pohon Dunia/Yggdrasill) dan Joyeuse, Mistelteinn dan Curtana, Durendal dan Tyrfing. Nah, pedang yang diberikan Flamel kepada Josh adalah pedang kembarannya Excalibur, Clarent: Pedang Api. Hanya pedang itu yang bisa mengalahkan Excalibur. Semua takut kepada Clarent, dijuluki Pedang Pengecut, senjata jahat dan terkutuk, pernah digunakan Mordred untuk membunuh pamannya, Raja Arthur.

Selagi Saint-Germain melatih kekuatan elemen api Sophie, Dee dan Marchiavellie merencanakan akan menyergap kediaman mereka, untuk menghadapi Scatty, mereka mengundang Valkyre/Disir/ Perawan Ksatria/Musuh bebuyutan Scatty. Para Disir membawa petarung-petarung yang terlepas ketika Pohon Dunia hancur, Nidhogg, Pelahap Bangkai (bayangkan dinosaurus + ular). Pertempurannya seru, yah Dee dan Marchiavellie hanya ongkang-ongkang melihat rumah Saint-Germain hancur karena Nidhogg yang menerkam Scatty dan John berusaha menyelamatkannya dengan pedang Clarent dan merasa sangat hebat (walaupun memegang saja susahnya minta ampun), Jeanne dan Sophie yang menghadapi para Disir, Flamel yang tenaganya terkuras, sedangkan Saint-Germain asik mendengarkan musik dengan earphone sehingga tidak tahu kejaian yang ada di dapur rumahnya, benar-benar seru. Apalagi ketika Dee berhasil membujuk Josh untuk ikut bersamanya, Dee menawarkan kekuatan Josh akan dibangkitkan, dan tentu saja Josh langsung mau, karena memang itu yang diharapkannya, kekuatannya bangkit. Dee dan Marchiavellie membawa Josh ke Kotakombe, tempat yang dulunya tambang batu kapur dan sekarang berisi tulang belulang, Kota Orang Mati dan di sana hidup Sang Tetua, Mars Ultor, Dewa Perang.
Lalu bagaimana nasip Perenelle? Dia berhasil lolos dari penjagaan para Sphinx (yang mampu menyedot kekuatan sihir) dibantu penguasa pulau Alcatraz, hantu Juan Manuel de Ayala. Perenelle juga mengetahui kalau banyak moster yang mengerikan yang berada di penjara itu, dan dia juga mendapati banyak sekali sarang laba-laba, dia menelurusi bersama de Ayala dan mendapati kalau Dee juga menangkap Aerop-Enap, Tetua laba-laba.

Yak, yak, yak, seru banget pokoknya. Yah, walau di awal alurnya agak lambat tapi tidak mengurangi keseruannya. Di buku ini banyak tokoh baru, mahkluk-makhluk baru, konfliknya pun lumayan banyak. Sophie sudah menguasai elemen udara dan api, sedangkan Josh kekuatannya baru dibangkitkan dan saya penasaran sekali hadiah apa yang diberikan oleh Mars Ultor kepadanya. Setiap ada musuh baru maka ada juga tokoh baru yang akan membantu Flamel, makin banyak mitologi-mitologi dan sejarah yang disisipkan. Benar-benar salut sama penulisnya, pengetahuannya benar-benar luas, membuat cerita dari tokoh sejarah paling masyur pada masanya. Di catatan penulis dia juga menuliskan fakta tentang Kotakombe (kalau di buku pertama menceritakan tentang Nicholas Flamel), membaca buku ini pengetahuan kita tentang sejarah dunia bertambah deh. Selain itu, keteganggan juga mewarnai buku ini, ketika cerita berada pada bagian genting dan berganti bab, maka cerita akan beralih sejenak ke Perenelle, begitu sebaliknya, mengejutkan. 

Sophie pemikirannya lebih dewasa, sebaliknya dengan Josh, kadang sebel karena dia lebih mempercayai Dee daripada Flamel. Scatty masih sangat kuat dan senang ketika banyak musuh yang memburunya (sangat penasaran apa saja sepak terjang dia dulu sehingga banyak orang yang ingin membunuhnya), sedangkan Flamel semakin melemah, tapi dia tetap jenius dan punya rencana yang tidak ketebak. Saya suka ketika dia menjelaskan kepada Josh kenapa dia tidak pernah memberi informasi lengkap pada siapa pun, 
Kalau kau katakan semuanya pada seseorang, kau merampas kesempatannya untuk belajar.
Kekurangan buku ini hanya endingnya nangung, haha jelas lah ya karena masih ada lanjutannya, enam seri lagi dan ini buku kedua, masih panjang. Nggak ada keluhan untuk terjemahan ataupun cover. Untuk masalah cover saya penasaran akan simbol-simbol itu bacanya apa ya? Pokoknya, yang suka fantasy tidak akan bisa melewatkan cerita yang satu ini, ayo baca! :))
5 sayap untuk pedang Clarent.

The Magician (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #2)
penulis: Michael Scott
penerjemah: Novia Stephani
cover: Michael Wagner
penerbit: Matahati
ISBN: 979-1141-36-3
cetakan pertama, Maret 2009
574 halaman.

4 komentar:

  1. Lho, ini seri the Alchemyst itu bukan sih? Kok mirip2 ya~

    BalasHapus
  2. satu yang seru dari serial ini selain plotnya cepet, tokoh-tokoh yang muncul dari masa lalu itu keren. Aku suka. Itu yang selalu kucari dari buku ini :D

    BalasHapus
  3. @oky: iya, apanya yg mirip?@ally: yub, aku juga suka macam2 tokohnya itu :))

    BalasHapus
  4. Suka deh cerita yg ada sihirnya
    Sayang buku indonesia jarang yg seperti ini
    aku juga suka "Kalau kau katakan semuanya pada seseorang, kau merampas kesempatannya untuk belajar".

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...