Kamis, 03 November 2011

Semburat Senyum Sore


11245819


Sinopsis belakang sampul:

Langit kini sedang cerah dan mendung-bahagia dan sedih. Akhirnya dia mendapat kesempatan untuk membuat film; selalu seperti yang diinginkannya selama ini. Namun, dia merasa tertekan karena mamanya memaksa Langit untuk cepat lulus kuliah. Dia juga mendapat kesempatan untuk dekat dengan Thyo, tapi cowok itu menyayangi cewek lain. Lagi pula, ada Arda yang mulai mendekati, membuat kekecewaan Langit kepada Thyo terobati.

Langit yang cuek terhadap hidup dan lingkungan sekitarnya berubah setelah dia mengenal Nenek Romlah. Wanita itu dan cucu laki-lakinya menyadarkan Langit bahwa semua hal yang dimilikinya saat ini patut disyukuri, termasuk orang-orang yang selama ini dianggap Langit tidak menyayanginya.

Reviewku:
Yub, sinopsis di atas udah sangat mewakili isi cerita (padahal lagi nggak bisa mikir ;p). Awal lihat covernya keren, suka banget nget, nget, trus tagline dibelakang sampul juga nendang, "Kalau enggak bisa dapet apa yang kita suka, lebih baik kita suka apa yang udah kita dapet.." Trus setelah buka-buka dalemnya ada ilustrasi gambar yang oke punya, aku berpendapat sih karakter Langit ini mirip sama penulis sendiri, dia kan juga penyiar radio :). Konfliknya lumayan banyak, mulai dari keluarga langit yang nggak akur sama istri pamannya, keberadaan ayah tiri Langit, dimana Langit sepertinya belum bisa menerimanya, cowok yang disukainya ternyata suka cewek lain, ada juga cowok yang baik sama Langit ternyata mempunyai misi hanya memanfaatkannya saja. Tapi dia bersyukur bisa mewujudkan salah satu mimpinya menjadi seorang penulis skenario film berkat atasannya di Ganendra Radio dan bertemu Nenek Romlah, penjual tasbih di dekat tempat kerjanya, beliau mengajarkan Langit caranya sabar, ikhlas menjalani hidup, selain itu dia kaget cucunya Nenek Romlah, Wasis, ternyata pintar menggambar. Seperti yang dibilang Langit pada halaman 72, "Tuhan membuka mata hatinya untuk memberikan perhatian kepada orang-orang yang membutuhkannya."

Karakter Langit yang easy going membuat kita betah membaca buku ini, dia itu orangnya santai banget, mungkin khas penyiar radio kali ya, ceplas ceplos, cerewet tapi nyenengin. Aku juga suka karakter Thyo, yang nggak berlarut-larut karena cintanya pupus. Hampir tangline di setiap bab aku suka,
Tuhan bukan mengabaikan harapan, tetapi mengguhkannya sampai tiba saat yang tepat untuk mengabulkan dan menjadikan kejutan.

tarik napas, buang... lalu tersenyumlah.

Jendela hati akan terbuka lebih lebar jika kita ingin mengenali rasa syukur lebih dalam.

Pada awalnya, keikhlasan memang selalu bertentangan dengan kehilangan.

Keberadaan mutiara tidak akan diketahui tanpa membuka kerangnya.

Hari ini adalah 'kelak' yang kemarin kita idam-idamkan.
Lah kenapa banyakan quotenya daripada ceritanya yak? hehe, untuk lebih jelasnya tentang lika-liku kehidupan Langit baca aja, lumayan asik kok. Sebenarnya ada yang mengganjal nih, cerita ini kisah nyata penulisnya nggak sih? :))
Tarik napas, buang... 3 sayap untuk kehidupan si penyiar radio.

Semburat Senyum Sore
by Vinca Callista
Penyunting; Jia Effendi
Ilustrasi: Rizki Nur Sidiq
Ilustrasi Sampul: Ykha Amelz
Desain Sampul: Aniza
Penerbit: Atria
ISBN: 978-979-024-484-9
Cetakan I: Mei 2011
244 halaman

4 komentar:

  1. Ah iya ini covernya unyu bangeet. Ini sejenis metropop atau teenlit mba?

    BalasHapus
  2. Kalo teenlit kayaknya bukan soalnya tokohnya ank kuliahan, kalo metropop kayaknya juga bukan, haha ga tau namanya apa, ak juga tdk terlalu paham soal genre :D

    BalasHapus
  3. Mba karena baca2 review dr mba Sulis terus, jd berasa sehari baca 10 novel skaligus ^^ makasih mba sulis ^^

    BalasHapus
  4. Suka banget dg quote berikut "Kalau enggak bisa dapet apa yang kita suka, lebih baik kita suka apa yang udah kita dapet.."

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...