Kamis, 13 Oktober 2011

Please Look After Mom (Ibu Tercinta)



Setelah dia hilang, barulah keberadaanya terasa begitu nyata, seolah-olah kau tinggal mengulurkan tangan untuk menyentuhnya -- hal. 152.
Yubs, benar sekali, setelah kehilangan kita baru merasakan, penyesalan memang datang belakangan. Buku ini tidak seperti buku berbau Korea yang selama ini saya baca. Buku ini menceritakan tentang kehilangan, penyesalan dan rasa sayang. Terbagi menjadi 5 bab yaitu Tak Ada Yang Tahu, Maafkan Ibu, Hyong-chol, Aku Pulang, Perempuan Lain dan Epilog: Rosario dari Kayu Merah.

Ada sepasang suami istri yang hendak pergi ke kota untuk menemui anak mereka yang telah dewasa, mereka menggunakan kereta bawah tanah sebagi trasportasi. Tapi, setelah melewati beberapa stasiun si suami baru menyadari kalau istrinya tak ada, Istrinya masih tertinggal di Stasiun Seoul. Sudah seminggu tapi anak-anaknya tak kunjung menemukannya, mereka sudah berusaha mencari di daerah dimana ibunya menghilang, melapor polisi, menyebarkan selebaran yang berisi foto dan ciri-ciri ibunya, memberikan ibalan sebesar lima juta won bagi mereka yang menemukannya sampai rumah-rumah yang pernah mereka tempati. Sembari mencari, mereka menginggat kembali akan kenangan tentang ibu mereka. Saling menyalahkan.

Anak-anak yang menyesal kenapa sewaktu ibunya ada mereka malah melupakannya? menggagap kehidupan mereka sekarang tidak ada hubunggan dengan ibunya, melewatkan kata "ibu' dari daftar apa saja yang kau inginkan dalam hidup ini, dan yang terpenting adalah kapan kau menanyakan kabarnya dan terakhir bertemu dengannya?. Seorang suami yang baru menyadari kalau dia sangat mencintai istrinya, bukan hanya seorang sahabat, betapa sepi rumah tanpa kehadirannya. Seorang ipar yang menyesalkan kenapa dia begitu jahat? kalau saja mereka tidak membiarkan orang tua mereka pergi sendirian, kalau saja mereka menjemputnya, kalau saja...Pertannyaan terpenting pun muncul: Sedang apakah aku waktu itu?
Ada saat-saat yang bakal kita ingat-ingat lagi setelah suatu peristiwa terjadi, terutama kalau peristiwanya buruk. Pada saat-saat seperti itu, kita berpikir: seharusnya aku tidak bertindak begitu -- hal. 18
Berbagai penyesalan muncul, adik perempuan yang menyesal kenapa dia tidak cepat-cepat menikah sewaktu disuruh ibunya, Hyong-chol yang lebih memilih menjadi pengusaha daripada jaksa, profesi yang diinginkan ibunya, dia pun menginggat kembali masa-masa sekolah dimana ibunya selalu menyuruhnya belajar keras dan bilang kepada ibu kalau dia akan menjadi seorang jaksa. Ibunya tidak percaya kalau Hyon-chol tidak diterima di universitas manapun di Seoul, "kalau kau saja tidak lulus, lalu siapa yang bisa?" lalu waktu ada sekolah malam di bidang hukum di Seoul Hyon-chol mencoba mendaftar tapi tidak punya salinan ijasah. Ibunya mengetahuinya dan langsung naik kereta sendirian, pertama kali, bertanya ke orang asing bagaimana caranya pergi ke tempat anaknya berada.  Waktu mau masuk SMP, Hyong-chol tidak mengisi formulir tapi ibunya datang ke sekolah, gurunya pun memberikan formulir pendaftaran tersebut.

Sekitar waktu pembayaran uang pangkal, cincin emas yang biasa menghiasi jari tengah kiri Ibu, satu-satunya perhasan miliknya, lenyap dari tangannya. Yang tersisa di jarinya hanyalah lekukan bekas cincin yang telah bertahun-tahun dipakainya.

Geez, seorang ibu akan melakukan apa saja demi anaknya.
Sewaktu ibu mengunjungi anak-anaknya yang sudah jauh dari rumah, dia akan membersihkan tempat tinggal mereka, memasak makanan yang enak, Ibu menaruh sepotong daging semur ke masing-masing sendok anaknya, mereka menyuruhnya makan juga tapi ibu hanya berkata, "Ibu tidak lapar." Dan dia tidak akan menginap karena rumah mereka sempit dan beralasan kalau dia banyak pekerjaan di rumah, dia tidak mau anak-anaknya tidur berimpitan dan tidak bisa bergerak bebas. Ketika Hyon-chol mengentarkannya ke stasiun, ibu berpesan:
Di sini, di kota, kau mesti menjadi orang tua untuk adik-adikmu.
Kakak lelaki sulung mesti berwibawa. Mesti menjadi panutan. kalau kakak sulung mengambil jalan yang salah, adik-adiknya akan ikut-ikutan.
Ada juga bagian yang menceritakan kemarahan ibunya, kejengkelannya seperti ibu yang pergi dari rumah ketika ayah membawa perempauan lain. Hyon-chol tidak mau makan masakan perempuan tersebut dan mengancam adik-adiknya tapi dia malah mendapatkan sabilatan dari ibunya, dia harus makan. Kesedihan yang membuatnya hampir gila ketika adik suaminya yang tampan dan cerdas, yang sangat dekat dengannya, meninggal bunuh diri, "seharusnya dia sekolah," begitu kata ibu, dia meminta polisi untuk memenjarakannya saja. Waktu ibu menceritakan tentang betapa jenuhnya dia memasak, muak, dia pun melepaskannya dengan melempar toples sekeras mungkin ke tembok.
Bukan masalah senang atau tidak senang, Aku memasak karena seudah seharusnya. Aku mesti ke dapur supaya kalian semua bisa makan dan pergi ke sekolah. Mana bisa kita hanya melakaukan apa yang kita sukai? Ada hal-hal yang mesti dilakukan, entah suka atau tidak.
Kalau kau hanya melakukan apa-apa yang kau sukai, lalu siapa yang akan mengerjakan apa-apa yang tidak kausukai?
Ibu juga tegas sekali kepada anak-anaknya, waktu adik perempuan Hyon-chol membuang sepatunya ke sungai karena marah, ibu malah mengambil tongkat pengorek api dan bertanya kepada sang adik darimana dia bersikap begitu jahat.
Kubilang kau mesti minta maaf pada kakakmu. Disini kakak lelakimu adalah pengganti orangtua. kalau kau tidak memperbaiki kebiasaanmu yang suka langsung pergi dan menggangkuti barang-barangmu cuma dimarahi kakakmu, kebiasaan ini akan terus melekat sepanjang hidupmu. kalau kau udah menikah dan ada kejadian yang tidak sesuai keinginanmu, apa kau akan langsung menggangkuti barang-barangmu dan pergi?
Butuh konsentrasi tinggi untuk mencerna sudut pandang di buku ini, saya pun menilik review yang sudah ada dan mencoba mencari tahu dari sudut pandang siapa karena saya benar-benar bingung waktu membacanya. Ada yang mengatakan kalau buku ini memakai sudut pandang kedua. di bab pertama: Tak Ada yang Tahu diceritakan oleh anak perempuan yang menjadi penulis terkenal, bab kedua: Maafkan Ibu, Hyong-chol diceritakan oleh anak pertama, Hyong-chol seorang direktur pemasaran yang sukses, di bab ketiga: Aku Pulang diceritakan menurut sang suami, dan bab keempat: Perempuan Lain diceritakan menurut kakak ipar. Oke, saya bolak balik dan malah bingung, seriously. Menurut pemahaman saya setelah membaca sampai bab tiga, buku ini malah diceritakan menurut sudut pandang sang ibu, memang ada kalanya dia mencerirtakan kondisi anak-anak atau pun keluarga yang lain, atau anak-anaknya sebagai pencerita. Bodo ah, yang penting saya menyukai ceritanya dan mrebes mili waktu membacanya *ambil tissue*. Selain tentang pencerita, yang membuat saya masih bertannya-tanya setelah menutup buku ini adalah kemana dia selama 9 bulan menghilang atau lebih tepatnya dimana dia ....... (tidak mau spoiler).

Membaca buku ini kita akan mengetahui betapa sakitnya kehilangan seorang ibu, betapa besarnya rasa sayang seorang ibu kepada anaknya, cintanya tanpa pamrih. Mungkin tidak hanya mereka yang mengalaminya, banyak. Sewaktu kita besar dan jauh, kita mulai jarang menanyakan kabar atau bertemu, bahkan ada orang yang sukses dia tidak mau mnegurus orangtuanya yang tua renta, lebih memilih Panti Jompo untuk mengurusnya. Apa susahnya sih merawat orangtua sendiri, mereka tidak pernah protes. Membaca buku ini juga membuat saya bercermin, apakah saya sudah menjadi anak yang berbakti? Well, sebelum terlambat, tanyakan keadaan ibu mu setiap pagi, setiap hari, setiap waktu. Sering-seringlah menengok keadaannya, cium tangan dan pipinya, peluklah dia, itu saja sudah membuat seorang ibu sangat bahagia. Genggam tangganya kemanapun kalaian berjalan bersama, jangan pernah lepaskan, jangan sampai hilang.
4 sayap untuk ibu, ibu, dan ibu

Ibu Tercinta
by Kyung Sook Sin
Alih Bahasa: Tanti Lesmana
Desain Cover: Eduard Iwan Mangopang
ISBN: 978-979-22-7486-8
Cetakan: I, September 2011
296 halaman

NB: Tentang Penulis

Kyung-sook Shin telah menulis sejumlah karya fiksi. Dia merupakan salah satu novelis Korea Selatan yang karyanya paling banyak dibaca. Dia telah mendapatkan penghargaan Manhae Literature Prize, Dong-in Literature Prize,  dan Yi Sang Literary Prize serta Prix de I'lnapercu dari Prancis. Please Look After Mom adalah buku pertamanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan di 19 negara. Dia bermukim di Seoul.

9 komentar:

  1. kyaaaa...covernya lucu!!!kok tumben-tumbennya gramedia nerbitin buku pengarang Korea yaaa??apa Gramedia terjangkit koreanwave juga?hahahahaha..tapi dari sinopsis plus review mbak,jadi makin tertarik baca buku ini...apalagi tentang ibu pula...ngiler*

    BalasHapus
  2. Hahaha bisa jadi mb, tapi ini beda bgt kok sama nvl korea yg mirip korama atau yg sedang in saat ini, bahkan unsur2 koreanya g ada kecuali settingnya saja :)

    BalasHapus
  3. annisa anggiana15 Oktober 2011 19.49

    Hehe.. Aku belum pernah baca nih buku dari pengarang korea, spertinya bagus lis *mupeng mode on*

    BalasHapus
  4. bagus mb, baca buku ini mrebes mili :))

    BalasHapus
  5. ihhh dah lm nyari bk in,i akhrnya versi indox klwr jg..........thanks infonya y.......

    BalasHapus
  6. Sama-sama ayo dibaca :D

    BalasHapus
  7. kira2 nama ibunya sp ya????????/man tau bisa di jadiin nama ankku entr ckckck

    BalasHapus
  8. waduh ak lupa, hehehe. soalnya jarang disebutin :)

    BalasHapus
  9. Hiksss...... surga emang di telapak kaki ibu..... makasih reviewnya mba..

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...