Rabu, 07 September 2011

Satin Merah


Satin_merah


Penulis: Brahmanto Anindito & Rie Yanti
Penyunting: Widyawati Oktavia
Penerbit: Gagasmedia
Cetakan: I, 2010
ISBN: 979-780-443-7
314 halaman

Ceritanya unik! Jarang-jarang nemu kayak gini, dapat tambahan tentang sastra sunda lagi (walau nggak tau beneran atau nggak).

Awal cerita kita disuguhi gundukan berukur 1 x 2 meter yang berisi mayat seorang pria dewasa, berkumis tebal, kepala agak botak dan mata serta mulutnya terbuka. Berita tersebut sampai ke telinga Lina Inawati, dosen Sastra Sunda Universitas Padjajaran dimana orang yang terbunuh adalah mantan muridnya, selain itu paman dan sahabatnya juga ikut terbunuh. Cerita flash back dari asal mulanya kejadian nahas tersebut.

Nindhita Irani Nadyasari atau biasa dipanggil Nadya, siswa kelas 12A SMA Priangan 2 Bandung, berencana mengikuti Pemilihan Siswa Teladan, salah satu tantangganya adalah harus membuat makalah setebal 30-50 halaman dengan tema bebas, tidak gampang karena seleksi awal diambil dari nilai rapor yang bagus. Untuk masalah ini, nilai Nadya tidak perlu diragukan lagi. Yang susah adalah menentukan tema dan judul, dia ingin membuat makalah yang lain daripada yang lain, tidak umum. Nadya mendapat ide mengangkat Sastra Sunda (dimana terinspirasi waktu naik angkot), dia pun mulai mencari bahan yang ingin ditulisnya. Langkah awal adalah meminta bantuan Pak Guntur, guru bahasa Sunda di SMP dulu, tapi sayang dia tidak begitu mendalami apa yang diajarkannya sehari-hari. Tak putus asa, Nadya mencari lokasi PPS (Pusat Studi Sunda) disana dia menemukan banyak buku tentang sastra sunda, tapi itu tidak cukup, dia ingin mewawancarai sastrawan sunda, karena Nadya bisa lebih mengerti bila langsung bertemu dengan sumber utama, dia adalah Yahya Soemantri. Sastrawan yang cuek itu pun menjadi mentor Nadya, sayangnya pelajaran yang diterima tidaklah lama, Nadya merasa kecewa berat ketika di olok-olok Yahya, dia bilang, "Eneng boleh pilih: terima kritikan Bapak secara ksatria atau menagis meratapi bakat eneng yang picisan."

Sewaktu mempostkan puisinya di facebook, Nadya mendapatkan komentar yang bagus maupun sinis, ada yang mengatainya kalau karyanya itu meniru Yahya karena mirip sekali. Tidak terima, dia pun meminta saran bagaimana cara agar tulisannya tidak monoton dan mendayu-dayu, meminta info apakah ada sastrawan yang mau mengajarinya. Didi Supena Pamungkas, mantan Redaktur Kriminal Pro Rakyat yang karya-karyanya lugas, spesialisasi cerita kriminal. Dia juga jago mencuatkan karakter tokoh alias penokohan, dia menjadi mentor Nadya selanjutnya. Sama seperti Yahya, ketika Didi memberikan komentar akan kekuranggan Nadya, dia merasa kecewa. Sama seperti sebelumnya, dia mempostkan hasil karya setelah belajar dari sang mentor, kali ini berupa cerpen sunda bergenre kriminal, dan sama seperti karakter tulisan Didi. Selain mereka berdua, masih ada Nining Tresna Munandar dan Hilmi Harun, setelah belajar dari mereka dia menciptakan hasil yang mirip juga. Selalu seperti itu, belajar dari seseorang kemudian menciptakan karya yang mirip. Ironisnya, sang mentor meninggal semua. Lina Inawati tidak bisa tinggal diam kalau pembunuh paman, mantan murid dan sahabatnya berkeliaran bebas, dia pun mulai menguak siapa pelaku sebenarnya.

Untuk memudahkan karakter para mentor berikut kepribadian yang dibuat Nadya, keahlian yang ingin dimilikinya dan sifat yang tidak disukai dari para mentornya:
Yahya Soemantri
emosi positif: wawasan tentang sastra sunda luas, kaya pengalaman, deskripsi tulisan kuat.
emosi negatif: pengkritik yang anti kritik, bermulut pedas, dingin tak berperasaan.
Didi Supena
emosi positif: logika dan daya analistik yang kuat
emosi negatif pria penyelidik yang segera bisa mengendus ketidakberesan.
Nining Tresna Munandar
emosi positif: penulisan indah berbasis cinta, penulisan komersial.
emisi negatif: satu-satunya orang yang kepadanya Nadya merasa nyaman curhat tentang pembunuh-pembunuhannya, curhatan yang kemudian disesali Nadya.
Hilmi Harun
emosi positif: penulis aktif, kreatif, pandai beradaptasi dan mencari peluang
emosi negatif: pencela, terlalu mencampuri urusan orang lain.
Lina Inawati
emosi positif: wawasan luas tidak hanya dibudang sastra, kemampuan public speaking, daya konsentrasi dan koordinasi mata-otak-tangan tinggi.
energi negatif: wanita berpola inteligen, selalu menaruh curiga pada apa pun dan siapa pun, termasuk Nadya.

Penulis benar-benar hebat membuat karakter Nadya, saya nggak tau namanya dalam psikologi tapi dari yang saya baca Nadya ini terobsesi ingin selalu menjadi nomor satu, tidak ingin ada yang melebihinya. Dia ingin menjadi signifikan, ingin diakui. Mungkin peran orang tua juga berpengaruh, orang tua Nadya tampaknya lebih memilih memanjakan adiknya dalam segala hal sehingga membuat Nadya iri dan berusaha lebih hebat darinya. Hebatnya Nadya ini benar-benar bisa menguasai materi apa pun jika bertemu langsung pengarangnya, ini menjadikan dia bisa meniru berbagai gaya penulisan dari para mentornya. Saya mengganggap ini buku bergenre teenlit - thriller - psikologi. Yang selalu penasaran akan apa pun, bacalah buku ini.

Satin Merah adalah akronim dari "sastra tinta merah". Maksudnya, sastra-sastra, entah cerpen atau puisi, yang muncul setelah peristiwa pembunuhan sastrawan sastra dengan gaya penulisan peniruan yang sempurna.

Berikut adalah pemikiran Didi Supena yang sangat saya suka di halaman 82 :)
Kemampuan menulis itu cuman alat, wawasan, pengetahuan, kepakaran, itulah yang lebih di perlukan.
Bisa nulis itu seperti punya pistol. Dan, wawasan tentang suatu bagian adalah pelurunya. Punya pistol nggak punya peluru, mau Nadya buat apa pistol itu?
Penulis adalah praktisi yang menyuarakan isi hati dan otaknya. Sementara editor adalah orang yang membantu menyuarakan isi hati dan otak orang tersebut lewat tulisan yang bermutu. Penulis yang baik belum tentu editor yang baik, begitu juga sebaliknya.
3 sayap untuk si satin merah.



3 komentar:

  1. Karya Brahmanto Anindito yang pertama saya baca malah Rahasia Sunyi, dan sama sekali enggak nyesel udah beli karna emang suka dengan cerita misteri seperti itu, gaya bahasanya juga menurutku asyik. Ternyata Satin Merah juga masih masuk dalam genre yang aku rasa sama dengan Rahasia Sunyi. Bedanya, buku ini bikin aku sirik karena penulis yang duet ini menjadi suami istri, berasa romantis punya buku karangan hasil duet sama pasangan :3 hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahaha, itu mah udah rejekinya penulis bisa dapet jodoh ketika duet :))
      aku juga udah baca Rahasia Sunyi *dan belum di review* emang asik ya gaya nulisnya, kadang bikin ketawa juga :)

      Hapus
  2. Settingnya di bandung
    Nadya geulis pisan euy

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...