Rabu, 07 September 2011

Madre


Penulis: Dee
Penyunting: Sitok Srengenge
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan; I, Juni 2011
ISBN: 978-602-8811-49-1
162 halaman

Terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek, ada beberapa yang pernah saya baca di blognya. Belum menjadi penggemar Dee sih sebenarnya karena baru baca Perahu Kertas dan Recto Verso saja, jadi saya tidak tahu bagaimana khasnya, tapi di buku ini ada dua cerpen yang sangat saya suka, sewaktu selesai membacanya saya masih terbayang-bayang betapa indah ceritanya. Ke-13 cerita fiksi itu diantaranya adalah:

Madre
Tansen, laki-laki serabutan, hidupnya berubah ketika tiba-tiba saja dia mendapatkan warisan dari orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Di sebuah toko roti yang mati suri dia bertemu dengan Pak Hadi, orang yang tinggal di "Tan de Bakker" dimana dia adalah kunci dari pertannyaan yang bersemayam di pikiran Tansen. Ternyata warisan yang akan diberikan kepada Tansen adalah Madre yang berumur tujuh puluh tahun. Madre adalah adonan biang, hasil perkawinan antara air, tepung, dan fungi bernama Saccharomyses exiguus. Madre digunakan untuk mengembangakan roti. Madre hanya bisa diwariskan kepada orang yang mempunyai hubungan langsung, tidak sembarangan orang bisa memakainya karena hasilnya tidak akan seenak pembuat "aslinya".Tansen bingung mau diapakan Madre tersebut, dia tidak tahu apa-apa tentang roti. Pak Hadi pun mengajari Tansen membuat roti dengan Madre, cara membuatnya pun tidak sembarangan, harus dengan tangan, katanya biar Madre mengenal tangan sang pembuat. Ada juga istilah "tes tembus cahaya," artinya adonan bisa ditarik sampai terlihat dengan sempurna, barulah adonan ditutup dan dibiarkan mengembang. Tansen pun berhasil membuat roti dengan Madre untuk pertama kalinya tanpa gagal, sebelumnya tidak ada yang bisa kecuali Laksmi, neneknya. Dia menuliskan pengalaman yang ajaib itu di blognya dan siapa sangka, Mei, pemilik bakery ternama selama ini mencari-cari Madre, dia pun meminta bertemu dan ingin membeli Madre. tapi sayang, Madre diwariskan bukan untuk dijual.

Rimba Amniotik
berisi percakapan seorang ibu dengan janin yang sedang di kandungnya, waktu baca agak familier, dan kalau nggak salah pernah baca di blognya. Ada kalimat favoritku,
Sembilan bulan ini mereka bilang aku tengah mengandungmu. Aku ingin bilang, mereka salah. Kamulah yang mengandungku. Seorang ibu yang mengandung anak di rahimnya sesungguhnya sedang berada dalam rahim yang lebih besar lagi. Dalam rahim itu, sang ibu dibentuk dan ditempa. Embrio kecil itu mengemudikan hati, tubuh, dan hidupnya.
Perempuan dan Rahasia
Berisi puisi yang jujur saya tidak mengerti artinya, hahaha, maklum saya tidak suka membaca puisi dan tidak bisa menafsirkannya dengan baik.

Ingatan tantang Kalian
Ini termasuk prosa ya? Yang saya tangkap sih tentang arti persahabatan :)

Have You Ever?
Howard, lelaki seratus persen Indonedia dan Darma, dua belas setenggah persen keturunan Indonesia. Pertemanan yang baru terjalin tiga hari, Howard meminta Darma memandunya ke titik paling utara Benua Australia guna menemukan cahayanya.

Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan
Apa itu cinta? Apa itu Tuhan?
Inilah cinta. Inilah Tuhan.Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa.
Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertannyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.
Wajah Telaga
Puisi atau prosa yang tidak saya mengerti artinya.

Tanyaku pada Bambu
Kelahiran dan kematian?

33
Makna arti dari angka 33, yang khususnya dibuat untuk orang yang sangat spesial bagi penulis.

Guruji
Sedikit bingung dengan cerpen ini, perang batin dengan diri sendiri begitu?

Percakapan di Sebuah Jembatan
Prosa yang bertema kepahlawanan.

Menunggu Layang-Layang
"Hubunganku dengan starla ibarat ritual minum jamu pahit yang ditutup dengan segelas mungil air gula. Ketidak cocokan yang justru berujung pada persahabatan karib."

Chris atau Che: kaku dan hidupnya teratur.
Gini analoginya. Aku suka lukisan. Tapi untuk punya satu, aku bakal berkunjung ke puluhan galeri dulu, baru menentukan pilihan. Nah, kamu itu kolektor. Kamu borong apa saja yang kira-kira bagus, tapi bukan untuk dimiliki. kamu jual lagi barang-barang berharga itu kayak dagang sembako.
Starla: cewek yang suka gonta-ganti pasangan
Hidup kayak robot adalah satu-satunya cara yang kamu tahu untuk melindungi dirimu dari sepi. Kamu takut sama spontanitas. kamu takut lepas kendali. Kamu ingin cinta, tapi takut jatuh cinta. But you know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.
Sebelumnya Chris tidak peduli siapa pacar Strala apa pun profesinya, tapi dia tidak setuju ketika dia pacaran dengan Rako, sahabatnya, Chris tahu kalu Starla tidak akan pernah serius, dilain pihak, Rako sudah siap memperkenalkan Starla ke orang tuannya. Tebakan Chris benar, Rako diputus, Chris pun muak dan tidak ingin bertemu denganya lagi. Tapi Chris tetap datang ketika Strala meminta bantuannya setelah diserang mantannya. Mereka pun kembali seperti dulu.
Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.
Aku ingin jadi layang-layang. Layang-layang itu bebas di langit. Tapi tetap ada benang yang mengikatnya di bumi. Jangan lepasin aku, Che.
Mereka pun saling mengisi kesepian, tapi sewaktu Chirs tau kalau dia jatuh cinta sama Strala, dia mundur. Takut terluka, seperti sahabatnya Rako. Dia tidak ingin menjadi layang-layang.

Barangkali Cinta
Barangkali artinya adalah bagaimana rasanya jatuh cinta :)

Dua cerpen yang sangat aku sukai adalah Madre dan Menunggu layang-layang, suka banget nget. Untuk Madre, nggak habis pikir, idenya kok bisa aja sih, nggak pernah kepikiran kalau roti itu bisa dijadikan cerita yang sangat unik. Madre yang seorang "ibu." Seperti yang dibilang Pak Halaman 12, "Madre itu seperti keluarga sendiri, Madre bukan adonan biasa. Dia hidup." Bagaimana perasaan Pak Hadi sewaktu Madre ingin dijual Tansen, sangat terasa sekali kehilangannya. Selanjutnya cerpen yang tidak bosan saya baca, Menunggu layang-layang. Che, yang hidupnya teratur (satu kopi, dua gula, tiga krimer dan Studio 1, kursi A1) harus menghadapi ketidakteraturan sahabatnya, curhatannya tentang mantan-mantan cowoknya, suka sekali dengan analogi-analoginya.

Bagian yang paling romantis menurutku adalah di halaman 157,
"Aku... memang segitu takutnya... segitu nggak percayanya..." kataku terbata, "tapi, aku sekarat tanpa kamu."

4 sayap untuk Madre dan Menunggu Layang-Layang.

NB: Btw covernya keren, mencerminkan Madre, bernuansa tua dan sebuah kunci, untuk membuka sebuah wasiat.

2 komentar:

  1. baguss, paling suka madre *yaiyalah
    dari buku ini aku baru tau kalo bikin roti biar bisa ngembang itu pake ragi, hehehe :D

    BalasHapus
  2. Jadi ingat temanku beli buku ini karena namanya hampir mirip dg bukunya
    Nama dia madrinovella
    Feeling aku buku ini akan dijadikan film indonesia deh
    Bagus soalnya

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...