Jumat, 05 Agustus 2011

Scones and Sensibility


107511296390352
Penulis: Lindsey Eland
Penerbit: Atria
Penerjemah: Barokah Ruziati
Cetakan: I, Maret 2011
ISBN: 978-979-024-469-6

Satu lagi buku di bulan kemaren yang tidak saya baca seutuhnya, berhenti di tengah-tengah kemudian menskipnya. Saya tidak terlalu suka sama tokoh Polly Madassa, mengingatkan akan sosok artis cilik, Amel. Ya, artis cilik yang kemayu itu, jujur, saya lebih suka anak kecil yang pendiam bukannya cerewet dan suka merecoki orang. Di buku ini saya menemukan satu sosok lagi anak kecil yang menjengkelkan, gara-gara keracunan buku klasik, Pride and Prejudice, Anne of Green Gables dia merasa sudah hebat dalam percintaan, lengkap menjadi perempuan yang lembut dengan membaca "kamus" cinta di usianya yang ke dua belas.

Dengan berbekal pengalaman yang dibacanya, Polly merasa sudah hebat dalam soal percintaan, dia pun menjadi makcomblang untuk orang-orang disekitarnya yang menurutnya belum menemukan cinta sejati, tanpa persetujuan dan sepengetahuan mereka. Korban yang pertama adalah kakaknya sendiri, Clementine yang ingin dijodohkannya dengan Edward pemuda yang kalau saja usianya beberapa tahun lebih muda, sudah pasti di embadnya. Polly merasa hubungan Clemantine dengan Clint tidak sehat, pria itu sering membuat kakaknya menangis dan sikapnya agak kasar,Polly ingin menemukan Mr. Darcy untuk kakaknya, jatuhlah pilihannya pada pemuda yang tak bersalah itu. Selain itu ada dua orang lagi yang ingin dicarikan cinta, ayah sahabatnya Fran, Mr. Fisk dengan Miss Lucy Penny, dan Mr. Nightquist yang rencananya dijodohkan dengan Miss Wiskerton. Polly pun memulai mengobrak abrik hidup orang yang disekitarnya itu pada musim panas disela-sela mengantarkan pesanan kue di toko Madassa Bakery milik orang tuanya.
Saya kasih contoh ke-lebay-an Polly
"Aku tahu benar cara menenagkan jiwa yang resah dan tertekan, Kakakku sayang. Ikutlah denganku dan kita akan bersenang-senang berdua antara ombak laut bergaram! Kita akan berjemur di bawah sinar matahari yang nyaman," kataku seraya meraih tangannya.
Untuk anak yang berusia dua belas tahun dengan gerak dan bahasa seperti orang jaman dahulu kepada kakaknya sendiri? Dia lahir terlalu telat. Saya hanya merasa Polly ini dewasa sebelum waktunya, sejak usia dini dia sudah melahap kisah cinta dan ingin itu menjadi nyata. Tidak jelek bacaan pilihannya, saya pun dari kecil juga sudah dicekoki novelnya Mira W yang untungnya tidak keblabasan seperti si Polly ini (tidak bisa saya bayangkan diriku kalau mirip Polly) tapi dengan menirukan berbicara seperti tokoh-tokoh dalam buku klasik, lebih menyukai lilin daripada lampu, lebih suka memakai rok, dia benar-benar overdosis klasik.
Covernya keren ^^

2 sayap untuk Polly si lebay

4 komentar:

  1. lis, aku juga sebel banget sama si polly. kayaknya kalo punya adik kaya dia udah aku jitakin terus, hahaha...ada beberapa yang lucu sih, tapi overall emang agak nyebelin ya bukunya. cuman covernya yang keren =D

    BalasHapus
  2. Kalo punya adik kayak dia gak betah mb jadi kakaknya, iya, covernya juara yak ^^

    BalasHapus
  3. Aku jg uda baca buku ini, dr awal ampe akhir bikin greget sm tu anak... sok dewasa ah dek ^^

    BalasHapus
  4. Sama aku juga gak suka dg org yg dewasa dari umurnya. Seperti Nikita Willy
    Heran deh knp pengen tua? Aku aja pengen muda ;)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...