Minggu, 21 Agustus 2011

9 Summers 10 Autumns


9_summers_10_autumns-scaled500


penulis: Iwan Setyawan
editor: Mirna Yulistianti
penerbit: Gramedia
cetakan: I, Februari 2011
ISBN: 978-979-22-6766-2
221 halaman

Novel motivasi ini bercerita tentang kisah penulis yang berasal dari kota kecil Batu, Malang, yang sukses menjadi Director Nielsen Consumer Research di New York. Bagaimana suka dukanya penulis menuntut ilmu, perjuangan keluarganya agar penulis bisa sekolah diceritakan secara runtut dan flash back dengan bantuan bocah kecil berseragam merah putih.
Cerita dimulai dari gambaran rumahnya yang berukuran 6x7 meter, hampir tidak mempunyai halaman, berbagi dua kamar tidur, satu ruang tamu kecil sebagai poros kegiatan sehari-hari yang berukuran 2x4,5 meter, satu dapur dan satu kamar mandi. Tidak banyak tawa dan mainan di masa kecilnya, mereka hanya ditemani televisi hitam putih dan lampu redup di ruang tamu, di ruang tamu itu jugalah penulis mulai melukis kehidupannya. Penulis tinggal bersama dengan kedua orang tua, kakek nenek, dan 3 saudara perempuannya. Di rumah munggil itulah cita-cita sederhananya dimulai, mempunyai sebuah kamar tidur sendiri, di lantai dua, di atas dapur.
Cerita bergulir ke masing-masing anggota keluarga. Bapaknya adalah seorang sopir angkot yang hanya bisa mengingat tahun lahirnya, terpaksa putus sekolah sampai kelas 2 SMP karena tidak ada biaya. Ibunya tidak bisa menyelesaikan sekolah sewaktu SD karena penyakit gatal ketika memasuki ujian akhir. Ibunya adalah yang mengatur berapa liter nasi yang harus di tanak tanpa tersisa keesokan harinya, ibunya yang menghadirkan demokrasi di tengah pergulatan hidup.
Ibuku adalah cermin kesederhanaan yang sempurna di mata kami dan kesederhanaan inilah yang menyelamatkan kami. Kesederhanaan inilah yang membangun rumah kecil kami
Kemudian penulis menceritakan saudara-saudaranya. Kakak pertamanya, mbak Isa, pintar dan tulisan tangannya bagus, dia terpaksa tidak bisa melanjutkan ke universitas karena gagal mengikuti UMPTN, dia memberikan les privat dari satu rumah ke rumah lain untuk membantu menyekolahkan adik-adiknya. Kaka keduanya, mbak Inah, paling berani, paling ceria dan jago membaca puisi, saudara terakhirnya, Rini, yang menurut penulis paling mirip dengan dirinya. Setelah menceritakan keluarganya, giliran penulis menceritakan dirinya sendiri, bagaimana kehidupannya sewaktu masih kecil yang termasuk anak rumahan, selalu belajar dengan tekun melebihi teman-temannya dan sewaktu SMA dia memberikan les privat untuk membantu orang tuanya, sampai perahu kecil merubah hidupnya, dia mendapatkan PMDK di IPB jurusan statistika. Kemudian penulis mulai menjalankan "perahu kecilnya."
Pesan moral yang dapat saya ambil dari membaca buku ini adalah kalau kita benar-benar berusaha maka Tuhan akan memberikan jalan. Penulis bertekat, bermimpi ingin mengubah hidupnya, berusa dengan keras menuntut ilmu agar bisa diterima di perguruan tinggi karena kita tahu universitas swasta sangatlah mahal, bukan menjadi pilihan saat itu (bahkan sekarang pun masih). Pengorbanan orang tua dan kakak-kakaknya yang berusaha agar penulis tidak putus sekolah bisa kita jadikan contoh agar kita selalu bersemangat, cari duit itu nggak gampang bok! Saya pernah mengalami sendiri, bukan kisah pribadi tapi sahabat saya, dia pintar dan sangat rajin, dia selalu menjadi tempat bertanya saya, sayangnya waktu SNPTN dia gagal, kisahnya mirip dengan mbak Isa, menjadi anak pertama dan keluarganya tidak sanggup untuk kuliah di swasta, mimpinya menjadi gurupun kandas. Mau sekolah di negeri ini susah.
Lumayan memotivasi, penulis menceritakan kisahnya dengan runtut, sampai dengan keputusan yang dia ambil setelah 9 tahun meraup sukses di kota Big Apple, sayangnya saya tidak terlalu suka dengan hadirnya bocah kecil berseragam merah putih itu, lama-lama bosan, saya berpikir itu replika penulis waktu kecil, atau apalah, kayak terlalu dipaksakan, selebihnya bagus kok. Nasip seseorang itu bisa dirubah, tergantung bagaimana kita merubahnya, mungkin itulah yang ingin penulis suguhkan kepada pembacanya.
Ada beberapa kalimat favoritku,
Aku ingin membangun sebuah kamar kecil, di tanah airku.

Aku tak bisa merubah masa kecilku. Masa kecilku mungkin tak seindah dan selepas mereka, tapi kehangatan di bawah rumah kecilku telah menyelamatkanku. Jalan hidupku mungkin akan berbeda, i would have been so lost, tanpa kesederhanaan ibu, tanpa perjuangan keras bapak, tanpa cinta yang hanagat dari saudara-saudaraku. Memori masa kecil membuat aku bijak dalam mengenal diriku sekarang.

3 sayap untuk Kota Apel ke Big Apple.

2 komentar:

  1. bagus ini bukunya, inspiratif, next: kudu nonton filmnya. ada kak ihsaan :3

    BalasHapus
  2. Akhirnya aku menemukan juga review novel ini diposting mbak Sulis
    Dari kemaren-kemaren cari review ttg novel ini
    Menurutku ceritanya menarik dan inspiratif.
    Meskipun sudah keduluan cerita Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara yg genre-nya mirip, tapi buku ini juga keren kok

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...